Jakarta. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Dr. H. Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran. Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan langkah positif yang diharapkan dapat mengakhiri ketegangan, mencegah eskalasi konflik yang lebih luas, serta membuka peluang bagi terciptanya stabilitas keamanan kawasan dan perdamaian dunia yang berkelanjutan.
Dalam keterangannya, Prof. Sudarnoto menegaskan bahwa setiap upaya yang mengedepankan dialog, diplomasi, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan penyelesaian sengketa secara damai harus terus diperkuat oleh masyarakat internasional. Ia menilai perdamaian merupakan nilai universal yang sejalan dengan ajaran Islam, cita-cita kemanusiaan, serta amanat yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Menurutnya, terdapat sejumlah alasan penting mengapa penghentian konflik antara Amerika Serikat dan Iran perlu mendapat dukungan luas. Pertama, kesepakatan tersebut dapat mencegah meluasnya peperangan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan krisis kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Kedua, perdamaian dapat menjamin keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur strategis perdagangan dan distribusi energi dunia.
Selain itu, ia menilai meredanya ketegangan di kawasan Teluk berpotensi menekan lonjakan harga minyak dan energi dunia yang selama ini menjadi dampak utama dari konflik geopolitik.
Stabilitas kawasan juga diyakini akan memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian global, termasuk mengurangi tekanan inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang dirasakan berbagai negara, khususnya negara berkembang. Lebih jauh, Prof. Sudarnoto menilai kesepakatan damai tersebut harus menjadi titik awal terbentuknya arsitektur keamanan kawasan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan, bukan sekadar penghentian konflik sementara. Ia berharap momentum ini juga dapat mendorong upaya menghentikan kekerasan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina serta membuka jalan bagi penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Untuk memastikan kesepakatan damai berjalan efektif, Prof. Sudarnoto mengusulkan beberapa langkah, antara lain kepatuhan seluruh pihak terhadap butir-butir kesepakatan yang telah disetujui, pembentukan mekanisme dialog dan komunikasi permanen antarnegara terkait, keterlibatan aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mengawal implementasi kesepakatan secara adil dan transparan, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Kepada Pemerintah Indonesia, Prof. Sudarnoto juga mendorong agar terus memainkan peran sebagai kekuatan moral dan diplomatik dalam penyelesaian berbagai konflik internasional. Ia mengusulkan peningkatan diplomasi perdamaian melalui forum-forum global seperti PBB, Gerakan Non-Blok, serta berbagai kerja sama antarnegara berkembang.
Selain itu, Indonesia diharapkan dapat memperkuat kerja sama ekonomi dan kemanusiaan yang mendukung stabilitas kawasan dan kesejahteraan masyarakat internasional.
Di akhir pernyataannya, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional ini juga menegaskan bahwa perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran tidak boleh berhenti pada upaya meredakan ketegangan bilateral semata. Menurutnya, semangat perdamaian tersebut harus dilanjutkan dengan langkah-langkah konkret untuk menghentikan kekerasan, agresi militer, dan pelanggaran hak asasi manusia yang masih terjadi di berbagai wilayah konflik, termasuk Gaza dan Palestina.
Selanjutnya, atas nama MUI, Prof. Sudarnoto mendesak agar penghentian perang, pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, perlindungan terhadap warga sipil, penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, serta dimulainya proses penyelesaian politik yang adil bagi rakyat Palestina menjadi bagian penting dari agenda perdamaian kawasan pasca-kesepakatan Amerika Serikat dan Iran. Ia juga berharap Pemerintah Amerika Serikat dapat memanfaatkan pengaruh politik dan diplomatiknya untuk mendorong penghentian serangan yang menimbulkan korban sipil di Gaza, Palestina, maupun Lebanon.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!