Co-Creating Pendidikan dan Dakwah
Setiap tanggal 24 Januari, sebagaimana telah ditetapkan oleh Majelim Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), masyarakat dunia memperingati Hari Pendidikan Internasional. Tahun ini, tema yang diusung adalah “The power of youth in co-creating education”. Sebuah tema yang terasa begitu istimewa bagiku.
Sejujurnya, bukan hanya istimewa. Aku bahkan menangkap ada kemendesakkan dalam tema tersebut. Bagiku, tema itu seakan berkata bahwa masa depan pendidikan tak lagi bisa dirancang secara sepihak oleh orang tua, negara, birokrasi, atau elite intelektual, sebagaimana yang sudah-sudah. Ia harus dirumuskan bersama kaum muda!
Di dalam rumusan tema-tema semacam ini, kaum muda sudah terlalu sama diposisikan sebagai “harapan masa depan”, tetapi jarang diakui sebagai aktor masa kini. Mereka dipuji kreativitasnya, dirayakan energinya, namun sering dikecilkan kapasitas kritisnya.
Lazim kita dengan kredo: Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Tema Hari Pendidikan Internasional 2026 ini seakan menggugat kredo tersebut dengan cukup radikal.
Gen Z adalah pemuda dekade ini. Apakah mereka masih berstatus sebagai calon pemimpin? Sama sekali bukan! Mereka adalah aktor perubahan di hari ini. Dan pendidikan yang gagal mengakui fakta ini akan tertinggal jauh dari realitas zaman.
Mereka kerap dipandang lemah oleh para generasi di atasnya. Tetapi Gen Z dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan kesaktiannya.
Di berbagai belahan dunia, Gen Z tampil sebagai aktor utama perubahan sosial-politik. Nepal, Peru, Madagaskar, hingga Indonesia, semua memberi contoh bagaimana kaum muda era ini mendorong perubahan melalui aksi kolektif, gerakan digital, dan mobilisasi sosial yang relatif cair dan non-hierarkis.
Gen Z adalah generasi yang unik. Mereka lahir dan tumbuh dalam lanskap digital, memiliki karakter yang berbeda secara fundamental dari generasi sebelumnya. Mereka adalah digital native, terbiasa dengan arus informasi yang cepat, lintas batas, dan tanpa otoritas tunggal.
Jika Generasi era sebelumnya sangat bergantung pada figur senior, orang tua, atau guru dalam memperoleh pengetahuan, Gen Z justru membangun ruang belajarnya sendiri. Mereka berdiskusi, berdebat, dan membentuk kesadaran berpengetahuan serta sosial melalui jejaring sebaya. Media sosial, platform diskusi, dan ruang digital, menjadi “sekolah alternatif” tempat nilai, ide, dan strategi perubahan diproduksi.
Mereka adalah generasi yang amat melek pengetahuan, berkat interaksi yang intens dengan aneka gadget. Generasi ini menerima limpahan berkah dari banjir informasi dan ilmu pengetahuan. Apa yang diketahui oleh orang tua, guru, dosen, dan para senior, mereka pun tahu!
Di sinilah pesan kearifan dari tema Hari Pendidikan Internasional menemukan momentumnya: Pendidikan tidak lagi bisa dirancang untuk anak muda, tetapi harus diciptakan bersama mereka! Masalahnya jelas, ada banyak hal yang hari ini justru tidak dipahami oleh generasi tua namun sangat dikuasai oleh anak muda!
Tema “The Power of Youth in Co-creating Education” sesungguhnya sejalan dengan spirit dakwah Islam yang transformatif. Pendidikan dan dakwah bertemu pada satu titik; pembebasan manusia dari ketidakadilan, kejahilanan, dan ketertindasan. Sirah nabi memberikan petunjuk tentang ko-kreasi dakwah antara sahabat dari kalangan tua, muda, bahkan yang belia, untuk mencapai tujuan pembebasan itu.
Pesan penting dari tema Hari Pendidikan Internasional tahun ini justru lebih patut diresapi oleh organisasi-organisasi dakwah Islam, entah itu berbadan hukum Ormas ataupun yayasan. Betapa nama besar di zaman dulu tak lagi menjamin minat anak-anak muda untuk mengikutinya. Maka, jangan biarkan aset bangunan, gedung, dan masjid Anda melapuk ditinggalkan anak muda.
Jika pendidikan dan dakwah Islam ingin kembali menjadi kekuatan perubahan, maka keberanian terbesar yang harus diambil adalah berbagi peran dengan generasi muda, mendengar suara mereka, dan bergerak bersama mereka. Bukan karena mereka akan memimpin nanti, tetapi karena mereka telah memimpin hari ini.