Resensi Buku Tasauf Moderen

Judul Buku : Tasauf Moderen

Penulis : Prof. Dr. Hamka

Penerbit : Pustaka Panjimas

Tahun Terbit : 1990

Dalam banyak kajian, anak-anak muda terutama bagi mereka yang baru hijrah kerap dibuat bingung soal tasawuf dalam Islam. Ada beberapa ustadz yang antipati, sementara yang lain mengajarkannya. Menyimak kembali karya klasik ini nampaknya menjadi penting bagi kalangan muda muslim untuk menjembatani pemahaman tentang tasawuf.

Prof. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa kita kenal dengan Hamka membuka pembahasan buku dengan menjelaskan secara umum mengenai tasawuf. Tasawuf memiliki banyak arti, ada yang mengartikan sebagai perdebatan ahli kalam. Ada yang mengartikan sebagai shifa’ yaitu suci bersih. Adalagi yang mengartikan sebagai shuf yaitu bulu binatang karena orang orang ini benci bermegahan. Adalagi yang mengartikan sebagai shuffah yakni sahabat Nabi menjauh dari keramaian dan menetap di samping Masjid Nabawi. Para ahli mutakhirin mengatakan tasawuf berasal dari bahasa Yunani yang berartikan theosofi atau ilmu ke-Tuhanan yang diserap ke bahasa Arab menjadi tasawuf.

Menurut Ibnu Khaldun tasawuf adalah ilmu syariah yang muncul belakangan artinya bukan berasal dari zaman Rasulullah. Asalnya adalah tekun beribadah dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berhubungan dalam beribadah kepada Allah. Sehingga banyak orang tasawuf yang benci terhadap hal – hal berbau duniawi. Sehingga KH. Mas Mansur mengatakan:

“80% didikan Islam kepada hal-hal akhirat dan 20% kepada hal yang menyangkut dunia. Tetapi kita luput memikirkan hal yang 20% sehingga kita menjadi kaum yang tertinggal lagi hina”.

Sayyid Rasyid Ridha mengatakan tentang orang yang terlalu anti terhadap hal-hal duniawi bahwa:

“Harta yang berlebih bukanlah hal yang makruh lagi haram. Harta yang berlebih menjadi makruh ketika menjadi tangga perbuatan tercela. Dan menjadi haram ketika harta tersebut menjadi jalan menuju hal-hal yang memang diharamkan oleh Allah. Karena dahulu sahabat mulia Nabi Muhammad SAW pun ada yang orang kaya sehingga memiliki harta yang lebih. Berlebih-lebihan dalam membenci harta menjadikan rasa kebencian memenuhi ke dalam hati sanubari. Sehingga kaum muslimin menjadi lemah dan dapat dikalahkan dengan mudah oleh musuh-musuh-Nya. Kesenangan yang menyebabkan lalai dari menjalankan kewajiban atau menyebabkan suka kepada hal-hal yang haram.”

Sedangkan menurut Junaid tasawuf yaitu:

“Keluar dari budi pekerti yang tercela dan berpindah menjadi budi pekerti yang terpuji.”

Dari banyak pendapat di atas, Hamka menyimpulkan bahwa tasawuf memiliki arti yaitu:

“Membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekankan segala kerakuran memerangi syahwat yang terlebih dari keperluan untuk kesejahteraan diri.”

Selanjutnya Hamka membahas tentang arti dari sebuah kebahagian tetapi beliau tidak menggunakan pertanyaan, melainkan dengan kisah – kisah tentang kebahagian semu yang menggugah akal dan jiwa. Salah satu contohnya adalah kemuliaan dan kebahagian ketika nama kita terkenal, harum, banyak dilihat dimana-mana, dan dipuji dimanapun.

Ibnu Khaldun mengatakan apa itu bahagia, beliau berkata:

“Bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikut garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan.”

Abu Bakar Ar Razi seorang dokter yang mahsyur di negeri Arab mengatakan: “Bahagia yang dirasa oleh seorang dokter, ialah jika ia dapat menyembuhkan orang yang sakit dengan tidak menggunakan obat.”

Sedangkan Imam Al-Ghazali berpendapat tentang arti dari kebahagiaan yakni:

“Bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah ketika dapat mengingat Allah. Lanjutnya sempurnanya suatu kebahagiaan itu bergantung pada tiga hal:

Kekuatan marah, kalau ini berlebihan maka akan terjadi anarkisme, tetapi jika tidak memiliki maka menjadikan umat tidak punya ghiroh dan hilang rasa tanggungjawab atas agama dan keperluannya di dunia. Tetapi jika kemarahan diletakkan pada posisi tengah atau wasath maka akan timbul rasa sabar dan perasaan untuk melawan kemungkaran.

Kekuatan ilmu.

Kekuatan syahwat, jika berlebih maka akan terjadi perbuatan fasiq dan onar, kalau kurang memiliki rasa syahwat maka muncullah rasa pemalas. Tetapi jika diletakkan di tengah-tengah maka akan muncul rasa ‘Iffah yakni mampu mengendalikan syahwat, dan qona’ah yakni merasa cukup dengan hal yang telah ada dan tidak berhenti dalam ikhtiar.”

Pithagoras, Socrates, Plato berpendapat kesempurnaan dari kebahagiaan terdiri atas empat sifat utama, yakni, hikmah, keberanian, ‘Iffah, adil. Menurut mereka empat sifat ini merupakan akar dari kebahagiaan yang lainnya merupakan ranting dari kebahagiaan.

Sedangkan Aristotles berpendapat kesempurnaan dari bahagia, yaitu, badan sehat, cukupnya kekayaan, indah sebutan di lidah manusia lain, tercapainya cita-cita, tajam fikiran.

Terdapat perbedaan antara dua pendapat di atas, socrates berpendapat kebahagiaan itu letaknya ada di dalam ruhani seseorang, sedangkan Aristotles berpendapat kebahagiaan itu letaknya pada jasmani seseorang.

Diluar pendapat di atas ada lagi pendapat tentang kebahagiaan dari Leo Tolstoy, seorang tokoh di negeri uni soviet beliau mengatakan bahagia ialah kita cinta akan sesama manusia sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Dan kita akan lebih bahagia jika orang lain melakukan hal yang sama kepada kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam sabda nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)