Hidup Lagi: Kisah Perjuangan Korban Gaza Menumbuhkan Lahan
Di sebuah sudut sempit di depan tenda pengungsian yang pengap, tempat tanah gersang membentang tanpa ujung dan bau mesiu menjadi aroma yang dihirup sehari-hari, Mohammad Nseir (44 tahun) merajut kembali sisa-sisa hidupnya. Kendati di atas puing kehancuran, ia tak sudi untuk menjadi sekadar angka dalam statistik peperangan.
Mohammad, pria yang dulunya menjalani hidup tenang di Beit Hanoun, Gaza Utara, tak pernah membayangkan bahwa garis takdir akan membawa dia dari ambang kematian yang paling sunyi menuju sebuah kebangkitan yang ajaib. Ia adalah lelaki yang pulang dari "dunia lain" untuk menanam harapan, meski hanya dengan satu kaki tersisa.
Tragedi di "Safe Zone"
Dengan suara tenang yang justru mempertegas kepedihan di baliknya, Mohammad mengenang awal mula horor yang menimpanya. "Saat perang pecah, saya berada di rumah kami di Beit Hanoun. Ketika tank-tank mulai merangsek masuk, saya melarikan diri ke Rumah Sakit Indonesia. Saya pikir, rumah sakit adalah benteng terakhir yang aman," tuturnya.
Namun, Israel berbeda. Buat mereka, seolah semua larangan adalah perintah, dan aturan perang internasional hanya guyon. Israel menyerang sekolah, pengungsian, tempat ibadah, situs budaya, juga rumah sakit!
Dan rumah sakit tempat ia mengungsi itu pun diserbu. Dentuman artileri dan desing peluru menembus dinding-dinding tempat perawatan. Mohammad dan ratusan warga sipil lainnya dipaksa keluar melalui sesuatu yang disebut tentara sebagai "jalur aman". Namun, "jalur aman" itu ternyata jalur maut.
"Saat kami berjalan keluar, jalur itu dibom. Saya terlempar. Tubuh-tubuh lain bertumbangan. Luka saya sangat parah. Saya tergeletak di atas aspal jalan selama berjam-jam, bersimbah darah, di antara mereka yang sudah tak lagi bernyawa," kisah Mohammad dengan nada bergetar.
Keajaiban di Balik Pintu Kulkas
Mohammad terkapar berjam-jam. Ketika relawan akhirnya berani mendekat, Mohammad segera dievakuasi ke Rumah Sakit Kamal Adwan. Di dalam kekacauan medis di mana jumlah jenazah jauh melampaui jumlah dokter, Mohammad dinyatakan telah gugur. Tubuhnya dingin dan tak bergerak. Ia pun dimasukkan ke dalam lemari pendingin jenazah (morgue).
"Mereka memasukkan saya ke dalam lemari pendingin jenazah karena mereka mengira saya sudah meninggal dunia,” kenangnya.
Ketika itu dunia seolah sudah tertutup baginya. Lalu keajiban terjadi.
"Ketika kerabat saya datang untuk mengambil jenazah saya untuk pemakaman yang layak, mereka melihat sesuatu yang mustahil. Saya menggerakkan jari saya dengan sisa tenaga," katanya.
Keajaiban kecil itu memicu kepanikan yang penuh syukur. Saudaranya segera menarik Mohammad keluar dari dinginnya lemari mayat. Lantas ia memanggil dokter.
Mohammad tak sadarkan diri selama berhari-hari. Ia melewati masa kritis dalam kegelapan koma sebelum akhirnya dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser di Gaza Selatan. Di sana, ia terbangun dengan kenyataan baru yang pahit namun harus ia terima: Satu kakinya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya.
Hingga detik ini, serpihan peluru masih bersarang di dalam perutnya. Itu sebuah "oleh-oleh" genosida penjajah Israel. Dokter tak bisa melakukan operasi terhadap Mohammad, karena terlalu berisiko di tengah kekacauan fasilitas kesehatan yang serba terbatas.
Menanam di Tengah Kelaparan Besar
Bagi banyak orang, kehilangan kaki dan membawa proyektil di dalam perut adalah alasan yang cukup untuk menyerah. Namun, Mohammad tak mau menyerah. Di tengah bencana kelaparan yang mulai mencekik Gaza, ia melihat sepetak tanah berdebu di depan tendanya bukan sebagai sisa-sisa kehancuran, melainkan sebagai kanvas.
"Awalnya saya hanya mencoba. Saya menebar beberapa benih tomat di tanah yang kering ini. Tak lama kemudian, saya melihat tunas hijau kecil menyembul dari tanah. Saat itulah saya sadar, jika tanaman ini bisa berjuang untuk tumbuh, saya pun harus bisa," katanya dengan binar mata yang kuat.
Support terbaik datang dari sang istri. Dukungan istrinya menjadi bahan bakar semangat Mohammad untuk mulai mengolah tanah gersang itu. Ia menggali dengan peralatan terbatas. Dengan satu kaki, ia menyeimbangkan tubuhnya di atas kruk, sembari terus bercocok tanam. Perlahan, tomat, cabai, dan terong yang ia tanam mulai rimbun. Ruang sempit yang dulunya tempat pembuangan puing itu kini bertransformasi menjadi oase hijau di tengah padang abu.
Perlawanan Tanpa Senjata
Tantangan yang ia hadapi tidaklah main-main. Tanpa jaringan air yang berfungsi karena telah hancur total dan tanpa akses terhadap pupuk kimia, setiap tetes air yang ia siramkan adalah hasil perjuangan panjang.
"Masalah terbesar adalah air. Saya harus mencari cara untuk menghidupi tanaman-tanaman ini di tengah genosida. Tetapi saya bersikeras. Saya tidak akan berhenti," tegasnya.
Di sebuah tempat di mana kehidupan dikepung oleh blokade dan kehancuran, Mohammad Nseir memilih jalan sendiri untuk melawan. Ia tidak memegang senjata api. Justru yang ia pegang adalah benih. Ia tidak menyerah pada kecacatan fisiknya, tetapi justru menumbuhkan "akar-akar" baru yang memberi dia alasan untuk tetap tegak berdiri.
Kisah Mohammad adalah pengingat bahwa kemanusiaan memiliki daya tahan yang tak masuk akal. Dari dinginnya kamar mayat, ia kembali. Ia kembali untuk membuktikan bahwa selama masih ada tangan untuk menanam dan satu benih untuk ditebar, kehidupan di Gaza tak akan bisa dipadamkan.