Ketua MUI: Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Berarti Kegagalan AS-Israel

Majelis Khobregan Kepemimpinan Iran telah resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, pada Senin (9/3/2026) waktu setempat. Majelis Khobregan atau Majelis Para Ahli adalah sebuah lembaga di Iran yang berhak memilih, memberhentikan, dan memantau aktivitas Pemimpin Tertinggi Iran.

Putra almarhum Ayatullah Ali Khamenei itu terpilih setelah meraih lebih dari 85% suara anggota Majelis Khobregan. Pemilihan pemimpin tertinggi yang selanjutnya akan menjabat untuk masa jabatan delapan tahun itu merujuk pada Pasal 107 dan 108 Konstitusi Republik Islam Iran.

Menanggapi terpilihnya Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya itu, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan, hal itu menjadi tanda bahwa perkiraan dan harapan Amerika Serikat dan Israel telah mengalami kegagalan yang sangat serius. Apalagi, Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi di Iran di tengah berlangsungnya serangan balik Iran terhadap serangan brutal Amerika-Israel atas Iran yang berakibat wafatnya Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu. Serangan balik Iran itu berakibat kehancuran masif buat Israel dan pusat-pusat penting Amerika di berbagai negara.

Hal itu dikatakan Sudarnoto dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Sabili.id pada Selasa (10/3/2026) pagi. Menurut tokoh kelahiran 3 Februari 1959 itu, dengan dipilihnya Mojtaba Khamenei, Amerika dan Israel diproyeksikan akan mengalami kebangkrutan secara moral, ekonomi, politik dan militer. Sebab, kekuatan perlawanan dan pembalasan Iran terhadap serangan Amerika dan Israel itu akan semakin kuat di bawah kepemimpinan Mojtaba, dan hal ini berarti kehancuran Israel dan Amerika akan semakin mendekati titik kulminasinya.

Ali Khamenei Gugur dalam Serangan AS–Israel, Iran Tegaskan Pembalasan “Tanpa Ampun”
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan tentara Israel dan Amerika Serikat (AS) di Teheran. Bersama Khamenei, putri dan menantu hingga cucunya juga dilaporkan tewas dalam serangan besar-besaran Israel dan AS di Iran.

"Mojtaba bukan sekadar anak biologis Ayatullah Ali Khamenei, akan tetapi juga sekaligus anak ideologis yang akan selalu istiqomah mengusung ideologi perlawanan serta menghancurkan ketidakadilan dan kezaliman sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh Amerika dan Israel," tuturnya.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu lantas menyebut, nasib buruk Israel dan Amerika akan memperoleh momentumnya. Selain karena menghadapi serangan balasan yang masif, juga karena pertentangan internal yang semakin kuat di dalam kedua negara itu. Selain itu, juga karena kuatnya sikap penentangan Eropa kepada Amerika.

"Saya berharap, ini menjadi momentum historis yang sangat penting bagi jalan porak porandanya hegemoni imperialistik duet Amerika-Israel, rontoknya BoP, dan dicapainya kemerdekaan Palestina," ucapnya.

Sudarnoto melanjutkan, ia juga berharap, terpilihnya Mojtaba menjadi pembuka peluang bagi persatuan dunia Islam, penguatan OKI, dan reformasi PBB. "Kepada Mojtaba Khamenei, saya menyampaikan selamat menjalankan tugas suci mengawal kepemimpinan, menghancurkan penjajah Israel-Amerika, serta menciptakan perdamaian dan keadilan. Semoga senantiasa diberi kekuatan lahir batin dan kemudahan oleh Allah," tutupnya.