Krisis Pangan, Listrik dan Air Ancam WNI di Sudan

Selasa, 18 April 2023 memasuki hari ke-4 perang antara Tentara Nasional Sudan dengan Paramiliter RSF makin membabi buta. Korban jiwa berjatuhan, tidak hanya dari kedua belah pihak yang berseteru tapi juga masyarakat sipil. Menurut rilis resmi dari Ikatan Dokter Sudan, 144 orang tewas serta 796 korban luka sejak awal perang berkecamuk. Mereka juga mengatakan bahwa fasilitas kesehatan akan segera kolaps dikarenakan minimnya pasokan obat dan alkes yang bisa masuk. Selain warga negara Sudan, warga negara asing juga merasakan dampak yang cukup serius, terkhusus WNI di Sudan.

Ahmad Rifa’i Munthe, seorang mahasiswa asal sumatera utara yang tengah menempuh pendidikan di Khartoum menjelaskan bahwa ia dan keluarganya, yang tinggal di distrik Arkaweet, Khartoum Selatan harus mengungsi ke kontrakan lain dikarenakan sudah 3 hari listrik di rumahnya padam. Tidak hanya listrik, bahkan pasokan airpun sudah habis sejak 3 hari lalu, karena mesin air tidak bisa menyala imbas padamnya listrik secara total. Ia tidak sendirian, ternyata ada 2 orang WNI lainnya yang tinggal satu bangunan kontrakan dengannya yang ikut mengungsi.

“jadi total ada 3 orang bayi, 3 balita, serta 6 orang dewasa yang menungsi” paparnya dalam sebuah wawancara melalui pesan whatsapp.

“Kondisinya makin mengkhawatirkan, karena stok bahan pangan di tempat kami mengungsi makin menipis serta uang Pon Sudan yang kami gunakan untuk membeli kebutuhan juga makin menipis.” Tutupnya.

Hal tersebut diamini Rif’an Ali Hafidz, Ketua PCI Muhammadiyah Sudan kepada kru sabili.id melalui pesan whatsapp. Pria asal Purwokerto yang tengah studi di Sudan sejak 2017 ini menuturkan, bahwa area peperangan sangat dekat dengan kompleks Universitas Internasional Afrika serta kontrakan para mahasiswa di Ibukota Khartoum. Ia melanjutkan, secara umum sebaran mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Ibukota Khartoum terbagi menjadi tiga.

Pertama adalah mereka yang tinggal di luar asrama dengan mengontrak. Mayoritasnya tinggal di distrik Arkaweet yang hanya berjarak kurang dari 3 kilometer dari area peperangan. Lalu yang kedua adalah Mahasiswa yang tinggal di asrama kampus IUA. Yang terakhir adalah mahasiswi IUA yang diungsikan karena lokasi asrama yang bersebelahan persis dengan area perang.

“Jumlah mahasiswi sakit yang mengungsi di Qo’ah Mu’tamarot semakin hari semakin bertambah, karena ruangan didominasi oleh bangku-bangku sehingga banyak dari mahasiswi yang beristirahat dengan posisi duduk, karena minimnya ruang untuk berbaring. Juga karena alat pendingin udara yang dinyalakan sehingga banyak dari mahasiswi mengalami kedinginan ditambah dengan persiapan baju hangat yang minim. Bahkan banyak dari mereka mengalami kecemasan yang berlebihan. Seperti tiba-tiba menangis, gemetar” tutupnya.
Tangkapan layar dari Google Earth lokasi awal perang dan tempat tingga mahasiswa/i /sabili.id

Dalam tangkapan layar yang ditampilkan di atas, kotak hitam menandakan area perang meletus pertama kali. Sedangkan Kotak Merah adalah asrama mahasiswa dan kotak warna hijau adalah asrama mahasiswi Indonesia di Kampus IUA. Adapun warna biru menandakan lokasi Sekretariat PPI Sudan dan mayoritas kontrakan Mahasiswa/i di Sudan.

Abdurrahman, ketua BEM IMI IUA melalui pesan suara yang dikirimkan kepada kru sabili.id mengkonfirmasi perihal diungsikannya mahasiswi Indonesia dari asrama kampu IUA. “Betul, bahwa sejak perang meletus mahasiswi yang tinggal di asrama kampus diungsikan ke Qo’ah Mu’tamarot (Ruang Auditorium IUA-red) karena lokasi perang bener bener berseberangan dengan asrama mahasiswi. Yang artinya bisa menjadikan sangat-sangat berbahaya. Akhirnya pihak kampus berinsiatif mengungsikan mereka ke Qo’ah Mu’tamarot” pungkasnya.

“Mahasiswi (Indonesia-red) yang diungsikan ke Qo’ah Mu’tamarot berjumlah 70 orang mahasiswi. Kami bekerja sama dengan elemen mahasiswa yang ada di asrama kampus IUA atau yang dikenal dengan Syabab Markaz kami menyediakan pengadaan sahur bagi mereka (mahasiswi yang mengungsi-red)”. Lanjutnya.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI Khartoum dalam mitigasi dan kontijensi WNI di Sudan. Ia juga mengapresiasi KBRI Khartoum yang dengan segala keterbatasannya berusaha untuk bisa melakukan tugasnya.

Selain do’a yang terus dilangitkan, ketika ditanya support apa yang bisa diberikan oleh publik Indonesia kepada WNI di Sudan, “tentu support dana ya mas (melalui program lumbung pangan yang kami gulirkan). Karena hingga saat ini ada 785 WNI yang membutuhkan penyaluran logistik”.

Ketika ditanya perihal opsi evakuasi dari pemerintah pusat ia menambahkan, “Jika memungkinan kamipun tentunya ingin segera dievakuasi. Akan tetapi kami melihat secara langsung saat ini hal itu belum memungkinkan. Tentunya kita juga mengharapkan support total dari pemerintah” Tutupnya.

Kru sabili.id juga sudah berkomunikasi dengan Ketua PPI Sudan (Perhimpunan Pelajar Indonesia Sudan) dan ketua PPPI (Perhimpunan Pelajar Putri Indonesia Sudan), namun karena kondisi yang serba darurat dan kondisi fisik serta psikis yang kelelahan dan terguncang mereka meminta izin untuk bisa menjawabnya di waktu yang agak luang. "Saya usahakan segera ya" tulis Melinda, ketua PPPI Sudan melalui pesan singkat. "Izin menjawab besok ya bang, mohon maaf betul mental lagi kurang sehat. Mohon maaf banget bang" tulis Arya, Ketua PPI Sudan.