Kisah Perjuangan Relawan BSMI Sumatera Utara

Hari pertama kegiatan kemanusiaan BSMI Sumatera Utara berlangsung di Kecamatan Medan Sunggal, tepatnya di Jalan Pinang Baris, Kota Medan. Sebelumnya, hujan deras menyebabkan banjir besar yang datang cepat dan meluas. Air menenggelamkan jalan raya, pasar, dan permukiman warga, hingga kawasan ini berubah menyerupai lautan tanpa batas yang jelas.

Relawan BSMI bergerak menuju pasar di depan Masjid Grand Jami. Dengan perahu karet seadanya, relawan membagikan nasi dan logistik darurat, sekaligus mengevakuasi warga yang terjebak banjir. Arus air sangat kencang dan membahayakan, namun misi kemanusiaan tetap dijalankan.

Di tengah operasi, musibah terjadi. Perahu karet terbalik dan mengalami kebocoran saat membawa lima penumpang. Beberapa relawan sempat hanyut terbawa arus deras. Di dalam kondisi darurat, mereka bertahan dengan berpegangan pada pohon pinang di sekitar lokasi.

Di pohon yang sama, telah bertahan sejumlah warga sejak pukul 08.00 pagi hingga sekitar pukul 16.00 sore. Mereka menunggu pertolongan sambil menghadapi derasnya arus banjir. Pelampung sangat terbatas, tenaga terus terkuras, dan waktu berjalan tanpa kepastian.

Dokumentasi penanganan pasien pascabencana

Menjelang sore, tim Basarnas akhirnya tiba dan melakukan proses penyelamatan. Dua orang yang berada di perahu berhasil dievakuasi dengan selamat. Sebagian relawan lainnya bertahan hingga malam hari. Perahu baru dapat diamankan pada malam hari setelah air mulai surut.

Hari itu, Jalan Pinang Baris di Kecamatan Medan Sunggal menjadi saksi bisu perjuangan kemanusiaan. Jalan raya yang berubah menjadi hamparan air luas dan deras, memaksa aktivitas warga lumpuh dan keselamatan manusia benar-benar menjadi taruhan.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa bencana tidak pernah memilih waktu, tempat, atau kesiapan manusia. Di tengah derasnya arus dan keterbatasan alat, relawan dan warga dipertemukan oleh satu nilai yang sama: keinginan untuk bertahan dan saling menolong.

Kejadian perahu terbalik dan relawan yang hanyut menjadi pelajaran berharga bahwa kerja kemanusiaan selalu berdampingan dengan risiko. Keberanian harus disertai kewaspadaan, dan niat baik harus ditopang kesiapsiagaan serta perlindungan yang memadai bagi relawan.

Warga yang bertahan berjam-jam di atas pohon pinang mengajarkan makna kesabaran dan daya juang. Relawan yang bertahan hingga malam menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak berhenti ketika kondisi menjadi sulit, tetapi justru diuji di saat paling genting.

Banjir ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan panggilan nurani bersama. Ia menegaskan pentingnya penguatan kesiapsiagaan bencana, kelengkapan alat keselamatan relawan, dan kolaborasi lintas lembaga agar tidak ada lagi nyawa yang dipertaruhkan dalam keterbatasan.

Di Medan Sunggal, pada hari pertama banjir itu, kemanusiaan bekerja dalam diam — tanpa sorotan, tanpa keluhan — namun dengan keberanian yang nyata.

Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.