Para Pembaharu Gerakan Dakwah Indonesia
Bicara tentang dakwah di Indonesia abad 20 tak bisa dilepaskan dari para tokoh dan organisasi yang berhaluan reformis. Bahkan, di masa penjajahan, semangat kebangsaan Indonesia lahir dari rahim para pembaharu gerakan dakwah di Indonesia (dulu Hindia Belanda).
Tokoh-tokoh umat Islam semisal HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Surkaty, hingga tuan Ahmad Hassan, dan lainnya, tampil menjadi motor pergerakan untuk keluar menentang penjajah yang sewenang-wenang. Hal itu dikarenakan mereka ingin menyadarkan umat agar bangkit dari keterpurukan, kejumudan, dan ketertinggalan.
Organisasi Pembaharu
Di Indonesia, ada beberapa organisasi Islam yang membawa arus pembaharuan Islam dan sampai hari ini masih eksis di dalam dunia dakwah tanah air. Di antaranya adalah:
Muhammadiyah
Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang lahir pada 18 November 1912 di kampung Kauman, D.I. Yogyakarta. Pendirinya adalah seorang ulama revolusioner bernama Muhammad Darwisy yang dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan.
KH Ahmad Dahlan punya peran sangat penting. Beliau memiliki pemikiran yang maju untuk umat pada zamannya. Bersama Muhammadiyah, pemikiran beliau itu lantas melahirkan rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, pesantren, dan lainnya. Atas perannya itu, negara memberinya gelar Pahlawan Nasional.
Al-Irsyad Al-Islamiyah
Al-Irsyad Al-Islamiyah adalah organisasi Islam yang didirikan oleh seorang ulama kenaaman asal Sudan bernama Syaikh Ahmad Surkaty di Batavia (sekarang Jakarta). Syaikh Ahmad Surkaty turut andil dalam melawan penjajah lewat pendidikan Islam yang beliau konsepkan. Dari konsep beliau, lahirlah banyak tokoh terkemuka di Indonesia, semisal Prof. Rasjidi; KH Ahmad Dahlan; KH Farid Ma'ruf; Ahmad Hassan; M. Yunus Anis; Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy; KH Zamzam; AR. Baswedan; dan tokoh lainnya.
Meski pun Syaikh Ahmad Surkaty tidak lahir di Indonesia, tetapi kecintaan beliau kepada Indonesia begitu besar. Bukti kecintaan itu adalah ucapannya, "Aku (Syekh Surkati), merasa telah bertahun-tahun berkecimpung memimpin Al-Irsyad di Indonesia. Bahwa tiap-tiap dzarrah (atom) dari badan saya telah berganti dengan unsur-unsur Indonesia. Aku akan tetap hidup di Indonesia sampai akhir hayatku." (Hussein Badjerei, Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, 1996:64).
Persatuan Islam (PERSIS)
Persatuan Islam (PERSIS) adalah organisasi Islam yang dilahirkan di kota Bandung, Jawa Barat, tahun 1923. Organisasi yang digawangi tuan Ahmad Hassan ini menjadi salah satu motor penggerak dakwah pembaharu di Indonesia selain Muhammadiyah dan Al-Irsyad Al-Islamiyah.
Lewat pendidikan Islam (Pendis) yang dikonsep oleh salah satu Pahlawan Nasional bernama Mohammad Natsir, Persatuan Islam (PERSIS) menjadi organisasi yang cukup disegani dalam dunia pendidikan, terutama pesantren. Sampai hari ini, Persatuan Islam (PERSIS) memiliki ratusan pesantren di seluruh wilayah Indonesia, dengan tujuan turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Peran
Sepak terjang tiga organisasi Islam reformis itu sangat luar biasa. Peran mereka tidak bisa dikesampingkan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari ketika negeri ini belum merdeka, tiga organisasi tersebut sudah melakukan perjuangan untuk memerdekakan Indonesia, melalui dakwah, pendidikan, sosial, serta kesehatan.
Muhammadiyah mendirikan banyak perguruan tinggi, rumah sakit, hingga pantai asuhan gratis. Al-Irsyad Al-Islamiyah banyak melahirkan sekolah-sekolah madaris untuk masyarakat banyak. Dan PERSIS mendirikan banyak pondok pesantren hingga perguruan tinggi sampai hari ini.
Semoga ke depannya ketiga organisasi Islam itu terus istiqamah dan berlanjut, bahkan bisa meningkat setiap tahunnya, hingga ikut berkontribusi untuk terbentuknya generasi emas 2045 yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia.
Kesimpulan
Peran dan perjuangan para tokoh dan organisasi Islam begitu besar terhadap proses berdirinya negara Republik Indonesia. Al Fatihah untuk para pendahulu. Aamin Ya Rabb.
Kini, dunia berkembang dinamis dan sangat cepat berubah. Umat Islam mau tak mau harus ikut juga dalam arus perubahan. Jangan sampai umat Islam berdiam diri dan menjadi penonton tanpa ikut berkontribusi terhadap perubahan. Selama perubahan itu tidak keluar dari koridor syariat Islam, sudah selayaknya kita sebagai muslim "reformis" ikut andil dalam perubahan itu.
Maka, sudah saatnya kita sebagai generasi penerus bangsa turut andil meneruskan perjuangan ulama-ulama terdahulu, tentu dengan peran masing-masing. Semoga kita bisa mencontoh apa-apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu tersebut. Atau bahkan bisa melampaui. Aamiin.