Beberapa waktu terakhir, dunia terasa semakin tidak tenang. Konflik demi konflik muncul silih berganti. Ketegangan geopolitik muncul di berbagai kawasan, membuat manusia kembali menyadari bahwa stabilitas dunia yang selama ini terasa biasa ternyata sangat rapuh.
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memanaskan situasi Timur Tengah. Serangan militer, manuver politik, hingga ancaman balasan dari berbagai pihak membuat kawasan tersebut berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Dunia menyaksikan bagaimana kekuatan-kekuatan besar saling menunjukkan dominasinya, dan di antara semua itu masyarakat sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Genosida yang terus berlangsung di Gaza menjadi salah satu contoh nyata tentang bagaimana konflik geopolitik tidak pernah benar-benar sederhana. Serangan demi serangan terus terjadi, korban sipil terus berjatuhan, dan dunia internasional seakan tak mampu menghentikan tragedi kemanusiaan yang berlangsung di depan mata mereka. Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel, baik secara militer, politik, maupun diplomatik, memberikan ruang yang sangat besar bagi Israel untuk melanjutkan operasinya, sementara tekanan dari negara-negara lain sering kali tidak cukup kuat untuk menghentikan genosida yang terjadi.
Di saat yang sama, ketegangan dengan Iran pun terus meningkat. Sebagai salah satu kekuatan regional di Timur Tengah, Iran sering kali berada dalam posisi berhadapan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Setiap serangan, ancaman balasan, atau peningkatan ketegangan, selalu membawa kekhawatiran baru bahwa konflik yang lebih besar bisa saja meledak sewaktu-waktu.

Di sisi lain, sebagian negara kini memandang Amerika Serikat sebagai common enemy. Jika Venezuela bisa diperlakukan demikian oleh Amerika, jika Iran bisa diserang sedemikian rupa, maka negara lain merasa bahwa hal serupa pun suatu saat bisa saja terjadi terhadap mereka.
Pemimpin Redaksi Sabili.id, Ustadz Zainal Muttaqin, mencoba melihat fenomena itu dari sudut pandang yang lebih luas. Di dalam paparannya, ia menyinggung tentang obsesi politik Amerika, termasuk slogan kampanye Donald Trump “Make America Great Again”, yang menunjukkan kesombongan kekuasaan, dan kesombongan sering kali berujung pada kehancuran.
Di dalam perspektif iman, kata Ustadz Zainal, kesombongan seperti itu bukan hal baru dalam sejarah. Bahkan, ia bisa menjadi bagian dari cara Allah menghancurkan sebuah kekuatan besar dengan memunculkan tokoh-tokoh yang menyerupai “Firaun modern”.
Ustadz Zainal kemudian mengingatkan firman Allah dalam Al Qur’an, surat Al-A’raf ayat 56, yang melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi. Ayat ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan, peperangan, dan dominasi manusia atas manusia lainnya, pada akhirnya hanya akan membawa kerusakan jika tidak disertai kesadaran akan batas-batas yang Allah tetapkan.
Selain itu, Ustadz Zainal juga mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang sering kali terlupakan di tengah hiruk pikuk dunia modern. Yaitu bahwa manusia tidak hanya hidup untuk menjalani rutinitas yang terus berulang; bangun pagi, bekerja, mengejar target, lalu pulang dengan kelelahan tanpa pernah benar-benar memikirkan ke mana sebenarnya perjalanan hidup ini akan bermuara.

Padahal, dalam pandangan Islam, kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Manusia diciptakan dengan tujuan yang jelas. Setiap detik kehidupan memiliki makna, dan setiap tindakan tidak pernah benar-benar hilang begitu saja karena semuanya akan dipertanggungjawabkan. Namun, dalam realitas kehidupan modern, banyak manusia justru semakin jauh dari kesadaran ini. Dunia yang serba cepat membuat manusia lebih fokus pada hal-hal yang tampak di permukaan, misalnya materi, jabatan, dan pencapaian, sementara pertanyaan tentang tujuan hidup yang sebenarnya semakin jarang dibicarakan.
Di tengah gonjang-ganjing dunia yang penuh konflik ini, Ustadz Zainal pun mengajak umat Islam untuk tidak kehilangan harapan. Rahmat Allah sangat luas. Sesulit dan seruwet apa pun keadaan yang dihadapi manusia, selalu ada hikmah yang Allah siapkan di baliknya. Sebagaimana kisah Nabi Zakariya as yang bertahun-tahun memohon keturunan, tetapi tetap yakin terhadap rahmat Allah, hingga akhirnya doa itu dikabulkan.
Karena itu, menurut beliau, seorang muslim tidak seharusnya hanya melihat dunia dari kaca mata kekacauan dan ketakutan semata. Di balik berbagai peristiwa besar yang sedang terjadi, bisa saja Allah sedang menyiapkan kebaikan yang belum kita pahami sepenuhnya. Bahkan, ketika eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat dan kemungkinan perang darat semakin terbuka, keyakinan kepada rencana Allah tetap harus menjadi pegangan utama.
Kita mungkin akan terus khawatir dengan apa yang terjadi hari ini. Namun bagi orang beriman, selalu ada keyakinan bahwa Allah memiliki rencana yang jauh lebih besar dan lebih baik dari apa yang bisa dibayangkan manusia.
Ustadz Zainal lantas mencoba membaca berbagai konflik besar yang terjadi di dunia hari ini, bukan hanya dari kaca mata geopolitik, tetapi dari perspektif wahyu dan perjalanan sejarah manusia. Beliau lantas menguraikan persoalan tersebut secara lebih utuh termasuk “plot twist” dari konflik Amerika–Israel vs Iran dari sudut pandang Al Qur’an. Sesuatu yang jarang dibahas. Untuk memahami bagaimana paparan lengkapnya, simak langsung dalam video “Plot Twist Perang Amerika-Israel vs Iran, Begini yang Termaktub Dalam Al-Quran” di Youtube Media Sabili. Tentu jauh lebih menarik menyaksikannya.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!

