Memutus Rantai Fatherless: Redefinisi Peran Ayah Menuju Pengasuhan Utuh

Indonesia tengah menghadapi gelombang krisis pengasuhan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai fatherless atau ketiadaan peran ayah. Istilah ini tidak sekadar merujuk pada anak yatim, melainkan menggambarkan kondisi anak yang memiliki ayah secara biologis dan legal, namun kehilangan sosok ayah dalam tumbuh kembang jiwanya. Ya, sebuah paradoks yang menyedihkan, bahwa ayah ada tetapi tiada.

Data menunjukkan urgensi masalah ini. Secara spesifik, 1 dari 6 keluarga di Indonesia menggantungkan nafkah utamanya pada perempuan (Manao et al., 2022). Angka ini bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan indikasi kuat absennya peran ayah baik secara fungsional sebagai penyedia nafkah, maupun secara fisik dalam struktur rumah tangga. Data BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) bahkan menyebut 20,9% anak Indonesia tumbuh dengan figur ayah yang minim keterlibatan (Wihaji, 2025).

Kondisi ini diperparah oleh fakta, meski pun ayah masih terikat dalam pernikahan, ketimpangan pengasuhan masih terjadi. Beban pendidikan dan emosional anak tertumpu hampir seluruhnya pada ibu, menjadikan jutaan keluarga di Indonesia seakan yatim atas figur ayah (Unusa, 2023). Fenomena ini bukan lagi isu domestik semata, melainkan telah menjadi krisis sosial yang mengancam ketahanan bangsa di masa depan.

Memperingati Hari Ayah di Fatherless Country
“Fatherless” adalah sebuah istilah yang menggambarkan masyarakat yang kehilangan figur ayah dalam pembentukan karakter anak. Banyak anak tumbuh hanya dengan kehangatan ibu, tanpa ketegasan dan arahan seorang ayah.

Mengapa Ayah Hilang?

Untuk mengobati penyakit ini harus memahami akarnya. Di Indonesia, fatherless bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan residu dari konstruksi sosial dan budaya yang telah mengakar lama. Salah satu sebabnya adalah pandangan kaku masyarakat mengenai pembagian peran gender. Terdapat dogma tak tertulis bahwa wilayah ayah adalah kantor/mencari nafkah, dan wilayah ibu adalah rumah/mengasuh anak. Konstruksi sosial ini membatasi kewajiban ayah hanya sebatas pemenuhan kebutuhan finansial (Nurmalasari et al., 2024). Akibatnya, ayah merasa tugasnya selesai begitu gaji diserahkan, tanpa menyadari bahwa anak membutuhkan kehadiran, bukan hanya pembayaran.

Budaya kita menuntut laki-laki untuk selalu terlihat kuat, otoriter, dan tidak emosional. Ayah dipersepsikan sebagai figur yang dingin dan berjarak demi menjaga wibawa (Silvanari, 2021). Anggapan bahwa kelembutan adalah sifat eksklusif ibu dan ketegasan adalah milik ayah telah menciptakan jurang komunikasi. Ayah menjadi sosok yang ditakuti, bukan dicintai; dihormati karena jabatannya sebagai kepala keluarga, bukan karena kedekatannya.

Media massa dan budaya pop turut melanggengkan stereotip ini. Di dalam film populer semisal "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI)", sosok ayah dicitrakan sebagai pelindung dan penyedia materi yang bertanggung jawab, namun gagal total dalam membangun kedekatan emosional (Febrianti, 2024). Media pun jarang menampilkan sosok ayah yang luwes mengganti popok, mendongeng, atau menjadi pendengar curhat yang baik, sehingga masyarakat kekurangan role model ayah yang utuh.

Dinamika Kesejahteraan Guru: Mengurai Paradoks Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Di Indonesia, profesi guru hidup dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, ia diagungkan secara moral sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” dan “Pendidik Jiwa (Murabbi)”. Di sisi lain, realitas kesejahteraan mereka terabaikan dalam kerumitan birokrasi dan keterbatasan finansial.

Luka Psikologis Bernama Father Hunger

Absennya ayah bukan tanpa harga. Anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah mengalami apa yang disebut psikolog sebagai Father Hunger, kelaparan akan sosok ayah. Ini adalah kekosongan peran dan ketidakhadiran psikologis yang berdampak pada kehampaan jiwa anak (Nurmalasari et al., 2024).

Penelitian menunjukkan ketidakhadiran ayah berkorelasi dengan rendahnya motivasi berprestasi dan penurunan performa akademik. Anak kehilangan figur otoritas yang mengajarkan disiplin, logika berpikir, dan keberanian mengambil risiko, yang secara tradisional ditanamkan melalui interaksi dengan ayah (Hidayat, 2025).

Anak yang mengalami fatherless cenderung memiliki self-esteem (harga diri) yang rendah. Pada anak laki-laki, hal ini termanifestasi menjadi perilaku agresif atau kenakalan remaja sebagai kompensasi pencarian jati diri maskulin yang hilang. Sementara pada anak perempuan, ketidakhadiran ayah dapat memicu kerentanan dalam hubungan dengan lawan jenis di masa dewasa, mencari kasih sayang pada sosok yang salah karena rindu pengakuan dari figur laki-laki (Zein & Aulia, 2024).

Jihad Seorang Ayah: Memberikan Makanan Halal untuk Keluarga
Menghina perjuangan seseorang dalam mencari nafkah halal sama saja dengan meremehkan nilai ibadah yang ia lakukan. Sebagai masyarakat, kita seharusnya mendukung, bukan mencemooh, mereka yang tengah berjuang di jalan yang benar.

Mengembalikan Ayah ke Rumah

Mengakhiri fatherless membutuhkan revolusi pemikiran. Perlu mendekonstruksi mitos patriarki dan membangun narasi baru tentang keayahbundaan (parenting) yang setara dan kolaboratif. Bagi masyarakat Indonesia yang religius, kembali ke ajaran agama bisa menjadi solusi ampuh. Islam, misalnya, tidak pernah menempatkan ayah sekadar sebagai mesin uang. Al Qur'an justru banyak merekam dialog pengasuhan antara ayah dan anak, seperti kisah Luqman Al-Hakim atau Nabi Ibrahim as.

Semangat nilai-nilai keluarga dalam perspektif Islam menempatkan ayah sebagai pendidik utama dan pengayom (Anwar et al., 2024). Kewajiban menjaga keluarga dari api neraka (QS At-Tahrim: 6) adalah mandat pendidikan karakter yang harus ayah pegang langsung, bukan didelegasikan sepenuhnya kepada ibu.

Ayah harus menjadi sosok yang mampu menyeimbangkan peran publik (nafkah) dan peran domestik (kasih sayang, tarbiyah) (Anwar et al., 2024). Normalisasi peran domestik ayah, semisal memandikan anak, memasak, atau menemani belajar, harus digalakkan. Ini bukan tindakan membantu ibu, melainkan menunaikan kewajiban sebagai orang tua. Keterlibatan ayah dalam ranah domestik mendekonstruksi mitos bahwa pengasuhan akan mengurangi maskulinitas seorang pria (Indra et al., 2023).

Upaya Lingkar Ayah Indonesia Kembalikan Figur Pahlawan dalam Keluarga
Indonesia saat ini menghadapi fenomena berada di peringkat ketiga dalam kategori Fatherless Country di dunia. Fatherless adalah fenomena hilangnya sosok ayah atau hilangnya peran ayah dalam keluarga. Apa sebabnya?

Dari Wacana ke Aksi Nyata

Perubahan pola pikir harus disertai dengan implementasi konkret di lapangan. Langkah sistematis dapat diambil oleh individu, masyarakat, dan pemangku kebijakan. Diperlukan program edukasi yang menyasar para ayah dan calon ayah. Kegiatan seperti Sekolah Ayah atau lokakarya parenting efektif untuk membuka wawasan bahwa kehadiran fisik dan emosional mereka sangat krusial bagi perkembangan sosial-emosional anak (Anwar et al., 2024). Pemerintah melalui BKKBN telah memulai inisiatif seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), yang perlu didukung lebih luas.

Penggunaan karya grafis dan media sosial yang dirancang untuk generasi muda juga dapat menjadi media untuk menanamkan nilai bahwa peran ayah sama pentingnya dengan ibu (Siat et al., n.d.). Konten yang menampilkan sosok ayah yang hangat, humanis, dan terlibat aktif perlu diperbanyak untuk menggeser citra kaku yang selama ini ada (Manao et al., 2022).

Di level keluarga, ayah perlu memecahkan kebekuan komunikasi. Menciptakan situasi kondusi yang reflektif bagi anak dan ayah untuk saling bicara dari hati ke hati sangat diperlukan. Evaluasi kualitas hubungan secara berkala dapat membantu membangun kembali ikatan yang hilang (rebinding) (Manu, 2025). Ayah harus belajar menjadi pendengar aktif, bukan hanya pemberi instruksi.

Tempat kerja dan pemerintah perlu mendukung keterlibatan ayah, misalnya melalui kebijakan cuti ayah (paternity leave). Hal ini memberikan legitimasi bahwa tugas ayah saat anak lahir adalah hadir mendampingi, bukan langsung kembali bekerja.

Anak Stroberi Tak Lahir dari Ayah dan Ibu Durian
Istilah Strawberry Generation menggambarkan generasi muda sekarang yang dianggap rapuh seperti buah stroberi—tampak indah di luar, tetapi mudah rusak saat mendapat tekanan.

Kesimpulan

Fenomena fatherless adalah residu budaya yang menempatkan ayah semata-mata sebagai mesin ekonomi, suatu kesalahan kolektif yang harus segera dikoreksi. Mengembalikan ayah sebagai pendidik, sahabat, dan pengayom adalah kunci untuk mencetak generasi masa depan yang tangguh.

Upaya ini membutuhkan kolaborasi masif, yaitu ayah yang mau berubah, ibu yang mendukung pelibatan suami, masyarakat yang berhenti memberi stigma, serta negara yang memfasilitasi kebijakan. Dengan implementasi edukasi dan perubahan paradigma, semoga dapat bergerak menjadi bangsa dengan ketahanan keluarga yang kokoh, di mana tidak ada lagi anak yang merasa yatim meski ayahnya masih ada.

Daftar Pustaka Anwar, R. N., et al. (2024), "Strategi Penguatan Peran Ayah dalam Keluarga", Jurnal Pendidikan Keluarga.

Febrianti, S. (2024), "Representasi Ayah dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini: Analisis Semiotika", Jurnal Ilmu Komunikasi.

Indra, D., et al. (2023), "Dekonstruksi Budaya Patriarki dalam Pengasuhan Anak", Jurnal Sosiologi Indonesia.

Manao, G., et al. (2022), "Analisis Fenomena Fatherless di Indonesia: Tinjauan Ekonomi dan Sosial", Jurnal Kesejahteraan Sosial.

Manu, A. (2025), "Refleksi Hubungan Ayah dan Anak: Membangun Kembali Ikatan yang Hilang", Jurnal Psikologi Terapan.

Nurmalasari, Y., et al. (2024), "Dampak Ketidakhadiran Psikologis Ayah terhadap Perkembangan Emosional Anak", Jurnal Psikologi Perkembangan.

Siat, A., et al. (n.d.), "Media Grafis sebagai Sarana Edukasi Peran Ayah bagi Pemuda", Jurnal Desain Komunikasi Visual.

Silvanari, T. (2021), "Komunikasi Interpersonal Ayah dan Anak dalam Budaya Patriarki", Jurnal Komunikasi.

Unusa. (2023), "Ketimpangan Pengasuhan dalam Keluarga Indonesia", Unusa Press.

Hidayat, R. (2025), "15.9 Million Children in Indonesia Experience Father Absence", Universitas Gadjah Mada News.

Wihaji. (2025), "Indonesia Tackles 21% Fatherless Rate with New Parenting Initiative", BKKBN & ANTARA News.

Zein, R., & Aulia, F. (2024), "The Impact of Fatherlessness on Independence and Interpersonal Relationships in Early Adult Women", Pubmedia Journal Series