Menyembelih Berhala Cinta

Teman, tahukah engkau betapa cinta kerap menjelma menjadi berhala? Aku tahu, kita bukanlah penganut paganisme, namun tanpa kita sadari ada berhala yang diam-diam menyelinap di altar batin kita masing-masing. Ia menyusup pelan, bertahap, lalu menyelimuti segenap relung dan lembah batin kita seperti malam yang melingkupi bumi.

Ia dengan angkuh bertahta di hati kita. Secara formal dan sosial, mungkin seseorang dikenali oleh sesamanya sebagai muslim, namun bukan Allah yang mengisi setiap sudut hatinya. Cintanya pada selain Allah-lah yang justru menjadi berhala, yang mungkin lebih besar dari Hubal, berhala terbesar kebanggaan kafir Qurays!

Hubal yang bersemayam di arsy hatimu dan hatiku bisa terbentuk dari kecintaan yang amat sangat, takut yang teramat dalam, harap yang terlalu tinggi, kepada apa pun selain Allah azza wa jalla. Sesuatu selain Allah itu amat kita cintai. Kita takut kehilangan atau ditinggalkannya. Kita pun menggantungkan semua harapan padanya, hingga obsesif.

Cinta yang amat sangat itu bisa saja pada pangkat dan kedudukan politik. Bisa juga pada harta dan perniagaan. Bahkan bisa pula cinta kita kepada istri dan anak-anak yang kita banggakan.

Lalu cinta yang semakin besar itu menjadi energi gerak, sumber motivasi, dan menjadi orientasi hidup. Pada akhirnya, ia menjebak kita pada pemujaan. Selangkah kemudian, tanpa mengubah status identitas kependudukan kita sebagai muslim, terseretlah kita pada jurang penyembahan terhadap sesuatu yang kita cintai itu!

Kita masih shalat, tetapi shalat kita mungkin tidak lagi li robbi. Melainkan sekadar untuk mendapatkan poin dari konstituen politik kita dalam rangka mengekalkan cinta kita pada pangkat dan kedudukan politik. Allah yang mestinya menjadi mabda’ atau sumber nilai dan pandangan dasar, sebagai manhaj atau cara-prosedur dalam mencapai sesuatu, dan ghayat atau ending dan tujuan akhir atas apa pun yang kita ihtiarkan, pada akhirnya akan tergeser oleh berhala cinta kita kepada pangkat dan kedudukan politik itu.

Cintamu kepada istrimu teramat sangat, sehingga istri menjadi orientasi hidup, sumber inspirasi, dan motivasi terdalam. Bahkan kau ikuti semua keinginannya, sehingga engkau berpaling dari Allah sebagai orientasi dan sumber inspirasi. Kau lebih utamakan panggilan istrimu daripada panggilan Allah. Demi Allah, waspadalah! Di saat itu, hatimu telah menjadi kuil tempat bersemayam Dewi Amor!

Maka, di bulan Zulhijjah yang mulia ini, aku sekadar ingin mengingatkan diriku dan dirimu, wahai sahabat. Tentang sosok Al-khalil Ibrahim Alaihissalam. Ia digelari sebagai khalilullah, kekasih Allah. Sebab, ia lolos dari jebakan berhala cinta. Ia mampu melepaskan diri dari belenggu cinta yang paling dahsyat. Cinta kepada orang tua, cinta kepada istri, dan cinta kepada anaknya, yang harus ia sub-ordinasikan dalam cintanya kepada Allah azza wa jalla. Ibrahim menjadi kekasih Allah, karena ia mampu menempatkan secara benar prioritas cintanya. Ia mencintai yang lain dalam taat dan patuhnya kepada Allah rabb semesta alam.

Kalian mungkin masih ingat, bagaimana patung-patung dibikin hancur oleh Ibrahim. Sesungguhnyalah ia tak hanya menghancurkan berhala milik kaumnya, dan mematahkan semua argumen jahil elit penguasa waktu itu tetapi ia juga tengah menghancurkan berhala cinta di dalam hatinya. Cinta kepada wali atau orangtuanya, yang bisa menghalangi cinta dan kepatuhannya kepada Allah azza wa jalla.

Ayahanda Ibrahim adalah pematung dan pemasok penting berhala bagi kuil kaum Namrudz. Ibrahim telah mengingatkan ayahnya tentang kekeliruannya itu. Namun, mereka berselisih dalam keyakinan. Ibrahim yang hanif tidak terjebak dalam dilema. Ia tahu ayahnya bagian dari elite agama kaumnya, tetapi amanah Allah harus ia tunaikan.

Berhala ia hancurkan sembari menepis belenggu cintanya kepada sang ayah yang berpotensi menjadi ganjalan dalam prioritas cintanya kepada Allah. Tidak ada keraguan, antara menjaga reputasi sang ayah dengan meninggikan kalimat Allah. Ibrahim memilih risiko dimusuhi ayahnya dalam ketaatannya kepada Allah.

Pun demikian saat cintanya kepada sang istri harus ia korbankan di hadapan cintanya kepada Allah. Bagaimana posisi istri di dalam hati suami? Ada baiknya kita pinjam terminologi Jawa yang menyebut istri sebagai garwa. Disebut garwa karena makna istri bagi pria Jawa adalah “Sigaraning nyowo” yang kalau diartikan adalah belahan jiwa/nyawa.

Suami mana yang hatinya tak diliputi rasa sayang terhadap istri yang baru saja melahirkan anaknya? Apalagi kehadiran anak itu telah dinanti puluhan tahun? Siti Hajar baru saja melahirkan Ismail. Lalu perintah itu datang kepada Ibrahim, agar membawa keluarga kecilnya menuju gurun tandus tanpa kehidupan. Bahkan air sebagai syarat utama kehidupan pun tak ditemui di lembah itu.

Lembah tandus yang saat itu dikenal sebagai Bakkah yang dikemudian hari dikenal menjadi Makkah al-Mukaromah. Ismail kecil masih dalam gendongan. Masih menyusu pula. Ibrahim membawa dua belahan jiwanya itu menuju padang tandus tersebut melalui perjalanan yang sungguh tak mudah.

Begitu sampai di lokasi yang sepi, gersang, tanpa pepohonan dan rerumputan, Ibrahim diminta meninggalkan istri dan anaknya di tenda yang baru saja ia tegakkan. Perintah yang pastinya mendatangkan ribuan galau di hati suami. Seperti diminta membetot pepohonan yang telah berakar dan menghujam di kedalaman hati. Berat tiada terkira. Saat ia cabut juga perasaan itu, ada perih yang tiada terperi, lubang luka yang tak mengeluarkan darah, tetapi menjadikan bola mata seperti danau yang tergenangi air mata!

Ibrahim berlalu dengan tertunduk. Gerangan penjelasan apa yang bisa ia berikan kepada istrinya. Ia tak pernah bisa menjawab, “Mengapa engkau tinggalkan kami di lembah tak bertuan ini?”

Sampai kemudian, istri yang ditempa oleh kesalehan dan kuatnya iman sang suami itu terilhami kearifan spiritual yang dahsyat. Ia mengubah pertanyaannya. “Apakah ini perintah Allah?”

Barulah Ibrahim bisa menganggguk. Dia pun berlalu. Meninggalkan anak dan istri untuk memenuhi panggilan dan perintah Allah. Cinta seorang suami kepada istri dan anaknya, adakah yang lebih kuat dari itu? Sedangkan suami bahkan rela mati untuk melindungi istri dan anaknya.

Ibrahim al-khalil sekali lagi lolos dari belenggu berhala cinta. Ia memilih cintanya kepada Allah. Ia yakin sepenuhnya, Allah tak akan menyengsarakan anak dan istri yang ia tinggalkan dalam rangka memenuhi panggilan-Nya.

Tetapi ujian cinta itu belum juga berakhir. Ia harus menyembelih putranya yang telah beranjak besar. Putra yang sebelumnya ia tinggalkan sedari bayi. Ketika ia datang untuk menjenguk, bukan hanya setangguk rindu yang ia bawa. Mungkin samudera rindu, yang dalam, tenang, dan siap meluap.

Ayah mana yang tega menyembelih anaknya? Tetapi perintah Allah itu begitu jelas. Tak ada pilihan bagi sang khalilullah. Maka ia bulatkan hatinya untuk menunaikan perintah yang berat ini. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tentu tak berlaku semena-mena. Bulatnya tekad Ibrahim untuk melaksanakan perintah-Nya cukup menjadi bukti, bahwa Ibrahim sungguh amat sangat cinta dan taat kepada-Nya.

Begitulah kawan. Allah ingin menunjukkan kepada kita, kaum muslimin, melalui kisah ini, agar mampu menjadikan Allah sebagai prioritas cinta. Mampukah kita menyembelih berhala cinta yang bersemayam di hati? Seperti yang Ibrahim ajarkan, jangan sampai cinta dunia dengan aneka ragamnya memberhala lebih lanjut di hati kita masing-masing.