Kemerdekaan Palestina Itu "Harga Mati"

Palestina adalah sebuah negara strategis di wilayah Levant Selatan. Palestina juga jadi koridor darat paling penting yang menghubungkan Mesir di benua Afrika dengan negeri Syam serta Mesopotamia yang berada di Asia Barat. Jalur via Maris dan Kings Higway itu menjadi lintasan perdagangan dan pasukan militer dari zaman dahulu. Bisa diartikan, tanah Kanaan (Palestina) bukan tempat tujuan akhir melainkan lintasan sementara. Sudah barang tentu, siapa saja yang menjadi penguasa lintasan tersebut akan bisa mengendalikan arus perdagangan, dan sudah pasti akan mempengaruhi politik di kawasan tersebut.

Sejak zaman dulu, wilayah Palestina menjadi rebutan para penguasa karena letaknya yang sangat strategis di pesisir laut Mediterania. Letak yang amat strategis itulah yang membuat tanah Palestina menjadi rebutan para imperium kuno di masa lalu.

Karena sejarah itulah, kita bisa menilai bahwa konflik penjajah zionis Israel di tanah Palestina bukan hanya soal konflik politik atau keimanan (agama) semata, tetapi juga masalah ekonomi karena wilayah Palestina yang begitu strategis. Penjajah zionis tentu akan mempertahankan wilayah itu mati-matian dan akan terus mengusir rakyat Palestina keluar dari negerinya sendiri demi mewujudkan tujuan utamanya, yaitu mendirikan negara Israel Raya.

Sebut “Board of Peace” sebagai Neokolonialisme, MUI Desak Pemerintah Evaluasi Setor Dana US$ 1 Miliar
MUI mengritik langkah Pemerintah Indonesia bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) bentukan AS. MUI juga merespons keras rencana pemerintah menyetorkan dana kontribusi awal sebesar US$ 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun) sebagai syarat keanggotaan dalam BoP.

Harus Mendukung Kemerdekaan Palestina

Kita sebagai bangsa Indonesia sudah tentu harus mendukung kemerdekaan siapa pun, khususnya dalam hal ini Palestina. Sebab, di dalam Pembukaan Undang-Udang Dasar 1945 disebutkan dengan jelas, "Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan". Inilah dalil yang membuat Indonesia akan selalu ada di belakang bangsa yang tertindas, termasuk Palestina.

Bukan hanya itu. Ada beberapa poin mengapa Indonesia harus terus mendukung kemerdekaan Palestina. Berikut ini di antaranya:

1. Hubungan Panjang Indonesia - Palestina

Hubungan Indonesia dan Palestina sudah terjalin sejak lama dan sangat baik. Hal ini bermula tahun 1945, ketika Indonesia baru saja merdeka dari penjajah Belanda. Palestina adalah salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia melalui Mufti Besar Palestina saat itu, Asy-Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini rahimahullah, dan membantu menggalang dukungan dunia Islam untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

2. Kemanusiaan

Tentu, faktor kemanusiaan adalah hal yang sangat universal dan bisa diterima oleh semua orang. Indonesia sudah tentu akan selalu mendukung penuh kemerdekaan bagi bangsa yang sedang tertindas, karena bangsa Indonesia pernah merasakan juga penindasan dan penjajahan. Ini yang membuat Indonesia hari ini selalu dan terus menerus mendukung Palestina melalui bantuan kemanusiaan.

3. Solidaritas Umat Islam

Palestina adalah tempat suci dan kiblat pertama bagi umat Islam. Di Palestina inilah berdiri sebuah Masjid yang bernama Masjidil Aqsa. Masjid ini merupakan salah satu dari tiga Masjid suci selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ pun mengatakan bahwa perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta dan kasih sayang ibarat satu tubuh, jika satu bagian sakit maka seluruh tubuh merasakannya. Jadi, sudah jelas, karena kedekatan Islam inilah bangsa Indonesia mempunyai spirit akan terus membantu saudara-saudara Muslim yang sedang tertindas oleh penjajah.

4. Undang-Undang Dasar 1945

Sebagimana sudah disinggung di atas bahwa kemerdekaan Palestina adalah sesuatu yang harus terus didukung. Sebab, di dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan dengan jelas bahwa bangsa Indonesia tidak akan setuju dengan penjajah di mana pun berada, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Jadi, Kemerdekaan Palestina adalah harga mati.

Akademisi Nilai Palestina Jadi Ajang Uji Coba Pelemahan Hukum Internasional
Dosen Jurnalistik Universitas Padjadjaran, Dr. Maimon Herawati, menilai, Palestina telah jadi “laboratorium” bagi pelemahan hukum internasional. Ia juga menyoroti konflik di Iran, Venezuela, Suriah, dan Palestina, terkait kepentingan strategis Israel dan jaringan Zionis internasional.

Solusi

Konflik Palestina dengan penjajahan zionis Israel sudah berlangsung satu abad lebih sejak Perjanjian Balfour. Setiap hari selalu saja memakan korban tewas, terutama warga sipil. Pertanyaan muncul, apakah ada solusi untuk konflik yang sangat panjang ini? Jawaban tentu ada, yaitu Palestina wajib merdeka dan para penjajah harus keluar dari tanah Palestina. Sebab, rakyat Palestina-lah yang berhak hidup dengan tenang di atas tanah airnya. Puluhan bahkan ratusan tahun rakyat Palestina sudah menempati wilayah itu.

Tawaran solusi dua negara bukanlah solusi yang tepat. Penulis melihat bahwa akar biang kerok kekacauan ini adalah para pendatang zionis dari eropa yang datang ke tanah Palestina lewat keputusan politik, bukan kemauan rakyat Palestina. Rakyat Palestina sudah hidup damai dan saling menghargai antar umat beragama sejak ribuan tahun yang lalu tanpa pernah membenci hingga akhirnya setelah perang dunia kedua berakhir. Di sinilah biang kerok (zionis eropa) itu datang dan menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah lama terjaga. 

Kesimpulan

Kemerdekaan Palestina adalah "harga mati". Tanah Kanaan adalah tanah yang sudah didiami oleh rakyat Palestina ratusan tahun lalu. Sudah selayaknya rakyat Palestina hidup dengan tenang dan menatap masa depan dengan rasa aman di tanah airnya sendiri, tanpa takut akan kematian yang tiba-tiba datang.

Semoga saudara-saudara kita di Palestina tetap diberikan ketabahan dan kesabaran untuk terus mempertahankan tanah airnya dari cengkeraman penjajah zionis. Sehingga, cita-cita Kemerdekaan Palestina dapat terwujud di masa yang akan datang melalui generasi Islam yang tangguh. Allahu Akbar!