Baghyi Sebagai Penyebab Perpecahan Antar Orang Alim

Baghyi, itulah salah satu penyebab perpecahan di kalangan Bani Isra'il dan ummat terdahulu sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 213, surah Ali Imran ayat 19 dan surah Asy-Syura ayat 14, atau mungkin ada ayat yang lain.

  • Al-Baqarah ayat 213:
وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ
“Tidak ada yang berselisih tentangnya, kecuali orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri.”
  • Surah Ali Imran ayat 19:
وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗ
“Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka.”
  • Asy-Syuura ayat 14:
وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ
“Mereka (Ahlulkitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (tentang kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka.”

Kata Al-Baghy berdasarkan makna bahasanya adalah keinginan melampaui batas sehingga melakukan apa saja demi melampaui batasan itu.

Baca juga: Fatwa Dan Seruan Rabithah Alam Islami Kepada Negara Muslim Untuk Membantu Jihad Palestina

Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam kitab al-Mufradaat fii Gharib Al-Qur'an menyatakan bahwa makna bahasa dari baghyi adalah meminta untuk melampaui sesuatu dari yang semestinya baik faktanya akan melewati maupun tidak, dalam hal kualitas maupun kuantitas. Sementara Ibnu Faris dalam Maqayis Al-Lughah mengatakan asal huruf ba'ghain dan ya' adalah asal dari kata tersebut yang memiliki dua arti, yaitu meminta sesuatu, dan kedua berarti sebuah jenis kerusakan.

Makna kedua inilah yang lebih sering dipakai dalam bahasa Al-Qur'an maupun hadits, yaitu melampaui batas sehingga menimbulkan kerusakan. Makanya semua kegiatan di luar batas kewajaran dinamakan baghy.

Adapun makna kata baghyi untuk ketiga ayat di atas, di mana dia menjadi penyebab perpecahan dan perselisihan antar sesama kaum alim di kalangan ummat ahli kitab adalah jenis sifat yang merupakan hasil dari hasad atau kedengkian dalam bentuk susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah.

Dengki atau hasad termasuk salah satu bagian dari baghy. Makanya dalam kedua ayat di atas mereka berpecah bukan karena kejahilan tapi justru setelah mereka sama-sama tahu ilmunya (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ) atau (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ), kenapa? karena (بَغْيًا بَيْنَهُمْ) (Karena sifat baghy antara mereka).

I’rab baghyan, di sini manshub kalau kata Abu Hayyan dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhtih 2/147, karena ‘amil tersembunyi yang ditunjukkan kalimat sebelumnya.

Menurut Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir jilid 1 hal. 270 (cetakan maktabah ‘Ashriyyah 1998) maf’ul bih, tapi kok saya curiga mungkin salah cetak, seharusnya maf’ul li ajlih, karena itulah seharusnya i’rabnya.

Baca juga: Mutiara Kata dari Fatwa dan Curhatan Ibnu Taimiyah tentang Jihad di Masanya

Artinya, sifat baghy itulah yang menjadi penyebab mereka berselisih padahal sumbernya sama, kebenaran yang mereka purjuangkan juga sama. Tapi karena sifat ingin menguasai sendiri dan tak mau orang lain yang mendapat tempat, maka dicarilah celah untuk bermusuhan. Yang sudah sepakatpun dijadikan berbeda agar pihak lawan terlihat salah dan hanya dia yang benar. Hal seperti itu yang paling banyak menjangkiti jiwa para aktivis dan da’i serta para ulama bahkan pejuang jihad saat ini.

Tafsirannya sebagai kedengkian dikuatkan dari pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 10 hal 127:

وَالْحَسَدُ يُوجِبُ الْبَغْيَ كَمَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَمَّنْ قَبْلَنَا: أَنَّهُمْ اخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَلَمْ يَكُنْ اخْتِلَافُهُمْ لِعَدَمِ الْعِلْمِ بَلْ عَلِمُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ بَغَى بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ كَمَا يَبْغِي الْحَاسِدُ عَلَى الْمَحْسُودِ.
“Hasad itu memastikan adanya baghy (tindakan melampaui batas), sebagaimana Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang keadaan kaum sebelum kita di mana mereka berselisih setelah datangnya ilmu, lantara sifat baghy antara mereka. Maka perselisihan antar mereka bukan karena ketiadaan ilmu justru mereka sudah tahu kebenaran, tapi perselisihan itu muncul lantaran adanya rundungan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain sebagaimana merundung (menyerang)nya orang yang dengki kepada orang yang didengkinya.”

Inilah sebab berpecahnya ummat terutama kalangan alimnya, rasa dengki kepada prestasi atau capaian alim yang lain sehingga melakukan tindakan baghy (merundung melampaui batas), gengsi menerima dan menghargai prestasi sahabatnya dll.

Itu pula yang diwanti-wanti dalam hadits Nabi dari Abu Hurairah,

سيصيب أمتي داء الأمم فقالوا : يا رسول الله و ما داء الأمم ؟ قال : الأَشَرُّ وَالْبَطَرُ و التكاثر و التناجش في الدنيا و التباغض و التحاسد حتى يكون البغي

“Ummatku ini akan dirundung penyakit ummat-ummat terdahulu.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, apa penyakit mereka?” Beliau menjawab,

  • Al-Asyarr (banga diri).
  • Al-Bathar (sombong dengan merendahkan orang lain).
  • Takatsur (bermewahan).
  • Tanajusy (berlomba meninggikan harga guna mempengaruhi orang lain) untuk kehidupan dunia.
  • Tabaghudh (saling marahan dan menyimpan kebencian, sentimen).
  • Tahasud (saling dengki) sampai akhirnya terjadilah baghy.

-- HR. Al-Hakim dan dia katakan shahih, disetujui oleh Adz-Dzahabi

Juga ada hadits Zubair bin Awwam yang ada dalam sunan At-Tirmidzi dengan sanad lemah karena tidak disebutkannya nama Mawla Zubair yang meriwayatkan hadits ini dari Zubair, ini namanya mubham dan mubham dhaif. Tapi maknanya bisa naik derajat jadi hasan li ghairih dengan hadits Abu Hurairah di atas,

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الحَسَدُ وَالبَغْضَاءُ، هِيَ الحَالِقَةُ، لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ
“Kalian akan diserang penyakit ummat terdahulu yaitu dengki dan sentimen. Itu adalah pencukur, tidak kukatakan mencukur rambut tapi mencukur agama.”

Solusi:

Pertama, banyaklah merenung dan mengembalikan niat beramal hanya karena Allah, bukan pengen tenar dan dipuji orang atau mendapatkan harta.

Kedua, saling bercengkrama, saling mengunjungi, adakan acara hiburan bersama, ngopi bareng.

Ketiga, saling merendah dengan tulus, mendahulukan orang lain untuk tampil dan lebih memilih di belakang dan mendengarkan bila tak terlalu perlu untuk tampil.

Dan masih banyak lagi tentunya.