Ketika Kritik Dibalas Teror

Kritik seharusnya menjadi vitamin, bukan racun. Namun, penghujung tahun 2025 justru memperlihatkan ironi yang getir; kritik atas penanganan bencana dibalas bukan dengan klarifikasi kebijakan, melainkan dengan bangkai ayam, telur busuk, bom molotov, hingga ancaman digital.

Ironi yang memalukan. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia. Tetapi, nilai-nilai demokrasi yang paling elementer sepertinya belum tegak lurus. Kritik dan kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi. Hak untuk memperoleh rasa aman dalam berekspresi juga dijamin oleh Undang-undang. Tetapi negara seperti gagal menjalankannya, sehingga ancaman terhadap rasa aman yang dimiliki oleh para influencer dan aktivis yang sedang menyampaikan kritik, belum ditindak juga.

Entah siapa yang menebar teror. Pastinya, hingga hari ini polisi belum menangkapnya. Padahal Komisioner Kompolnas, Muhammad Choirul Anam keras mengecam tindakan teror tersebut dan meminta polisi segera mengungkap pelaku teror. Korbannya justru bertambah. Teranyar, Guru Besar Universitas Gajah Mada, Zainal Arifin Mochtar, juga dapat teror yang nyaris serupa.

Kelambanan polisi memunculkan sejumlah dugaan liar di tengah masyarakat, mengapa teror ini seperti didiamkan? Padahal ada barang bukti yang ditinggalkan. Bahkan ada rekaman CCTV yang didapatkan oleh masyarakat.

Meluruskan Letak Kemaluan Bangsa
Malu adalah kata sifat. Kemaluan adalah kata benda (merujuk pada bendanya). Kemaluan dibentuk dari kata dasar malu. Menurut KBBI, Kemaluan juga berarti mendapatkan malu, hal malu, atau yang menyebabkan rasa malu. Namun, dua makna terakhir itu tak lagi dimengerti masyarakat.

Beberapa Fakta Lapangan

Siapa aktor Teror tersebut? Jawabnya; bisa siapa saja. Masyakat bahkan boleh berspekulasi dan curiga. Yang tidak boleh adalah langsung menuduh tanpa bukti.

Di dalam rangka membantu pihak kepolisian mengungkap aktor teror kepada para aktivis yang terjadi belakangan ini, ada beberapa fakta lapangan yang mungkin bisa dijadikan alat analisa.

Pertama, korban tindakan teror. Setidaknya ada sejumlah nama pesohor yang menjadi korban: Iqbal Damanik (Manajer Greenpeace Indonesia), Virdian Aurellio (seorang aktivis dan penggiat komunikasi publik), Sherly Annavita (Dosen dan aktivis yang juga hobi ngonten), DJ Donny (selebgram dan kreator konten). Selanjutnya ada Yama Carlos, seorang aktor yang juga aktif di media sosial. Dari sisi profesi, para korban memiliki jenis profesi yang beragam dan tidak saling berhubungan satu sama lain, baik dalam relasi kerja maupun dalam berkegiatan di media sosial. Artinya, para korban tidak dibidik dari sisi profesi tertentu.

Kedua, Teror diterima oleh para korban setelah komentar mereka di media, terkait penanganan bencana sumatera. Barangkali inilah satu-satunya kesamaan yang menghubungkan mereka sebagai korban. Inti komentar mereka sama; kritik dan ketidakpuasan atas penanganan bencana di sumatera dan menyoroti deforestasi sebagai akar masalah munculnya bencana.

Ketiga, para korban umumnya berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Mereka menerima teror dalam kurun waktu yang berdekatan. Pelaku teror bisa diduga berasal dari Jakarta dan sekitarnya, mengingat sejumlah barang bukti ancaman yang tak mungkin dikirimkan dari Aceh.

Bayi Dua Bulan Selamat Setelah Terbawa Banjir dan Tertutup Lumpur
Seorang bayi berusia dua bulan, Fathan, ditemukan masih hidup setelah semalaman terombang-ambing di tengah banjir bandang dan terkubur lumpur separuh badannya. Kisah Fathan adalah alarm yang seharusnya menggugah kesadaran kolektif umat Islam. Ia adalah mandat agama.

Keempat, ada kemiripan pola teror. Misalnya ada pola ancaman yang nyaris seragam; “jaga ucapanmu”, “hapus konten”, “keluargamu terancam”. Alat teror: bangkai hewan, vandalisme, intimidasi digital, ancaman simbolik.

Dengan fakta-fakta itu, nampaknya sulit ditepis bahwa teror ini memiliki pola yang sistematis dengan tujuan yang juga spesifik serta menarget kalangan yang juga khusus; influencer dengan jumlah pengikut yang besar. Di daerah-daerah, banyak video kritik yang senada, tetapi tidak mendapatkan teror, karena kritik itu disampaikan oleh akun-akun yang tidak memiliki jumlah followers yang banyak. Jadi, jelas yang menjadi sasaran adalah para pesohor yang memiliki jangkauan nasional.i

Siapa Dalangnya?

Melihat polanya yang sistematis, teror ini pastilah ada yang mendalangi. Siapa dalangnya? Dan siapa yang diuntungkan?

Menangkap pelaku di lapangan dan mengungkap siapa dalang yang mengatur teror, tentu bukan kewenangan masyarakat atau media. Justru aparat kepolisian-lah yang mestinya menuntaskan ini sebagai tanggungjawab konstitusionalnya.

Tetapi masyarakat luas bisa menduga-duga tujuan teror ini, jika fakta yang sesungguhnya tak bisa segera diungkap oleh pihak yang berwenang. Merujuk pada fakta-fakta lapangan, mungkin teror ini bertujuan agar kasus bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, tidak terekspose secara luas. Ada hal-hal yang ingin ditutupi dari penilaian publik.

Akankah MBG Jadi “Makanan Bermasalah Gratis”?
Akibat sistem pengelolaan yang amburadul dan tak profesional, MBG yang dicanangkan dengan niat baik telah berubah menjadi masalah. Akankah MBG menjadi “Makanan Bermasalah Gratis”? Apakah program ini benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat, atau sekadar proyek citra politik?

Atau bisa juga untuk menciptakan efek jera bagi para kritikus. Media sosial memang menyuburkan tumbuhnya kritikus sosial. Dengan gadget di tangan, siapa pun bisa melakukan kritik. Mungkin dalang pelaku teror adalah orang yang tidak suka terusik dengan kegaduhan kritik sosial.

Bisa jadi juga dalangnya adalah orang yang sedang mengail di air keruh. Ingin membangun opini buruk atas kinerja pemerintah. Meneror oposisi kritis tetapi sebenarnya tengah menggerogoti kewibawaan pemerintah. Bukankah sudah lazim terjadi “Nabok nyilih tangan” dalam budaya politik kita, sebagai warisan langsung dari devide at impera kolonialisme?

Nah, daftar list dalang teror bisa terus bertambah dalam dialog masyarakat di kedai-kedai kopi. Agar syak wasangka ini tidak kian meluas, Kepolisian harus bertindak cepat untuk mengungkap semuanya. Jika polisi lamban atau bahkan mengabaikannya, bisa jadi list dalang pelaku teror bisa ditambah: “Jangan-jangan polisi sendiri dalangnya”. Namanya juga obrolan di warung kopi.

Maka, mari kita dukung Kepolisian untuk menangkap pelaku dan dalang teror ini. Agar gosip politik tidak semakin liar.