Film HAMKA Dibuka Dengan Air Mata

Amin Idris - Jurnalis

Haji Abdul Malik Karim Amrulloh tergolek lemah di tahanan Cimacan Sukabumi. Wajahnya pucat, renta, dengan jenggot dan rambut memutih. Tidak rapih, pertanda lama tak tersentuh gunting.

Dengan mata terpejam, nafas Buya Hamka berdenyut pelan. Sekali menarik dan sekali melepas. Orang tua itu tampak begitu lemah.

Tiba-tiba seorang sifir membuka selnya. Dengan uniform dan sepatu lars yang kokoh, dia membuka pintu lapis kedua sambil mengatakan, “ Hamka, Buya Hamka, isteri dan anakmu datang menjenguk,” kata Sifir angku.

Pertemuan Hamka dengan Umi dan anak-anaknya yang terpisah jarak begitu mengharukan. Tapi bukan pertemuan romantis. Sebagai pujangga, Hamka mahir mengolah suasana pertemuan itu menjadi momen luar biasa.   Kalimat-kalimat Hamka bukan kalimat cengeng.  Ia sukses membuat hati ratusan tersentuh kemudian mata mereka membasah.

Film ini dibuka dengan air mata. Bagian ini pula yang berhasil menunjukkan kelasnya sebagai film yang professional. Meski bagian pembuka ini diambil dari alur cerita episode kedua. Tapi ini sukses membuka film Hamka menjadi gas air mata bagi penonton.

Buya Hamka adalah film yang diproduksi MUI, tergolong film Biografi yang mengangkat sosok Buya Hamka. Film sejenis yang pernah beredar antara lain tentang KH Ahmad Dahlan, Bung Karno, KH Hasyim Asy’ari dll. Film-film ini menghibur, tapi tapi pesan sejarah dominan dan unsur edukasinya kena tanpa menggurui.

Sutradara : Fajar Bustomi, Pemeran Hamka : Vino G Bastian, Pemeran Umi : Laudya Chintya Bella

Film Hamka terbagi dalam tiga volume. Total berdurasi selama tujuh jam. Fokus menceritakan kehidupan sosok Buya Hamka dari kecil hingga dewasa. Di episode pertama, kisahnya memang datar. Sebagai sebuah hiburan, Film ini masih miskin dramatisasi.

Di episode ini Hamka mengisahkan periode ketika Buya Hamka menjadi pengurus Muhammadiyah di Makassar dan berhasil memajukan organisasi tersebut. Verbal dan sedikit menjemukan. Namun sebagai sebuah Biografi, ini bagian dagingnya.

Dari Makasar Buya Hamka diangkat menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masyarakat di Medan. Karenanya ia dan keluarganya harus pindah ke Medan. Sedikit dillematis, apakah harus meninggalkan Muhammadiyah yang telah dibangunnya ?

“Engku telah berhasil membangun dan membesarkan Muhammadiyah di sini, maka sepatunya ada generasi yang meneruskan. Lalu Engku bisa berjuang di melalui Media, sehingga gagasan ide dan semangat perjuangan Engku bisa sampai ke masyarakat lebih luas.” Masukan Umi ini kemudian membuat Hamka pindah ke Medan.

Di Medan Buya Hamka menjadi Wartawan yang da’i, sastrawan, pejuang, dan penggerak perjuangan masyarakat melawan Belanda. Buya pun berperan sebagai politikus. Ada gelora perjuangan yang kental yang kemudian mulai menimbulkan bergesekan. Kantor medianya digeledah diobrak-abrik. Kemudian ditutup. Rumah disambit batu.

Buya diundang ke Singapore oleh Perwakilan Gubernur Jepang. Dilematis bagi Buya. Dipenuhi, maka ia berkeyaninan menjadi syirik karena ada upacara menyembah Kaisar. Tapi jika tidak datang, Maka Muhammadian Sumatra Timur pasti akan dicap sebagai pembangkang terhadap pemerintah Belanda.

Peran perjuangan diplomatic ke Singapore ini melahirkan fitnah besar. Ia dituduh menjilat, berkhianat dan membelot kepada penjajah jepang, dituding menerima banyak upeti. Ia kemudian “dipecat” dari Muhammadiyah. Ini pukulan berat perjuangan Buya Hamka.

Pukulan sebelumnya saat anaknya meninggal dan Hamka tak bisa kembali. “Kalaupun saya Kembali, pasti anak saya sudah selesai dimakamkan.”

Sikap realistis. Kalau bukan tokoh yang keras dan tegar tak mungkin ia bisa melaluinya dengan tenang. Tenang tampak di muka meskipun bathinnya hancur.

Badai fitnah di Medan membuat Buya Hamka dan keluarga kembali ke Padang Panjang. Saat itu, sebagai manusia Buya goyah. Ia merasa hancur, tersisih dan terbuang. Ia tak lagi punya tempat di hati ummat. Dengan amat terharu, Buya berkeluh kesah dengan Umi. Ia tempak nyaris putus asa.

Buya dikuatkan oleh sikap Umi yang lembut tapi jelas. Akhirnya mereka sepakat pindah ke Padang Panjang.

Mungkinkah Buya bisa berdakwah di Padang Panjang ? Masih adakah orang yang percaya dengan dakwahnya ?

Sementara namanya sudah tercemar luas, dianggap sebagai pengkhianat, penjilat Jepang dan dianggap telah menjual rakyat untuk kepentingan pribadi dan berbagai tudingan lainnya.

Film Hamka menjadi tambahan menarik lebaran kali ini. Kalau tahun tahun sebelumnya film lebaran menjadi milik Warkop, Dono, Kasino dan Indro, kini pendulum berbalik ke film lain yang bukan sekadar hahahaha, tapi menghibur mendidik dan memmotivasi. Sebagai hiburan film Hamka enak ditonton.  (*)