Mengusik Media sebagai Aktor Ideologis dalam Pembebasan Al-Aqsha di Tengah Pertarungan Informasi Global
Di dalam isu Palestina dan Masjid Al-Aqsha, medan perjuangan tidak hanya berlangsung di wilayah konflik, tetapi juga di ruang informasi global. Cara dunia memahami Al-Aqsha sangat ditentukan oleh bagaimana media massa membingkai peristiwa: sebagai konflik biasa, atau sebagai penjajahan yang melahirkan krisis kemanusiaan berkepanjangan. Di titik inilah, media berperan sebagai aktor ideologis yang memengaruhi kesadaran dan opini publik internasional.
Tema tersebut mengemuka dalam Talkshow Media dan Peluncuran Buku “Jihad Ma’rifi dalam Pembebasan Masjid Al-Aqsha & Palestina”, yang digelar dalam rangka Milad ke-13 Kantor Berita MINA, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Saruma Genius Youth Camp 2026 Dorong Pelajar Berprestasi Halmahera Selatan Jadi Generasi Berdampak
Di kesempatan itu, Pemimpin Umum Kantor Berita MINA, Arief Rahman, mengemukakan, ia berharap forum tersebut melahirkan keberanian berpikir bagi jurnalisme dakwah yang tidak tunduk kepada logika viral dan algoritma semata. Di sisi lain, ia menilai tantangan utama media hari ini bukan terletak pada keterbatasan teknologi, melainkan pada krisis orientasi jurnalistik.
“Popularitas sering kali menghalangi kredibilitas, dan kecepatan justru mengorbankan ketepatan,” katanya. Pandangan tersebut diperkuat oleh Kaprodi Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Asep Setiawan. Menurut dia, berita merupakan kebutuhan publik yang bersifat mendasar.
“News itu kebutuhan publik, layaknya udara. Manusia perlu menghirup informasi yang bersih,” ujarnya.
Asep menjelaskan, perang informasi modern menguat sejak invasi Amerika Serikat ke Irak. Ketika itu narasi media digunakan sebagai instrumen legitimasi politik. Di dalam konteks Palestina dan Al-Aqsha, perang informasi serupa pun terus berlangsung. Karena itu, ia menolak klaim netralitas media.
“Media tidak boleh netral. Media harus mem-framing realitas sesuai kebutuhan dakwah dan kemanusiaan, tentu dengan prinsip jurnalistik yang benar,” tegasnya.
Bedah Buku dan Pameran di Bulan Solidaritas Palestina 2025, Bentuk Perjuangan untuk Baitul Maqdis
Ia menambahkan, jurnalisme yang berlandaskan nilai Islam harus berpijak pada prinsip tabayun (verifikasi), sidik (kejujuran), hikmah (kebijaksanaan), amanah, dan rahmat. Informasi tidak cukup berhenti pada penyajian fakta, tetapi harus mampu menggugah kesadaran dan empati publik global terhadap penderitaan rakyat Palestina dan ancaman terhadap Masjid Al-Aqsha.
Sementara itu, Direktur Indonesia for Peace & Humanity (IPH), dr. Sarbini Abdul Murad, menegaskan bahwa media harus memiliki ideologi yang jelas dalam membaca persoalan kemanusiaan. “Media bukan hanya memberi informasi, tetapi menggiring publik pada solusi,” ucapnya, seraya menilai, banyak pemimpin dunia memahami masalah Palestina, namun gagal menawarkan jalan keluar karena lemahnya tekanan opini publik internasional.
Sementara itu, dari perspektif kebijakan global, Dr. Mohamad Hery Saripudin dari Indonesian Council on World Affairs (ICWA) menjelaskan, media memiliki posisi strategis dalam relasi kekuasaan global. “Media bisa menjadi instrumen yang dimanfaatkan pemerintah atau diplomat, tetapi media juga bisa menjadi aktor itu sendiri,” katanya.
Maemuna Center Kirim Tim ke Gaza, Langkah Awal Pembangunan RSIA
Namun demikian, Hery memberi batas yang realistis terhadap peran pers. “The power of media hanya sebatas menyampaikan dan menekan opini. Perubahan kebijakan bukan tugas media,” tuturnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa melalui fungsi agenda setter, pressure group, dan penjaga isu agar tetap berada dalam sorotan, media memiliki peran penting dalam membentuk biaya politik dan moral di tingkat global, termasuk dalam isu Palestina.
Talkshow ini pun menegaskan bahwa dalam isu Al-Aqsha dan Palestina, media berperan sebagai pelapor sejarah, saksi sejarah, sekaligus aktor sejarah. Maka, media dituntut berpihak secara sadar, bekerja profesional, berlandaskan nilai, serta bertanggung jawab terhadap kemanusiaan.
Di tengah banjir informasi global, forum ini mengingatkan bahwa tanpa nilai dan keberanian ideologis, media hanya akan menjadi mesin pengulang narasi kekuasaan. Sebaliknya, dengan jurnalisme yang berakar pada pengetahuan, etika, dan keberpihakan yang sadar, pers dapat menjadi bagian dari jalan panjang pembebasan Masjid Al-Aqsha melalui pembebasan kesadaran dunia.