Yang Dibenci yang Disayang
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu, maka anggaplah ia sebagai musuh (mu)...” (QS Fathir: 6).
Ayat tersebut memuat dua realitas yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, penegasan bahwa syaitan adalah musuh manusia. Kedua, perintah agar manusia memperlakukan syaitan sebagai musuh. Secara logis, pengetahuan tentang permusuhan syaitan menuntut sikap permusuhan terhadapnya. Tidak masuk akal jika seseorang menyadari adanya musuh, namun justru bersikap longgar dan abai.
Di dalam realitas kehidupan, sikap ini sering kali terbalik. Banyak manusia mengetahui, bahkan mengakui, bahwa syaitan berusaha menyesatkan mereka, namun perilaku sehari-hari mereka justru mencerminkan perbuatan yang selaras dengan kehendak syaitan. Perzinaan, pencurian, pandangan terhadap yang bukan mahram, perbuatan laghwi, panjang angan-angan, mabuk-mabukan, serta berbagai bentuk kezaliman, bukanlah hal yang asing di tengah masyarakat yang mengaku muslim.
Kondisi tersebut terjadi baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian, ketidaktahuan, atau ketidakpedulian terhadap strategi dan perangkap syaitan. Yang tampak jelas adalah kecenderungan manusia terpikat oleh janji-janji syaitan. Padahal, sejak awal, syaitan sendiri telah menyatakan bahwa janji-janjinya adalah dusta.
Allah menggambarkan pengakuan syaitan pada hari perhitungan:
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, namun aku mengingkarinya. Aku tidak memiliki kekuasaan atas kalian selain sekadar mengajak, lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah mencela aku, tetapi celalah diri kalian sendiri” (QS. Ibrahim: 22).
Perhatian utama seharusnya tidak tertuju kepada mereka yang secara terang-terangan menolak kebenaran, melainkan terhadap orang-orang yang merasa aman dari pengaruh syaitan. Mereka yang mengira dirinya bersih, lurus, dan kebal dari tipu daya syaitan, justru berada dalam posisi paling rawan.
Syaitan memiliki banyak cara untuk menembus relung hati manusia. Di antara cara yang paling halus dan sering digunakan terdapat dua pola utama:
1. Ganjalan satu-satunya
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi ﷺ, iman dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Gejala ini tampak dalam naik turunnya semangat beramal, kejernihan niat, kesungguhan menuntut ilmu, serta konsistensi dalam berkhidmat kepada Islam.
Ketika dorongan iman melemah dan muncul gejala futur, terbentuklah jarak antara pengakuan iman dan realitas perilaku. Apabila kondisi ini disadari, seseorang masih memiliki peluang untuk memperbaiki dirinya. Namun, pada fase inilah syaitan kerap masuk dengan strategi penghambatan.
Syaitan menanamkan kesan seolah hanya ada satu ganjalan utama yang menghalangi perbaikan diri. Jika ganjalan itu terselesaikan, seakan-akan seluruh masalah keimanan akan ikut terselesaikan. Ganjalan tersebut sering kali tampak rasional dan realistis.
Sebagai contoh, seseorang menunda pernikahan dengan alasan belum bekerja. Ketika pekerjaan telah diperoleh, alasan bergeser menjadi pendapatan yang belum mencukupi. Pola ini berulang, sementara tujuan awal tidak pernah benar-benar diwujudkan.
Strategi semacam ini efektif melumpuhkan banyak orang. Dengan satu alasan yang terus berganti, aktivitas kebaikan tertunda, dan kehidupan terbelah antara pengakuan keislaman dan praktik nyata.
Allah menegaskan:
“Syaitan menjanjikan mereka dan membangkitkan angan-angan kosong, padahal syaitan tidak menjanjikan selain tipuan belaka” (QS An-Nisa: 120).
Pada hakikatnya, tipu daya syaitan itu lemah, sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS An-Nisa: 76. Namun, kelemahan ini tidak berarti apa-apa jika berhadapan dengan lemahnya kehendak, minimnya kesadaran, dan rapuhnya ketekunan manusia.
Tipu daya tersebut hanya dapat dikalahkan dengan kesabaran, kekuatan tekad, serta upaya berkelanjutan dalam memperbaiki diri. Semua itu harus disertai iman, kepercayaan kepada sunnatullah, dan konsistensi amal. Rasulullah ﷺ bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meski pun sedikit”.
2. Kesempurnaan palsu
Pada kondisi lain, seseorang menolak mengakui adanya ganjalan dalam hidupnya. Padahal, secara nyata ia menunjukkan sikap stagnan, apatis, dan kehilangan daya juang. Ia merasa tidak ada hal mendasar yang perlu diperbaiki.
Banyak orang secara teoritis menyadari potensi godaan syaitan, namun bersikap permisif terhadap kelemahan diri dengan dalih bahwa manusia memang tidak sempurna. Dari sinilah, muncul penyakit lain berupa rasa cukup dan aman yang menipu.
Kesempurnaan palsu ini ditandai dengan perasaan tenteram yang tidak proporsional, seolah seluruh kewajiban telah tertunaikan dan tidak ada lagi tuntutan perbaikan. Ketika ibadah ritual telah dikerjakan, kehidupan dianggap telah selesai. Sikap ini berbahaya karena menumpulkan kemampuan otokritik dan menutup pintu perubahan. Padahal, Allah memperingatkan:
“Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS Al-A’raf: 99).
Kesalahan mendasar dalam pola pikir ini adalah mencampuradukkan kesempurnaan Islam sebagai agama dengan kondisi muslim sebagai pelaksananya. Islam bersifat sempurna, sementara muslim adalah manusia yang bisa mendekat atau menjauh dari nilai-nilai Islam.
Ketika prinsip disamakan dengan praktik, dan ajaran disamakan dengan pelaksana, lahirlah ilusi kesempurnaan. Inilah salah satu jalan halus syaitan yang sering luput disadari, namun berdampak besar kepada kelumpuhan berpikir dan sosial.
Dzikrullah merupakan kesadaran terus-menerus akan pengawasan Allah dalam setiap ucapan dan perbuatan. Kesadaran ini melahirkan kehati-hatian, keikhlasan, dan komitmen kepada kebenaran. Dzikir bukan sekadar aktivitas lisan atau batin, tetapi orientasi hidup yang terikat pada aturan Allah.
Dengan demikian, dzikrullah tidak hanya menuntut keikhlasan niat, tetapi juga kesesuaian dengan kebenaran. Wallahu a’lam bish-shawab.
Artikel ini disadur dari artikel berjudul sama yang dimuat Majalah Sabili No. 19/Th. IV, 1–14 Juni 1992