Kita Rindu Pemimpin Seperti Umar
Musim kemarau sedang mencapai puncaknya ketika itu. Udara terasa kering dan panas menyengat. Angin yang bertiup pun tak banyak membantu. Hanya membawa debu dan hawa panas.
Di tengah siang yang panas membakar itu, Utsman bin Affan duduk di rumahnya bersama beberapa sahabat. Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat seseorang berjalan perlahan sambil menuntun dua ekor anak sapi.
Utsman memperhatikan dengan saksama, lalu berkata, “Siapakah orang itu? Menuntun dua anak sapi di tengah hari sepanas ini. Akan lebih baik jika ia menunggu hingga matahari meredup sebelum melanjutkan perjalanan.”
Para sahabat menyipitkan mata, mencoba mengenali. Sosok itu semakin mendekat. Utsman kembali berkata, “Perhatikan baik-baik. Perawakannya tinggi, tegap, dan kuat. Ia sangat mirip dengan Amirul Mukminin, Umar.”
Tak lama kemudian, mereka pun berseru hampir bersamaan, “Benar. Demi Allah, itu adalah Amirul Mukminin!”
Utsman segera bangkit dan beranjak ke luar rumah. Panas terik langsung menyambutnya.
Ia menghampiri Umar dan bertanya dengan penuh heran, “Apa yang mendorongmu keluar pada saat seperti ini, wahai Amirul Mukminin?”
Umar menjawab dengan tenang, “Dua anak sapi ini tertinggal dari rombongan unta sedekah. Aku hendak memasukkannya ke tempat penjagaan. Aku khawatir jika keduanya hilang, aku akan ditanya oleh Allah tentangnya.”
Belum sempat beristirahat, Umar tampak bersiap melanjutkan langkahnya. Ali bin Abi Thalib yang menyaksikan kejadian itu pun bertanya, “Wahai, Amirul Mukminin. Ke manakah engkau akan pergi lagi?”
Umar menjawab, “Masih ada seekor anak unta yang terlepas dari rombongan sedekah. Aku harus mencarinya.”
Ali berkata dengan nada khawatir, “Engkau bisa kelelahan.”
Umar menatapnya dengan penuh kesungguhan dan berkata, “Demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kenabian, seandainya ada seekor kambing yang tersesat hingga ke tepi Sungai Eufrat, Umar akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.”
Setelah Umar berlalu, Utsman dan Ali saling pandang. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana seorang pemimpin memikul amanah bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan.
Ali kemudian mengutip firman Allah, “Bismillahirrahmanirrahim. Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS Al-Qashash: 26)
Di tengah terik yang membakar, tergambar jelas makna kepemimpinan sejati di dalam diri Umar bin Khattab. Ia kompeten, berintegritas, dan tidak pernah meremehkan urusan rakyat. Ia sadar, sekecil apa pun amanah, tetap ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Mari jadikan Ramadhan ini bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai momen menambah iman dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah dalam setiap aktivitas yang kita jalani.