Lembaga Penyiaran Israel, melaporkan, seorang mantan perwira tentara Penjajah Israel melakukan bunuh diri akibat mengidap gangguan psikologis kronis (PTSD), pada pagi hari Kamis (20/2/2025).
Penyiar Israel mengatakan, mantan perwira itu dengan sengaja mendekati pagar perbatasan di Jalur Gaza, agar disongsong peluru nyasar milik tentara Penjajah Israel. Setelah terkena tembakan, dibawa secara paksa ke rumah sakit. Setelah menjalani perawatan dan berhasil keluar dari rumah sakit, ia mengakhiri hidupnya.
Peristiwa itu mengingatkan pada insiden serupa yang terjadi beberapa bulan lalu. Ketika itu, seorang perempuan Israel berpakaian hitam mengarahkan senjata ke petugas keamanan di pos pemeriksaan “Metzudat Yehuda” di selatan Hebron. Dia kemudian ditembak, dan di saat itulah diketahui bahwa dia sedang mengalami krisis psikologis dan kemungkinan mencoba bunuh diri.
Laporan lainnya menunjukkan, situasi di Gaza terus memburuk. Tentara Israel menghadapi perlawanan sengit dari kelompok-kelompok pejuang Palestina, dan semakin menambah buruk kondisi mental banyak prajurit Israel.
Kasus PTSD di kalangan tentara Israel pun semakin merebak. Banyak pensiunan tentara yang mengalami tekanan mental setelah bertugas di daerah konflik, dan dalam beberapa kasus berujung pada tindakan ekstrem semisal bunuh diri.
Sejak meletusnya Thufan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 lalu, tercatat sekitar 29 tentara militer Zionis telah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Di antaranya termasuk 16 tentara cadangan. Hal ini merupakan angka tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Data teranyar menunjukkan, pada November 2024 lalu, surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan, setidaknya enam tentara yang mengidap gangguan psikologis melakukan bunuh diri di tengah kecamuk genosida Gaza dan Lebanon.
Sekitar 5.200 tentara – 43% yang terluka – menderita gangguan stres pascatrauma dan dilarikan ke pusat rehabilitasi. Kendati demikian, sebenarnya, Tentara Penjajah Israel tidak mewartakan jumlah tentara yang melakukan bunuh diri atau mencoba bunuh diri, sehingga angka resmi tidak akurat.
Sumber: Al Jazeera Mubasher

Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!