Belajar Tawakal dari Burung

Burung punya satu keistimewaan yang menjadikan ia terpuji dan menjadi contoh buat manusia. Keistimewaan tersebut adalah rasa tawakal yang kuat kepada Allah. Lalu apa pentingnya tawakal?

لو أنكم توكلون على الله حق توكله ، لرزقكم كما يرزق الطير ، تغدو خماصا ، وتروح بطانا
Andai kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia berikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang senantiasa diberi rezeki, ia pergi dalam keadaan lapar di pagi hari dan pulang membawa rezeki di sore hari. – (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam Sahihnya dari Umar bin Khathab. Tirmizi berkata, "hasan sahih")

Sebenarnya burung tak ada kewajiban untuk bertawakal kepada Allah,yang dengannya ia akan diberi pahala atau jika melalaikannya ia berdosa. Burung tidak diberikan beban syariat apa pun. Ia hidup dan selanjutnya mati. Selesai. Tak ada hisab, baik di kubur maupun di akhirat kelak. Tetapi Allah menciptakannya untuk selalu tunduk kepada-Nya dengan diberi wahyu ilham. Dan burung tak pernah sekali pun keluar dari ketundukannya kepada Allah.

Maka lihatlah, bagaimana burung senantiasa bahagia meski tak pernah sedikit pun ada pembaruan dalam hidupnya. Sejakmenetas dengan cara dierami induknya, makan disuapi induknya, selalu berdiam di sarang sebelum bisa terbang. Lalu mulailah ia belajar terbang, keluar dari sarang, mencari makan, kawin, membuat sarang untuk rumah dia dan anak-anaknya, terus begitu, tanpa ada perubahan dari awal penciptaan hingga kelak tiba hari kiamat. Tak pernah kita menyaksikan dan mendengar ada burung yang mengubah tatanan hidupnya. Bahkan sekadar bentuk rumah. Tak pernah ada perubahan sama sekali. Semua sama meski tak pernah ada yang mengajari. Sepanjang zaman terlihat monoton. Tetapi tak pernah ada cerita burung bersedih dan tak pernah ada kisah burung stres.

Tetapi coba tengok diri kita, manusia yang Allah berikan anugerah akal yang setiap saat bisa berpikir dan berkembang. Sudah berapa banyak inovasi dan improvisasi dalam kehidupan kita? Tak mungkin bisa kita hitung. Bahkan banyak Allah ceritakan dalam Al Qur'an, bagaimana perubahan peradaban manusia dari Adam, kaum Nabi Nuh, kaum 'Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth, ashabu Madyan, Fir'aun, dan lain-lain. Semuanya memiliki peradaban masing-masing yang berbeda. Apalagi zaman kita sekarang. Dari baju, kendaraan, hunian, pekerjaan, semuanya sudah berkembang. Jauh sekali jika dibandingkan dengan burung. Maka bukankah seharusnya kita lebih bahagia dari burung? Tetapi mengapa kadang tak bisa?

Sebab, kita tak bisa seperti burung dalam kesenantiasaannya tunduk patuh kepada Allah. Kita tak bisa. Itu saja masalahnya.

Burung, saat ia diberi wahyu ilham untuk menjalani kehidupan yang sudah digariskan dan diatur, maka ia taat, tunduk, patuh, tak pernah sekali pun menyimpang. Maka, dalam ketundukannya kepada Allah, ada kebahagiaan yang Allah berikan sebagai rezeki atas sikapnya tersebut. Meski kehidupannya terlihat monoton, tak pernah ada inovasi dan improvisasi, tetapi ia tetap bahagia. Allah yang membahagiakannya setiap saat,karena Allah ridho dengan sikap tunduk patuhnya.

Ada pun kita, dengan segala inovasi, improvisasi, kemajuan, dan kemodernan dalam kehidupan; kadang tak pernah merasa bahagia. Masih saja merasa kurang ini danitu, masih senantiasa dirundung rasa risau dan kekhawatiran, karena Allah tak memberikan rezeki bahagia kepada kita. Dan itu tersebab kita tak pernah mau taat, tunduk, dan patuh kepada syariat dan aturan Allah. Ketundukan kepada Allah itulah bagian paling utama darisikap tawakal.

Dan seperti inilah gambaran tawakal burung yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menggunakan kata تتوكلون mengisyaratkan tentang waktu bertawakal yang tiada putus, yaitu siapa yang senantiasa dan selamanya bertawakal kepada Allah.

Siapakah di antara kita yang mampu setiap saat bertawakal kepada Allah, sedang hati kita selalu digoda setan agar percaya bisikan-bisikannya? Siapa di antara kita yang setiap saat mampu menepis kekhawatiran? Semisal rasa khawatir tak ditolong oleh Allah? Khawatir doanya tak didengar? Khawatir tak bisa makan? Khawatir tak ada lagi rezeki? Khawatir tak ada jodoh menghampiri? Khawatir terkena bala jika tak percaya mitos-mitos?

Semua kekhawatiran, ketakutan, kerisauan, dan kesedihan tersebut sengaja dibisikkan setan ke dalam hati, agar ia tak lagi mampu bertawakal kepada Allah.

Lalu beliau menggunakan kalimat حق توكله agar kita paham bahwa urusan tawakal kepada Allah tak bisa asal-asalan dan tak boleh main-main. Tawakal harus mampu menyentuh level tertingginya, yaitu sebenar-benar tawakal. Bukan "yang penting tawakal" tetapi hampa dari kehadiran hati dan ketundukan diri. Bukan pula "tawakal alakadarnya", alias tampak bertawakal padahal hatinya kosong dari pengharapan dan keyakinan akan Kemahakuasaan Allah.

Berikutnya, beliau menggunakan kalimat لرزقكم  agar tertanam dengan sangat kuat dalam hati kita bahwa Allah sungguh-sungguh telah memberikan jaminan dan kepastian rezeki jika tawakal kita memang sebenar-benar tawakal.

Terakhir, beliau menggunakan kata يرزق agar kita mengerti bahwa burung senantiasa Allah kasih rezeki alias terjamin kepastian rezekinya,karena ia tunduk patuh kepada Rabb-nya agar senantiasa bertawakal kepada-Nya dengan sebenar-benar tawakal. Ia tunduk patuh dengan perintah keluar sarang di pagi hari, mencari rezeki, dan sore hari pulang memperoleh rezeki.