Gunung Uhud dan Arti Sebuah Ketaatan

Gunung Uhud berlokasi kurang lebih lima kilometer sebelah utara Masjid Nabawi. Panjang gunung ini berkisar tujuh hingga delapan kilometer. Lebarnya dua hingga tiga kilometer. Dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter.

Persis di samping Gunung Uhud ada sebuah gunung kecil yang bernama Jabal ‘Ainain, namun sekarang akrab dengan sebutan Jabal Rumat, atau gunung Pemanah.

Gunung ini dinamakan Uhud (أحد) karena lokasinya yang terpisah dari kumpulan gunung-gunung yang lain. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa saat perang uhud berkecamuk dan pasukan muslimin terdesak, Rasulullah ﷺ mendaki Gunung Uhud, diikuti oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman seketika Gunung Uhud bergetar, maka nabi bersabda:

اثبُتْ أُحُد؛ فإنما عليك نبيٌّ وصدِّيق وشهيدان
“Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid (maksudnya Umar dan Utsman)”. – HR. Bukhari

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا
“Ini (Gunung Uhud) adalah gunung yang mencintai kami, dan kami pun mencintainya, ya Allah sesungguhnya Ibrahim telah mensucikan kota Makkah, dan akupun mensucikan kota yang berada diantara dua batu hitam (yaitu Madinah)” – HR. Bukhari

Dari atas Jabal Rumat (lokasi yang bisa didaki oleh para peziarah kala berkunjung ke area Gunung Uhud-red), jika kita menghadap ke selatan, terlihat tiga buah gunung, yaitu Gunung Jamma Tadharu’, Gunung Jamma Ummu Khalid, dan Gunung Jamma ‘Aqir.

Gunung Jamma Ummu Khalid oleh Muhammad Hanif / Sabili.id

Diantara dua gunung terakhir tadi, diriwayatkan oleh Musa bin Uqbah, disanalah jalan masuknya kafir quraisy saat hendak mendekati daerah Uhud. Karena memang daerah Madinah dulunya ditutupi oleh perkebunan dan gunung-gunung, dan pintu masuk yang memungkinkan hanya dari bagian utara. Jadi melalui dua gunung tadi mereka melanjutkan perjalanan ke bagian utara mendekati daerah gunung uhud.

Sedangkan bukit datar yang terdapat di samping tiga gunung barusan bernama Bukit Al-’Ayr. Bukit inilah yang menjadi batas tanah haram Madinah bagian selatan.

المدينة حَرَمٌ ما بين عَيْرٍ إلى ثَوْرٍ، فمن أحدث فيها حَدَثًا، أو آوى مُحْدِثًا؛ فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين
“Madinah adalah wilayah suci dari 'Ayr hingga Tsaur (bagian di sekitar belakang Gunung Uhud). Barangsiapa yang membuat suatu perkara yang baru (dalam agama) di dalamnya, atau memberikan perlindungan kepada pelakunya, maka baginya laknat Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan seluruh umat manusia kepadanya” – HR. Bukhari Muslim

Gunung Uhud merupakan saksi sejarah, perang yang terjadi tanggal 15 Syawwal tahun ketiga hijrah. Lokasi peperangan terjadi diantara Gunung Uhud dan Gunung Pemanah. Di lokasi tersebut juga dikuburkan 70 sahabat yang syahid saat Perang Uhud.

Saat ini, dekat pemakaman syuhada Uhud dibangun masjid besar yang bernama Masjid Sayyid As-Syuhada. Dibagian utara dari Gunung Uhud ini ada juga masjid kecil yang bernama Masjid Al-Fash. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ shalat zuhur dan ashar di masjid ini di hari perang Uhud berkecamuk.

Tak jauh dari masjid Al-Fash ada lesung di bagian dinding Gunung Uhud, tempat genangan air setelah hujan. Diriwayatkan bahwa disanalah dahulu Rasulullah ﷺ membasuh luka saat perang Uhud. Sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Syi’b Al-Mihrar.

Syi'b Al-Mihrar oleh Muhammad Hanif / Sabili.id

Mungkin kita sering mendengar bahwa pasukan muslim kalah di Perang Uhud, salah satu sebabnya karena pasukan pemanah tidak taat dengan intruksi Rasulullah ﷺ. Akan tetapi sebagai muslim, selain mengambil hikmah dari "kekalahan" itu kita juga perlu membandingkan kondisi sebelum Perang Uhud dan setelahnya agar kita bisa mengambil gambaran yang utuh atas persitiwa bersejarah ini.

Sebelum Perang Uhud banyak peperangan yang pasukan muslim menangkan. Seperti perang Badr, perang Bani Sulaim, perang Bani Qainuqa', perang Bani Sawiq, perang Bahran, Sariyyah Zaid bin Haritsah, dan lainnya. Jadi, diantara hikmah dari "kalahnya" kaum muslim di perang Uhud agar lebih waspada dan tidak gegabah. Terkadang dengan sering menang, membuat kita lalai dan malah meremehkan.

Begitu juga setelah perang Uhud. Jika kita telaah lebih dalam, pasukan muslim tidak ada yang larut begitu lama dalam kesedihan. Semuanya malah bangkit, dan bersiap menyambut seruan berperang lagi ke Hamra Al-Asad. Dari sini kita bisa menilai, bahwa mental pasukan muslim di kala itu adalah mental petarung.

Berbeda dengan pasukan kafir Quraisy, yang dianggap menang dalam perang Uhud, walaupun sebetulnya mereka tidak mampu membobol benteng Madinah, akan tetapi pasca perang Uhud mental mereka menjadi ciut. Hingga dengan jumlah mereka yang masih begitu banyak dibanding pasukan muslim, tak berani menerima tantangan pasukan muslim untuk berperang kembali di Hamra Al-Asad.

Maka sungguh kemenangan yang hakiki sebenarnya diperoleh oleh pasukan muslim di saat itu, yaitu keberanian membela kebenaran. Hingga Allah memuji sifat ketaatan pasukan muslim kepada perintah Allah dan Rasul-Nya di kala itu.

اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ
“(yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar.” – QS. Ali Imran:172

Semoga Allah ﷻ jadikan kita hamba-hamba Nya yang selalu taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya, serta dikumpulkan saatnya nanti bersama syuhada Uhud di surga-Nya. Aamiin.