Malam itu, di bawah pendar lampu jalan bercahaya kuning dan bebayang pepohonan yang meranggas, ia berdiri sejenak di pelataran masjid pinggir kota. Tak berselang lama, suara bilal mengalun, memanggil jiwa-jiwa untuk merapatkan barisan dalam shalat. Namun, pandangannya tertuju kepada realitas visual yang menyayat hati. Ya, hamparan karpet yang tergelar luas itu lebih banyak memeluk sepi. Shaf shalat kian maju, menyusut drastis, menyisakan ruang kosong yang menggemakan keheningan. Di saat bersamaan, batinnya berbisik, mempertanyakan ilusi temporal yang mungkin semua orang rasakan: "Bukankah baru kemarin kita menyambut hilal Ramadhan? Mengapa waktu terasa melesat begitu banal, menguap tanpa sempat kita cerna?"
Waktu dan Kognisi yang Terenggut
Mari kita mulai dengan mengurai misteri waktu. Mengapa Ramadhan, bulan yang seharusnya menjadi jeda kontemplatif, justru terasa berlalu seperti kilatan cahaya?
Di dalam neurosains kognitif, persepsi manusia terhadap waktu bersifat subyektif dan elastis. Eagleman (2008) mencatat, otak manusia mengukur waktu melalui kepadatan memori dan pengalaman baru yang diproses oleh amigdala dan hipokampus. Ketika kita berada dalam rutinitas yang monoton atau berada di bawah tekanan kognitif yang konstan (stres), otak merekam lebih sedikit "cuplikan" memori yang bermakna. Akibatnya, saat kita menengok ke belakang, waktu terasa telah melompat jauh.

Hal itu rupanya berkorelasi dengan situasi masyarakat yang, belakangan ini, dihadapkan pada turbulensi hidup tak berkesudahan. Sebut saja fluktuasi harga bahan pokok, pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membayangi, biaya pendidikan kian mencekik, hingga kebisingan kebijakan politik yang menyisakan kelelahan komunal. Kondisi ini menciptakan apa yang Mullainathan dan Shafir (2013) sebut sebagai scarcity mindset (mentalitas kelangkaan) dan bandwidth tax (pajak kognitif).
Otak masyarakat kelas menengah ke bawah secara terus-menerus "dibajak" oleh kecemasan eksistensial tentang bagaimana bertahan hidup esok hari. Beban kognitif ini merampas mindfulness atau kehadiran penuh (kekhusyukan) yang menjadi prasyarat utama dalam menikmati Ramadhan. Ketika seseorang berpuasa namun pikirannya tersandera oleh tagihan pinjaman atau ketidakpastian harga bahan pokok, misalnya, Ramadhan kehilangan dimensi spiritualnya dan tereduksi menjadi sekadar rutinitas menahan lapar yang repetitif. Tanpa pengalaman spiritual yang mendalam dan memori emosional yang kuat, hukum neurosains berlaku bahwa waktu terasa berlalu tanpa jejak.
Sosiolog Hartmut Rosa (2013) menyebut fenomena ini sebagai social acceleration (akselerasi sosial). Modernitas yang didorong oleh kapitalisme digital memaksa ritme kehidupan berjalan hiper-cepat. Masyarakat dipaksa menjadi produktif tanpa henti di siang hari dan dihujani oleh distraksi algoritma media sosial di malam hari. Kita kehilangan kemampuan untuk "berhenti". Ramadhan yang hakikatnya adalah anti-tesis dari akselerasi, momen untuk mengerem laju duniawi, justru terseret ke dalam pusaran kecepatan tersebut. Ruang kontemplasi digantikan oleh glorifikasi kesibukan, membuat bulan suci ini menguap tertiup angin modernitas.

Shaf yang Kian Maju
Lalu, kita dihadapkan pada visual shaf masjid yang kian "maju" (berkurang jumlahnya). Penjelasan simplistik mungkin akan melabeli fenomena ini sebagai penurunan kadar iman atau "seleksi alam" khas pertengahan Ramadhan. Namun, analisis alternatif menuntut kita untuk melihat lebih dalam.
Penyusutan jamaah adalah manifestasi fisik dari kelelahan sistemik. Filsuf Byung-Chul Han (2015), dalam karyanya, The Burnout Society, mengartikulasikan dengan indah namun tragis bagaimana masyarakat kiwari menderita kelelahan absolut (profound exhaustion). Kelelahan ini adalah kelelahan jiwa yang mengikis kemampuan seseorang untuk terhubung dengan sesuatu yang transenden.
Secara kausalitas, ada kelindannya dengan kualitas pemerintahan belakangan ini. Ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan jaring pengaman sosial yang memadai, penciptaan lapangan kerja yang layak, dan regulasi yang melindungi kelas pekerja, telah melahirkan masyarakat prakerja (precariat class) (Standing, 2011).
Mayoritas masyarakat harus menghabiskan waktu, energi, dan darah daging, hanya untuk bertahan di batas garis kewajaran ekonomi. Buruh pabrik yang harus mengejar target produksi menjelang Idul Fitri, pengemudi ojek online yang membelah kemacetan di bawah terik matahari hingga larut malam demi sistem poin yang algoritmanya terkesan tak manusiawi, atau ibu rumah tangga yang kelelahan menyiasati uang belanja di tengah kian susutnya daya beli.
Ketika malam tiba, tubuh dan sistem saraf simpatik telah mencapai batas toleransi maksimal. Secara fisiologis, penumpukan asam laktat, deplesi glikogen, dan lonjakan kortisol (hormon stres) membuat tubuh memerintahkan otak untuk segera shutdown (tidur). Shalat, yang membutuhkan stamina fisik dan kejernihan fokus, menjadi sesuatu yang berada di luar kapasitas energi tersisa. Shaf yang kosong seakan representasi jeritan bisu dari tubuh-tubuh yang dieksploitasi oleh sistem ekonomi yang nakal.
Lebih jauh, korelasi ini diperburuk oleh apa yang terjadi di panggung makro elite politik kita. Ketika masyarakat di bawah berdarah-darah mempertahankan daya beli, elite politik mempertontonkan manuver kekuasaan, korupsi, dan pengabaian etika yang difasilitasi oleh instrumen negara. Mietzner (2020) mengungkap adanya regresi demokrasi yang menciptakan apati di tingkat akar rumput. Ketidakpercayaan (distrust) terhadap sistem negara ini secara psikologis menyebar menjadi sinisme general. Ketika rakyat merasa dikhianati oleh entitas duniawi yang seharusnya melindungi (pemerintah), ada semacam energi harapan yang patah. Patahnya energi ini membuat aktivitas komunal - termasuk berkumpul di masjid - kehilangan daya tarik kohesifnya. Sebagian masyarakat lebih memilih mundur ke ruang privat, mengisolasi diri, merebahkan tubuh yang lebur, dan menggulirkan layar gawai sebagai bentuk eskapisme termurah.

Hilangnya Transendensi Lanskap Batin
Terdapat interdependensi (ketergantungan) yang krusial antara kondisi material bangsa dan kualitas spiritualitas warganya. Kita tidak bisa memisahkan urusan akhirat dari urusan dunia, karena keduanya berdiam dalam satu medium yang sama, yaitu manusia. Bahwa kekhusyukan beragama membutuhkan prakondisi berupa keamanan ontologis (ontological security) (Giddens, 1991).
Hari ini, seseorang baru bisa menundukkan wajahnya ke sajadah dengan tenang dan merenungkan makna kehidupan, jika ia tahu esok hari keluarganya bisa makan, tempat tinggalnya tidak digusur, dan hukum masih berpihak kepada keadilan. Sebaliknya, ketika pemerintah gagal menghadirkan rasa aman ini, pikiran rakyat akan terus bergerilya di medan tempur kecemasan.
Dari sisi teologis dan historis, Islam di Indonesia kerap menjadi basis kohesi sosial (Hefner, 2000). Masjid menjadi ruang diskursus, perlindungan, dan solidaritas. Namun, ketika gempuran kapitalisme semakin agresif dan pemerintah bertindak layaknya korporasi yang mengekstrak rakyatnya sendiri, masjid perlahan kehilangan fungsi sosialnya. Institusi agama terjebak gagal merespons kelelahan struktural ini, sehingga kadang hanya menyajikan khotbah normatif yang tidak menyentuh akar penderitaan kelas pekerja. Akibatnya, relevansi masjid di hari-hari Ramadhan tergerus oleh tuntutan material (seperti pusat perbelanjaan yang justru sesak karena kultural merayakan dengan konsumsian).
Kausalitasnya membentuk lingkaran setan (siklus sirkuler). Kebijakan ekonomi-politik yang eksploitatif menyebabkan tekanan material; tekanan material menyebabkan kelelahan kognitif dan fisik (scarcity mindset); dan kelelahan ini merusak persepsi waktu, membuat hari-hari berlalu bak sekumpulan kewajiban bertahan hidup belaka; yang lalu bermuara pada absennya energi untuk partisipasi ibadah komunal; dan pada akhirnya, redupnya ritual spiritual ini membuat masyarakat kehilangan satu-satunya jangkar yang biasanya menjaga kewarasan di tengah sistem yang gila.

Merengkuh Keheningan
Sambil menatap kembali sajadah kosong yang terlipat rapi di sudut masjid, ia menyadari satu hal yang mendalam. Cepatnya waktu berlalu dan berkurangnya jamaah di Ramadhan adalah termometer sosial. Ia sedang mengukur suhu bangsa yang sedang demam tinggi.
Lanskap masyarakat kita saat ini adalah lanskap jiwa yang terburu-buru, dipaksa berlari di atas treadmill ekonomi yang kecepatannya dikendalikan oleh elite yang duduk nyaman. Kita tidak sedang kehilangan waktu; kita sedang kehilangan kepemilikan atas waktu kita sendiri. Kita tidak sedang menjauhi masjid; sebagian dari kita hanya sedang terlalu lelah, dipaksa menukar energi spiritual dengan sekeping harapan agar dapur tetap mengepul esok hari.
Memahami hal ini bukanlah untuk melegitimasi kemalasan beribadah, melainkan tanda kontemplatif untuk memeluk realitas kita dengan penuh welas asih (compassion). Mengritik mereka yang tak lagi meramaikan masjid tanpa memahami struktur sosial yang meremukkan tulang punggung, serupa kesombongan spiritual. Mungkin, ibadah terbaik kita di sisa hari Ramadhan yang terasa melesat ini, adalah jeda sejenak.
Berhenti menyalahkan atas waktu yang luput, dan mulai membangun kembali solidaritas kecil di sekeliling. Sebab, pada akhirnya, perlawanan terbesar terhadap sistem yang membuat kita lelah dan terburu-buru merupakan keberanian untuk menenangkan pikiran, menarik napas panjang, dan merangkul sesama yang juga sedang berjuang mencari keheningan di bawah langit yang bising.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!



