Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 bukan terjadi tanpa latar belakang strategis yang panjang. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan, operasi tersebut ditujukan untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai “ancaman serius dari Iran”, terutama terkait pengembangan program nuklir dan kemampuan rudal balistik Iran yang dinilai membahayakan stabilitas kawasan serta sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah. Selain itu, Iran juga selama bertahun-tahun dituduh mendukung kelompok-kelompok militan di berbagai wilayah konflik, yang menurut Amerika dan Israel memperluas pengaruh Teheran secara agresif. Dari sudut pandang mereka, serangan ini adalah langkah preemptive (pencegahan) untuk melumpuhkan pusat komando dan struktur strategis Iran sebelum ancaman tersebut berkembang lebih jauh.
Pada 28 Februari 2026 malam, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Republik Islam Iran, yang mencakup serangan udara dan rudal terkoordinasi ke berbagai target strategis termasuk fasilitas pemerintahan dan militer di ibu kota Teheran dan kota lainnya. Di dalam operasi ini, serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting Iran. Dan kemudian media Iran resmi menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika dan Israel malam tadi (28/2/2026).
Serangan tersebut bukan hanya menewaskan satu figur simbolik negara, tetapi juga menghantam lingkar inti pertahanan Iran. Selain Ali Khamenei, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, dan Panglima Tertinggi Garda Revolusi Iran, Mohammad Pakpour, turut tewas dalam serangan-serangan tersebut.
Sistem pemerintahan di Iran memang unik. Iran pada dasarnya memiliki mekanisme demokrasi elektoral yang berjalan rutin. Rakyat memilih presiden dan anggota parlemen setiap empat tahun, serta memilih anggota Dewan Pakar setiap delapan tahun. Dewan Pakar ini berisi para ulama dari berbagai provinsi yang memiliki otoritas keilmuan tinggi. Dari merekalah kemudian akan ditentukan seorang pemimpin tertinggi baru, melalui pertemuan dan pemilihan internal dewan untuk menunjuk satu di antara mereka yang dianggap paling layak dan sesuai syariat serta kondisi negara.
Presiden menjalankan roda eksekutif, parlemen memegang fungsi legislasi, sementara Leader berperan sebagai penjaga arah ideologis negara. Kewenangannya diatur dalam konstitusi dan tidak bersifat absolut, karena tetap diawasi oleh Dewan Pakar yang bahkan memiliki wewenang untuk memberhentikan dia jika dianggap melanggar hukum.

Kini, setelah posisi tersebut kosong akibat wafatnya Ayatullah Ali Khamenei, proses konstitusional akan kembali berjalan. Dewan Pakar dijadwalkan menggelar sidang untuk menentukan siapa di antara para ulama senior yang dianggap paling layak memikul tanggung jawab sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. Proses ini menjadi momen krusial yang akan menentukan arah politik Iran di tengah situasi geopolitik yang sedang memanas.
Namun di Iran, kematian seorang pemimpin sering kali tidak dimaknai sebagai akhir, melainkan awal fase baru perlawanan. Narasi “syahid” yang dilekatkan pada gugurnya Khamenei justru dipandang sebagai bahan bakar ideologis yang dapat menghidupkan kembali semangat revolusi. Sejarah politik Iran menunjukkan bahwa tekanan eksternal kerap memperkuat konsolidasi internal, bukan melemahkannya. Karena itu, banyak pengamat menilai bahwa peristiwa ini berpotensi menjadi titik bangkitnya mobilisasi nasional yang lebih besar.
Pemerintah Iran sendiri telah merespons dengan sikap tegas. Menurut laporan media internasional, pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersumpah akan memberi balasan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel setelah kematian Khamenei, menyatakan akan menghukum “para pembunuh” dan menargetkan posisi militer serta keamanan musuh dengan serangan yang lebih canggih dan luas, dengan ancaman “tindakan tanpa ampun” yang akan sangat merugikan pihak yang menyerang.
Situasi kini berada di persimpangan. Di satu sisi Iran tengah memasuki fase transisi kepemimpinan, di sisi lain tekanan konflik regional justru meningkat. Dunia menunggu apakah momen ini akan membuka babak eskalasi baru di Timur Tengah, atau justru melahirkan konfigurasi politik yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Yang jelas, bagi Iran, gugurnya seorang pemimpin bukan berarti padamnya perlawanan. Di dalam logika revolusi mereka, kehilangan figur justru sering menjadi alasan untuk berdiri lebih kokoh dari sebelumnya.
Sebagaimana pernah ditegaskan oleh Ayatullah Ali Khamenei, “Kesyahidan adalah imbalan dari perjuangan di jalan Allah, dan bangsa tumbuh serta bersinar melalui pengorbanan-pengorbanan tersebut.” Kalimat itu menjadi kalimat keyakinannya, bahwa perjuangan melawan dominasi asing dan penindasan bukan hanya strategi politik, tetapi sebuah jalan yang mengangkat martabat bangsa menuju kemenangan akhir.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!
