Ashhabul Ukhdud: Genosida Pengikut Nabi Isa Oleh Yahudi di Najran Yaman

Ashhabul Ukhdud nama peristiwa yang terjadi di Najran Yaman sebelum kelahiran Rasulullah saw. Ini kisah genosida terhadap mukminin pengikut Nabi Isa oleh para pemeluk Yahudi yang diabadikan Al-Qur'an. Para pembantainya, raja Dzu Nawas bersama pembesar dan prajuritnya. Mereka menyaksikan dan menikmati tontonan pembantaian sambil duduk bersama. Jumlah mukminin yang dibantai, menurut Ibnu Hisyam di Sirah Nabawiyahnya, berjumlah  20.000 orang. Bagaimana proses pembantaiannya?

Raja Dzu Nawas memberikan dua pilihan pada mukminin, memeluk Yahudi atau dibunuh. Mukminin memilih untuk dibunuh. Sang raja membuat parit yang dipenuhi dengan lautan api. Mukminin, baik lelaki maupun perempuan, dewasa maupun bayi, seluruhnya dimasukkan ke dalam parit satu per satu untuk dibakar. Ada pula yang dibunuh dengan pedang lalu dicincang. Peristiwa ini diabadikan dalam surat al-Buruj ayat 4-9. Dari peristiwa ini hanya satu yang selamat yaitu Daus Dzu Tsa'laban yang melaporkan peristiwa ini ke Kaisar Romawi.

Pembataian oleh Yahudi Zionis Israel terulang kembali di Gaza. Mereka mengurung rakyat Palestina di Gaza dengan tembok di daerah yang sempit dan padat penduduk. Lalu menghujaninya dengan roket, rudal, peralatan militer berat dan bom fosfor tanpa pandang bulu. Menurut pihak PBB, dalam satu pekan bahan peledak yang ditimpakan sama dengan seperempat bom nuklir. Zionis Israel pun merasa gembira dan menginformasikan keberhasilan penghancuran tersebut ke dunia internasional seperti raja Dzu Nawas dan para pembesarnya yang duduk bersama menyaksikan peristiwa Ashhabul Ukhdud.

Baca Juga : Perang Ahzab: Melawan Kombinasi Perang Kota dan Blokade Total

Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azharnya, menyikapi fenomena Ashhabul Ukhdud dengan berkata, "Pihak yang berkuasa di segala zaman akan mencoba membelokkan iman seseorang atau menukar iman kepada Allah dengan semacam iman yang mereka rumuskan dan mereka wajibkan orang untuk tunduk. Kalau tidak mau tunduk akan disiksa, dipaksa, dibakar, disula, digantung, sekurang-kurangnya mereka dibuang dari negri atau dipenjarakan. Semua sebabnya, hanya karena iman kepada Allah."

Sayid Qutb merasakan fenomena Ashhabul Ukhdud dengan berkata, "Ketika mereka menyalahkan api dan melemparkan orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, sedang mereka duduk di dekat api yang menjadi tempat penyiksaan yang sangat keji. Mereka menyaksikan perkembangan penyiksaan tersebut, dan apa yang dilakukan api itu terhadap jasad-jasad dengan jilatan dan nyalanya. Ini prilaku yang sangat buruk dam busuk."

Bagaimana firman Allah di surat al-Buruj ayat 4 terhadap peristiwa ini?

قُتِلَ اَصْحٰبُ الْاُخْدُوْدِۙ
"Binasa dan terlaktnatlah orang yang membuat parit."

Menurut Sayid Qutb, "Inilah firman Allah yang menunjukkan kemurkaan Allah terhadap perbuatan itu dan pelakunya. Kalimat ini juga menunjukkan buruknya dosa yang membangkitkan kemarahan, kemurkaan, dan ancaman Tuhan Yang Maha Penyantun untuk membinasakan para pelakunya." Bagaimana akhir raja Dzu Nawas yang menyaksikan peristiwa Ashhabul Ukhdud?

Menurut Ibnu Hisyam, pada akhirnya raja Dzu Nawas dihancurkan oleh serbuan pasukan Habasyah yang diperintahkan raja Najasyi. Tak menerima kekalahan tersebut, Dzu Nawas mengarahkan kudanya ke laut. Memacunya dan memasuki lautan dari yang dangkal hingga terus pada yang semakin dalam hingga akhirnya tenggelam di kedalaman laut. Apakah nasib Zionis Israel akan seperti raja Dzu Nawas yang tak menerima kekalahan lalu menghancurkan dirinya sendiri? Sejarah akan terus berulang.