Ikhtiar Kemanusiaan Tenaga Medis di Aceh Tamiang
Pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, Aceh Tamiang masih berada dalam fase pemulihan yang panjang. Aktivitas warga perlahan kembali berjalan, meski belum sepenuhnya pulih. Rumah-rumah dibersihkan seadanya, jalanan masih dilapisi lumpur tebal, dan rutinitas dijalani dengan keterbatasan yang terus membayangi.
Endapan lumpur belum sepenuhnya terangkat. Untuk membersihkannya secara menyeluruh butuh alat berat dengan biaya jutaan rupiah — sesuatu yang sulit dijangkau oleh sebagian besar warga. Akhirnya, banyak yang memilih bertahan dengan kondisi yang ada, sembari menata kembali kehidupan mereka sedikit demi sedikit.
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan akan layanan kesehatan menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Kondisi lingkungan yang belum pulih, aktivitas fisik pascabencana, serta keterbatasan akses fasilitas kesehatan, membuat banyak warga tetap membutuhkan pendampingan medis. Pada titik inilah, peran relawan dan tenaga kesehatan menjadi sangat berarti.
Tim relawan pun hadir bersama para dokter dan tenaga medis untuk menjangkau langsung warga Aceh Tamiang. Mereka mendatangi pasien dari rumah ke rumah, berinteraksi langsung dengan masyarakat, dan memberikan pelayanan kesehatan di tengah kondisi yang jauh dari ideal. Tanpa kemewahan fasilitas, pelayanan tetap berjalan dengan semangat kemanusiaan.
Pengabdian ini tidak berdiri pada satu sosok. Para dokter, relawan medis, dan tenaga pendukung, bekerja bersama dan saling melengkapi peran. Di antara mereka, terdapat dokter-dokter yang telah terbiasa turun langsung ke lapangan, mengabdikan keilmuannya untuk masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah terdampak bencana.
Salah satu pasien yang ditemui adalah Pak Tahir, warga Aceh Tamiang yang mengeluhkan nyeri pada lutut kanannya. Pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan penuh kehati-hatian. Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) menjelaskan kondisi yang dialami pasien tersebut sambil menyiapkan tindakan medis yang diperlukan.
“Pak Tahir dari Aceh Tamiang ini memiliki keluhan lutut kanan sakit. Ini adalah gangguan Osteoarthritis pada lutut, dan ketika sedang nyeri artinya sedang mengalami peradangan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, tindakan dilakukan dengan menyuntikkan obat langsung ke lutut yang bermasalah, sebagai bagian dari upaya mengurangi nyeri dan membantu pemulihan fungsi gerak pasien. Seluruh alat medis yang digunakan dalam tindakan telah disterilkan sejak keberangkatan dari Jakarta. Di tengah keterbatasan lokasi dan kondisi lapangan, standar pelayanan tetap dijaga. Hal ini mencerminkan keseriusan tim medis BSMI dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan pasien, meski bekerja di luar fasilitas rumah sakit yang lengkap.
Bagi para relawan dan dokter yang terlibat, mengabdi di Aceh Tamiang adalah panggilan kemanusiaan. Mereka hadir untuk mendengar, menguatkan, dan memastikan warga tidak merasa sendirian dalam proses pemulihan pasca bencana.
Kehadiran tim BSMI dan para tenaga medis bersama relawan lainnya di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga tentang merawat manusia baik secara fisik maupun batinnya. Di antara lumpur yang belum sepenuhnya kering, pengabdian itu terus berjalan dengan senyap, konsisten, dan penuh ketulusan.
Bencana memang menyisakan keterbatasan, namun kepedulian selalu menemukan jalannya. Selama masih ada relawan, dokter, dan tenaga kemanusiaan yang memilih hadir dan mengabdi bersama, harapan akan terus hidup. Di Aceh Tamiang, pengabdian kolektif ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tumbuh dari kerja bersama yang dijalani dengan hati.
Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.