Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) resmi memberangkatkan delegasinya untuk mengikuti konferensi internasional di Brussel, Belgia, pada Ahad (19/4/2026). Konferensi tersebut merupakan bagian dari rangkaian misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, sebagai kelanjutan dari misi serupa yang telah dilakukan pada September tahun lalu.
Sejak Maret 2026, pergerakan GSF 2.0 kembali dimulai untuk menembus blokade Israel terhadap Palestina. Berbagai negara dari penjuru dunia, termasuk Indonesia, secara bertahap mengirimkan delegasinya. Dari Indonesia sendiri, sekitar 50 orang terlibat dalam misi ini, beberapa di antaranya telah lebih dulu berangkat melalui jalur laut, seperti Maimon Herawati (Dosen Unpad yang juga merupakan Aktivis Kemanusiaan), Chiki Fawzi (Influencer dan Aktivis Kemanusiaan), Ustadz Husein Gaza (Aktivis Ke-Palestina-an), serta tokoh lainnya.
Dalam proses pemberangkatan ini, GPCI juga telah berupaya mengajukan permohonan perlindungan kepada sejumlah kementerian, di antaranya Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pertahanan, serta Kementerian Luar Negeri, khususnya Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia, guna menjamin keselamatan para delegasi.
Dikutip dari Metro TV, sebanyak 70 kapal yang membawa hampir 1.000 relawan dari sekitar 70 negara dijadwalkan berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada Minggu, 12 April 2026, dalam misi kemanusiaan untuk menembus blokade Israel dan membuka jalur bantuan bagi warga Gaza. Jumlah partisipan dalam pelayaran ini juga disebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan misi sebelumnya pada September 2025, yang hanya melibatkan 42 kapal dan 462 relawan, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency. Dari Indonesia sendiri, ada 3 kapal yang ikut berlayar.

Dalam GSF 2.0, upaya mendobrak blokade tidak hanya dilakukan melalui jalur laut, darat, dan udara, tetapi juga melalui jalur politik. Salah satunya lewat Global Sumud Flotilla Parliamentary Conference yang digelar di Brussel, Belgia. Konferensi ini dihadiri perwakilan dari berbagai negara sebagai bagian dari upaya diplomasi kemanusiaan dan perdamaian global, khususnya untuk Palestina, dengan rangkaian diskusi yang berlangsung hingga 22 April.
Sebelumnya, Wanda Hamidah (pegiat HAM dan isu pro-Palestina) telah berangkat lebih dulu ke Brussel untuk menghadiri konferensi tersebut sebagai perwakilan dari Indonesia. Kemudian disusul oleh empat tokoh lainnya, yaitu Prof. Sudarnoto (Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, yang sekaligus Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Arif Rahmadi Haryono (General Manager Advokasi Dompet Dhuafa), Prof. Heru Susetyo (Guru Besar Fakultas Hukum UI), dan Feri Amsari (Pakar Hukum Tata Negara). Selanjutnya, Gustika Jusuf Hatta (peneliti dan pegiat HAM) dan satu tokoh lain dijadwalkan menyusul melalui jalur darat, sehingga total delegasi Indonesia dalam konferensi ini berjumlah tujuh orang.
Dalam konferensi pers yang diadakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Ahad kemarin, Irvan Nugraha selaku Dewan Pengarah GPCI.menegaskan bahwa tujuan dari pertemuan dan diskusi dalam konferensi tersebut yaitu untuk membuka mata dunia tentang blokade dan genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Selain itu, melalui konferensi ini, para delegasi berusaha menekan seluruh pemimpin di berbagai negara untuk terus mendukung upaya membuka blokade Israel.
“Ini menjadi salah satu momen yang sangat penting bagi Indonesia untuk menguatkan peran dan potition-ingnya terhadap perjuangan (pembebasan) warga Palestina. Tidak hanya dari sisi kemanusiaan, tapi juga dari sisi politik,” lanjutnya.

Prof. Sudarnoto menambahkan, keterlibatan Indonesia dalam konferensi tersebut menegaskan bahwa rakyat Indonesia tidak akan tinggal diam terhadap apa yang terjadi di Palestina hingga hari ini. Semua upaya GSF ini menjadi bagian yang sangat penting dalam menentukan arah perjuangan umat muslim dalam membebaskan Palestina dan Baitul Maqdis.
“Perjuangan untuk Palestina itu tidak akan pernah berhenti sampai ia merdeka, dan sampai Israel dihukum sesuai dengan fatwa ICJ (International Court of Justice) dan ICC (International Criminal Court),” tegas beliau.
Upaya lain yang dilakukan adalah langkah hukum dengan melaporkan dugaan kejahatan Israel dan Netanyahu ke Kejaksaan Agung Republik Indonesia, seiring dengan diberlakukannya prinsip yurisdiksi universal dalam KUHP yang baru. Hal ini membuka kemungkinan penindakan terhadap pihak-pihak yang terlibat jika berada di wilayah Indonesia.
Selain mendorong dan mengajak masyarakat untuk terus aktif memperjuangkan kebebasan Palestina, Global Sumud Flotilla Parliamentary Conference ini juga menuntut kepada pemerintah di seluruh negara untuk terus melakukan langkah-langkah konkret dalam menindak segala kekejaman yang dilakukan oleh Israel dan Amerika. Karena mereka tak hanya melanggar hukum, tapi juga melanggar nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Mereka tak hanya melakukan kejahatan ringan, melainkan genosida dan upaya pembersihan etnis terkejam sepanjang sejarah. Dan mereka tak hanya melakukannya terhadap Palestina, tapi juga terhadap negara-negara lainnya.
Feri Amsari mengungkapkan bahwa dukungan dari berbagai lembaga kemanusiaan di Indonesia, termasuk Dompet Dhuafa, turut memperkuat keterlibatan GPCI dalam misi ini, sekaligus menjadi pesan bahwa rakyat Gaza tidak sendirian..
Di akhir, Prof. Sudarnoto juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap isu kemanusiaan, khususnya Palestina. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menyuarakan kepedulian melalui karya tulis, konten edukatif, maupun berbagai bentuk kreativitas lainnya. Karena meskipun hal tersebut mungkin tak langsung berdampak banyak, tapi semoga bisa menjadi bagian kecil dari perjuangan besar untuk Pallestina ini.
Global Sumud Flotilla 2.0 ini pada dasarnya membawa tujuan yang sama dengan misi sebelumnya, namun dengan semangat yang lebih kuat, dan gerakan yang lebih besar. Sebuah upaya kolektif untuk memperjuangkan kemanusiaan, Palestina, dan demi dunia yang lebih adil.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!

