1,5 Juta Syi'ah Kashmir Tidak Dapat Dimasukkan ke dalam Cetakan Tunggal

Buku baru dari Hakim Sameer Hamdani melihat sejarah penduduk Syiah Kashmir melalui sudut pandang persaingan Sunni yang membentuk mereka, tetapi juga rekonsiliasi dan kontribusi unik.

Di pusat kota Srinagar, ada masjid bata merah dengan atap hijau miring yang menghadap ke perairan berlumpur Jhelum. Puncaknya yang tinggi terbuat dari bilah kayu kecil, dan dimahkotai dengan finial kuningan berbentuk bulan sabit yang menjulang ke langit. Di sinilah Islam menapaki salah satu langkah tentatif pertamanya di Kashmir pada awal abad ke-14.

Kuil Bulbul Shah atau Sharafu'd-Din. Foto: Twitter/@jameelyusuf

Sayyid Sharafu'd-Din, seorang fakir Uyghur yang menyendiri dari Cina Tenggara (sekarang Xinjiang) telah berkemah di kota itu selama berbulan-bulan. Suatu hari, Sharafu'd-Din diantar ke hadapan Rinchana, pangeran Buddha dari Ladakh yang saat melakukan ekspedisi militer ke Kashmir telah mengalahkan jenderal Hindu terakhir di lembah itu, kemudian mengumumkan dirinya sebagai penguasa baru.

Seperti kisah apokrif, percakapan yang mengasyikkan dengan Sharafu'd-Din memikat bangsawan muda yang mengarah pada inisiasinya ke dalam Islam. Rinchana menggunakan nama baru; Sadru'd-Din, dan menjadi penguasa Muslim pertama Kashmir.

Kisah ini cukup terkenal di Kashmir di mana Bulbul Shah, sebutan Sharafu'd-Din, menonjol di antara jajaran mistikus Sufi yang ajarannya menopang sentimen keagamaan dari populasi Muslim Sunni yang mayoritas di kawasan itu. Tapi yang mungkin kurang diakui adalah bahwa keyakinan Sharafu'd-Din juga mencerminkan kegemaran yang nyata terhadap doktrin-doktrin sentral Islam Syiah.

Sumber informasi ini adalah teks Persia berusia 400 tahun Baharistan-i-Shahi yang pertama kali menceritakan secara rinci pertemuan antara Rinchana dan Sharafu'd-Din, dan diresapi dengan referensi yang memuji Ali Ibn Abi Thalib, yang bagi kaum Syiah dia adalah imam yang pertama.

Hampir 130 tahun kemudian, Khwaja Azam Dedhmari, seorang ahli sejarah Sunni, juga menyebutkan kejadian yang sama dalam Tarikh-i-Kashmir-nya yang terkenal, tetapi menghilangkan semua sindiran kepada Ali, membiarkan versi redaktur dari kisah ini berlaku, yang pada akhirnya mencirikan momen dasar Islam di Kashmir dalam istilah murni Sunni.

Jadi Mengapa Aspek ini Relatif Tidak Dikenal?

Jawabannya mungkin karena sangat sedikit perhatian ilmiah yang menginterogasi perspektif sejarah dari 1,5 juta penduduk Syiah Kashmir. Kesenjangan inilah yang coba diisi oleh buku baru Shiʿism in Kashmir: A History of Sunni-Shiʿi Rivalry and Reconciliation karya Hakim Sameer Hamdani yang ambisius.

‘Shi’ism in Kashmir: A History of Sunni-Shia Rivalry and Reconciliation,’ Hakim Sameer Hamdani, I.B. Tauris, 2022

Hamdani, yang bekerja sebagai Direktur Desain di Indian National Trust for Art and Cultural Heritage (INTACH) J&K, menggunakan manuskrip langka – beberapa di antaranya tidak tersentuh dalam penyimpanan beberapa keluarga Syiah terkemuka di Srinagar. Hasilnya adalah sebuah buku yang sangat banyak akan sumber informasi penting terhadap beberapa aspek-aspek Syiah dalam sejarah Kashmir.

Cuplikan tentang sejarah Islam Kashmir yang diriwayatkan dalam buku ini cukup terbuka; tidak banyak yang tahu bahwa referensi paling awal tentang kehadiran Islam di Kashmir ditampilkan dalam hadits Syiah yang disusun oleh Syekh Yaqub Kulyani. Hadits menggambarkan pertemuan antara kedua belas Syiah 'Imam' al-Mahdi dan Abu Said Hindi, seorang petualang Kashmir yang mengunjungi kota Baghdad pada abad ke-9.

Ada ringkasan kecil tentang permusuhan bersejarah (dan sebagian besar legendaris) antara Syekh Hamza Makhdum (mewakili pihak Sunni) dan Syams-al-Din Iraki (Sufi Nurbakshi Sufi yang memperkenalkan Syiah di Kashmir).

Penaklukan Mughal atas Kashmir – yang masih diingat oleh penduduk setempat sebagai peristiwa traumatis – dijelaskan secara terperinci, karena alasannya berakar pada pertempuran sektarian.

Ini dimulai dengan eksekusi seorang prajurit Syiah Yusuf Inder yang dituduh melukai seorang khatib Sunni di Masjid Jamia dalam pertikaian di antara keduanya.

Masalahnya sampai ke pengadilan kerajaan di mana para ahli hukum senior mempertanyakan putusan dan memerintahkan eksekusi tiga qadi (hakim) yang menandatangani hukuman mati Yusuf Inder. Salah satu hakimnya adalah Musa Qazi – meskipun episode ini terjadi di beberapa waktu kemudian – diperintahkan untuk menyebut nama Ali, Imam Syiah pertama dalam khutbah Jumat.

Dia menolak untuk menurut dan dieksekusi untuk itu, di mana hal tersebut membuat para bangsawan Sunni Kashmir memprotes. Sampai beberapa dari mereka memohon bantuan Akbar yang menggunakannya sebagai dalih untuk melancarkan invasi skala penuh ke Kashmir.

Meskipun tidak banyak yang disebutkan tentang negara bagian Syiah Kashmir di bawah periode Mughal, pemerintahan Afghanistanlah yang kemudian menjadi wadah di mana identitas Syiah, sebagai komunitas yang berbeda dan terkadang bertentangan dengan Sunni mulai menguat.

Warga Afghanistan melepaskan gelombang penganiayaan terhadap Syiah Kashmir. Pada 1788, Zadibal Imambada dihancurkan di bawah perintah administrator Pashtun Juma Khan Alkozi. Pada tahun 1801, gubernur Afghanistan lainnya, Abdullah Khan, mengomandoi gerombolan yang menghancurkan Imambada bersejarah sekali lagi, terlibat dalam penjarahan dan kekerasan seksual terhadap kaum Syiah.

Dihadapkan dengan pembatasan tanpa henti pada upacara ritual mereka, kaum Syiah di Srinagar mulai membangun tah-khana (ruang bawah tanah) di rumah mereka “di mana mereka dapat diam-diam melafalkan marṣiya selama bulan Muharram.” Keputusasaan Syiah Kashmir diartikulasikan dalam tradisi penulisan dan kompilasi marṣiyas.

Keterasingan politik menyebabkan Syiah Kashmir mencari perlindungan dari pedagang Iran yang mengunjungi Kashmir dalam jumlah besar. Ahli kaligrafi Kashmir seperti Muhammad Husain dikenal telah menggambar khat Quran yang indah untuk pelanggan asal Iran.

Rekonstruksi Zadibal Mʿārak pada tahun 1830 diawasi oleh seorang pedagang Iran, Ḥajji Baqir, yang telah menikah dengan keluarga M'ārakdars, pewaris (penjaga) tempat suci tersebut.

Zadibal Imambara. Foto: Facebook.com/iZadibal

Tanggapan lain terhadap kampanye penganiayaan tanpa akhir ditandai dengan migrasi keluar dari Syiah ke negara bagian Awadh – wilayah bersejarah di India utara yang sesuai dengan Uttar Pradesh modern – di mana mereka membangun kehidupan mereka dari awal. Beberapa Syiah yang berpengaruh bahkan mengambil bagian dalam urusan administrasi Awadh.

Sayyid Safdar membantu mendirikan sekolah Usuli Islam Syiah sebagai yurisprudensi resmi di wilayah tersebut. Orang lain seperti Mehdi Khan mendirikan sistem peradilan dan kepolisian di Awadh.

Pada tahun 1819, ketika aturan Sikh menggantikan orang Afghanistan di Kashmir, kaum Syiah menemukan cengkeraman sektarianisme Sunni mulai longgar. Akibatnya, banyak masyarakat yang terpikat oleh gagasan penegasan kembali agama.

Pada hari Asyura tahun 1830, sebuah argumen yang diduga mengenai pembagian batang rumput gajah – yang digunakan untuk menenun tikar – berubah menjadi konfrontasi besar karena para jama'ah Syiah dituduh menghujat tiga Khalifah pertama Islam (penerus Nabi). Hal ini menyebabkan banjir kekerasan anti-Syiah di Srinagar.

Pada awal tahun 1850-an, masalah pencairan khum (kiriman uang) dari Awadhi Shiʿas mengakibatkan perpecahan dalam komunitas Syiah Kashmir. Perpecahan ini terjadi antara aristokrasi Syiah dan penjaga tradisional Zadibal, Mʿārakdars. Pola distribusi yang dikendalikan oleh Rizvi Sayyid, dan kemudian oleh Ansari, mengasingkan Syi'ah Kashmir cabang Musavi.

Perpecahan tersebut mengelompokkan komunitas Syiah menjadi Firqa-i-Qadim dan Firqa-i-Jadid. Kecenderungan perpecahan ini terhenti sebentar pada tahun 1872 ketika isu perihal kekerasan anti-Syiah lainnya pecah di Srinagar.

Kerusuhan ini terjadi di latar belakangi perang Prancis-Persia yang menandakan kehancuran industri syal Kashmir, karena permintaan anjlok sebab konflik di Eropa yang merupakan pasar utama mereka. Krisis ekonomi memicu rasa ketidakpuasan di kalangan pekerja selendang Sunni yang bekerja di kar-khana (pabrik), di mana sebagian besar dimiliki oleh pedagang Syiah.

Namun Hamdani menambahkan bahwa para pedagang Sunni saingan dan pemimpin agama menambah bahan bakar ke dalam api dengan memicu ketidakamanan agama atas isu pembangunan sebuah masjid di dekat tempat suci Madin Sahib di Zadibal, yang menyebabkan meningkatnya ketegangan sektarian dan berakhir dengan pertumpahan darah.

Hamdani menjelaskan bagaimana kekhasan komunitas semakin diperkuat ketika Dogra memasukkan kelas artisanal Syiah ke dalam sistem patronase mereka, mempekerjakan mereka sebagian besar sebagai ahli kaligrafi dan tutor bahasa Persia. Kita juga bisa membaca tentang tabib kepala yang kuat dari raja-raja Dogra yang hampir seluruhnya merupakan Syiah Kashmir.

Namun terlepas dari ini, rasa pemulihan hubungan juga mulai tumbuh saat oposisi Muslim terhadap negara Dogra mulai meningkat.

Salah satu ungkapan pertama dari persahabatan ini tercermin dalam risalah yang diterbitkan oleh Mirwaiz yang dipimpin Anjuman-i-Nusrat-al Islam untuk menandai konferensi tahunannya yang untuk pertama kalinya menggunakan istilah Ahl-i-Tashi yang terhormat bagi masyarakat.

Sekitar waktu yang sama, organisasi reformis Syiah seperti Anjuman Imamiyyah dan Hami-al-Islam juga mulai muncul, yang juga setuju dengan detente antar-sektarian.

Kelompok reformis lain yang bersatu di bawah panji Anjuman-i-Behbudi-Shiyan-i-Kashmir membuat Nauroz terdaftar sebagai Hari Libur Negara. Kelompok yang sama akan memperkenalkan ide shalat Jumat berjamaah – tradisi ritual umum di Sunni – di antara orang-orang Syiah di Kashmir.

Penyelenggara utama kelompok Munshi Ishaq mendirikan surat kabar yang bernama Zulfikar, yang memperjuangkan kepentingan komunitas Syiah (Ditutup oleh Dogra durbar pada tahun 1937). Ishaq menjadi rekan Syekh Abdullah pada tahun 1930-an.

Tapi Anjuman menghadapi serangan balik dari dua pemimpin firqa Syiah dan pada hari shalat Jumat yang diusulkan di Zadibal, kedua belah pihak bertikai. Anjuman dikecam karena kecenderungannya yang "tidak Islami", dan kelompok itu dilupakan.

Pada tahun 1907, langkah menentukan yang menandai penyatuan Syiah dan Sunni adalah petisi yang diajukan atas nama Muslim Kashmir ke negara bagian Dogra. “Selain tokoh Sunni terkemuka kota seperti Mohyi-al Din, Sana-al Lah Shawl, Mukhtar Shah Ashai, dan Sana-la lah Qadri, penandatangan lainnya juga termasuk dua Syiah: Aga Sayyid Ḥusayn Shah Jalali dan Ḥajji Jʿafar Khan, tulis Hamdani.

Ekspresi lain dari kerukunan terlihat pada tahun 1923. Ini adalah pertama kalinya prosesi Asyura dilakukan pada siang hari di Srinagar tetapi para pelayat harus menentang larangan yang diberlakukan oleh negara bagian Dogra.

“Perintah durbar untuk prosesi pagi ditentang oleh Jalali yang didukung oleh Saʿad-al Din Shawl, salah satu (tokoh) Sunni terkemuka di kota itu. Upaya para pelayat untuk melanjutkan ke jalan utama digagalkan oleh polisi, ketika Ram Singh Inspektur Polisi menyita tʿazia (Al-Quran yang dibawa dalam peti mati kecil),” tulis Hamdani.

Oposisi politik yang dipelopori oleh Muslim melawan Dogra hanya akan semakin dalam. Aksi politik paling gencar datang dari Partai Ruang Baca, di antara pendiri aslinya adalah tiga bersaudara dari keluarga Syiah terkemuka di Srinagar; Hakim Ali, Hakim Ghulam Safdar dan Hakim Ghulam Murtaza.

Syi'isme di Kashmir adalah koreksi brilian terhadap narasi mapan tentang Syi'ah Kashmir, yang sebagian besar mencoba membingkai komunitas menjadi cetakan monolitik. Buku Hamdani melukiskan sejarah komunitas ini dengan detail dan meyakinkan kita tentang fakta betapa cairnya komunitas itu sebenarnya.