Sekantong Air di Perang Yarmuk
Di antara debu, darah, dan pekik takbir di medan Perang Yarmuk, terdapat satu pelajaran penting bagi umat Islam.
Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dalam kitab Shu'ab al-Iman, kisah ini tentang Abu Jahm bin Hudzaifah Al-‘Adawy. Ia berjalan menyusuri medan pertempuran untuk mencari putera pamannya yang terluka parah. Di tangannya ada sekantong air, bekal sederhana untuk membasahi tenggorokan yang kering, dan mungkin menjadi sebab bertahannya nyawa.
Ia menemukan kerabatnya itu dalam kondisi bersimbah darah. Luka besar menganga, napas tersengal, tetapi wajahnya tetap menyunggingkan senyum seorang pejuang. Abu Jahm segera mengangkat kantong air itu dan mendekatkan ke bibirnya. Di saat itulah terdengar suara mengerang dari samping.
Sebelum setetes pun air menyentuh lidahnya, sang sepupu berkata, “Berikan air itu kepadanya. Dia lebih membutuhkan daripada aku.”
Abu Jahm bergegas menuju suara itu. Ia mendapati Hisyam bin Ash dalam sakaratul maut. Ketika air hendak diberikan, Hisyam mendengar rintihan lain. Dengan sisa tenaga, ia pun berkata, “Berikan kepada saudaraku itu. Dia lebih membutuhkan.”
Abu Jahm bergerak lagi. Namun ia terlambat. Pejuang itu telah wafat. Ia kembali kepada Hisyam, ternyata ia pun telah syahid. Saat kembali kepada sepupunya, sang sepupu pun telah menyusul ke rahmat Allah.
Kaum muslimin dan muslimat. Kisah tersebut mengingatkan kita akan sabda Rasulullah ﷺ bahwa orang beriman itu bagaikan satu bangunan, di mana yang satu harus menguatkan yang lainnya, membantu dan menolong sesamanya dalam kebaikan dan takwa, meski dalam keadaan sempit sekali pun. Islam tidak mencetak umatnya menjadi pribadi-pribadi yang egois, tetapi Islam mencetak jiwa-jiwa yang kokoh dalam kebersamaan (ukhuwah).
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:
“Mereka mengutamakan (orang lain) atas dirinya sendiri meski pun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut bukan sekadar pujian untuk generasi terdahulu, melainkan sebagai standar keimanan umat muslim seluruhnya. Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momen paling konkret untuk menghidupkan ayat ini. Mengendalikan nafsu, menahan ego, dan menghidupkan semangat gotong royong di tubuh umat muslim.
Wallahu a'lamu.