IDEAS Prediksi Nilai Ekonomi Kurban 2026 Menurun, Masyarakat Beralih ke Hewan Lebih Murah

Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memprediksi nilai ekonomi kurban nasional pada 2026 mencapai Rp26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor.

Berdasarkan proyeksi IDEAS, jumlah hewan kurban terdiri atas 493,18 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing atau domba. Dari total tersebut, distribusi daging kurban diperkirakan mencapai 99,29 ribu ton.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, mengatakan estimasi itu dihitung menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/kota sebagai proksi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban.

“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan 1/7 sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” ujar Tira dalam keterangannya, Kamis (21/05/2026).

Menakar Dampak Perpres Ojol terhadap Kesejahteraan Pengemudi
Selama lebih dari satu dekade industri ride hailing berkembang di Indonesia, platform digital berhasil membangun valuasi bisnis yang besar dan menarik investasi dalam jumlah masif.

Meski nilainya masih besar, proyeksi ekonomi kurban 2026 menunjukkan pelemahan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai Rp27,10 triliun. Penurunan diperkirakan terjadi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya preferensi masyarakat terhadap hewan berbobot besar.

IDEAS mencatat jumlah sapi kurban diperkirakan turun sekitar 10,17 ribu ekor dan kambing atau domba turun sekitar 3,43 ribu ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut berdampak pada potensi distribusi daging kurban yang berkurang sekitar 1,85 ribu ton.

Menurut Tira, perubahan pola tersebut menunjukkan adanya penyesuaian perilaku konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi domestik. Masyarakat disebut tetap berupaya menjalankan ibadah kurban, namun cenderung memilih hewan dengan harga lebih terjangkau.

“Ini terlihat dari meningkatnya permintaan kambing dan domba dengan bobot 40 kilogram dan 20 kilogram,” kata Tira.

Ia menilai pergeseran tersebut menjadi sinyal awal bahwa daya beli masyarakat mulai tertekan akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, serta harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, IDEAS menilai ibadah kurban tetap memiliki fungsi sosial penting karena dapat memperluas akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat miskin dan rentan. Namun, distribusi daging kurban dinilai masih belum merata di berbagai daerah.

Pertumbuhan Ekonomi, Antara Statistik dan Realita
Jadi, klaim pertumbuhan ekonomi ini bisa dikatakan tidak inklusif karena banyak didorong oleh pariwisata atau aktivitas liburan saat long weekend dan awal libur sekolah yang tidak dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Hanya untuk kalangan menengah atas saja.

Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, sebanyak 163 daerah masuk kategori defisit parah dengan tingkat kecukupan distribusi di bawah 20 persen. Selain itu, terdapat 107 daerah sangat defisit dan 73 daerah defisit pada rentang kecukupan 50–80 persen.

Sebaliknya, surplus terbesar terkonsentrasi di wilayah perkotaan di Pulau Jawa. Kota Jakarta Utara tercatat memiliki surplus sekitar 3.879,25 ton, disusul Kota Depok sebesar 3.644,94 ton dan Kabupaten Sleman sekitar 3.639,37 ton.

Sementara itu, Lampung Timur menjadi salah satu wilayah dengan defisit tertinggi mencapai 473,60 ton dengan tingkat kecukupan distribusi hanya 3,50 persen.

IDEAS menilai strategi kurban nasional ke depan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jumlah hewan kurban, tetapi juga perlu memperkuat tata kelola distribusi agar lebih merata.

“Perlu ada pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan hub pemotongan terstandar, serta penguatan koordinasi antar lembaga agar distribusi daging kurban lebih efektif dan tepat sasaran,” ujar Tira.

Menurutnya, dengan tata kelola distribusi yang lebih baik, potensi ekonomi kurban dapat berkembang menjadi instrumen pemerataan pangan protein sekaligus penguatan solidaritas sosial nasional.