“Hamba” Akhirat
Tidak ada manusia yang ragu bahwa dirinya akan mati. Namun, manusia kadang lupa bahwa setelah mati ia akan dibangkitkan kembali. Bangkit untuk menjalankan kehidupan yang kedua, yakni akhirat. Di sanalah kita akan mendapat balasan atas apa yang kita perbuat selama di dunia. Jika amal kita baik, maka akan dibalas dengan kebaikan. Jika amal kita buruk, maka akan dibalas dengan keburukan.
Allah Swt berfirman, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS Az-Zalzalah: 7–8).
Di sanalah keadilan sempurna ditegakkan dan rekaman kehidupan ditampakkan. Tidak ada yang bisa menyogok atau menyuap dan tak ada yang bisa berbuat curang, karena semua diputuskan langsung oleh Allah Al-Hakim Al-‘Adil, Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil. Yang dapat menyelamatkan hanyalah amal saleh masing-masing. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah: Apa yang sudah kita persiapkan? Bekal apa yang akan kita bawa?
Allah Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).
Jika akhirat itu masa panen, maka dunia adalah waktu menanam. Saat batas waktu di dunia habis, maka tidak ada lagi kesempatan yang kedua.
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun: 99–100).
Penyesalan memang datang terlambat. Namun apa daya, saat ruh telah dicabut dari jasad, saat itulah buku catatan amal ditutup. Banyak ahli kubur yang menjerit ingin kembali walau sebentar saja hanya untuk berbuat baik. Namun semua itu mustahil, karena dunia adalah ruang ujian dan kubur bukan tempat memperbaiki jawaban.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa dunia adalah ladang investasi akhirat, kehidupan yang abadi dalam arti yang sebenar-benarnya. Maka, selagi nyawa masih dikandung badan, berjuanglah sekuat tenaga untuk mengumpulkan amal saleh, amal yang diridhai Allah Swt. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagaimana yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Senantiasa berjuang menjaga hubungan kita dengan Allah dan menjaga hubungan kita dengan makhluk Allah, berbuat baik kepada sesama manusia, kepada hewan, dan kepada alam raya.
Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Bahkan senyuman pun adalah ibadah, menyingkirkan duri di jalan adalah ibadah, apalagi memberi makan fakir miskin, menolong orang yang tidak mampu, menjadi pejabat yang amanah, atau menjadi pemimpin yang adil. Semua kebaikan akan dicatat dan diberikan balasan yang berlipat ganda.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR Tirmidzi, hasan).
Sebab, sejatinya orang yang cerdas adalah orang yang mampu berpikir jangka panjang, bukan hanya memikirkan bagaimana kehidupan di dunia, tetapi juga bagaimana kehidupannya di akhirat kelak.
Orang yang beriman kepada hari akhir tentu akan berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia. Ia akan merasa takut apabila dirinya tergelincir ke dalam kemaksiatan. Ia akan berusaha menjadi pribadi yang jujur meski tidak diawasi, berbuat baik meski tidak dipuji, menahan diri dari perbuatan zalim meski mampu, serta menebar manfaat bagi manusia, hewan, dan alam, karena ia tahu bahwa setiap perbuatan tidak akan luput dari pencatatan.
Perlu kita ingat bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju fase yang lebih panjang dan lebih nyata. Persiapkan amal kita selagi masih ada kesempatan, karena saat kematian tiba, tak ada lagi kesempatan kedua.