Makin Jelas: Israel Anti Gerakan Kemanusiaan

Makin Jelas: Israel Anti Gerakan Kemanusiaan
Makin Jelas: Israel Anti Gerakan Kemanusiaan / Foto Quds News

Tindakan Israel terhadap para aktivis Global Sumud Flotilla kembali memperlihatkan watak asli politik negara tersebut yang semakin terlihat anti terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Ratusan aktivis dari berbagai negara yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza diperlakukan secara tidak manusiawi setelah dicegat di perairan internasional. Mereka dipaksa berlutut, tangan diikat, dipermalukan di depan kamera, bahkan dijadikan bahan ejekan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

Ironisnya, para aktivis itu bukan kombatan perang, bukan penyelundup senjata, dan bukan ancaman militer. Mereka adalah relawan kemanusiaan yang membawa makanan, susu bayi, dan bantuan medis untuk warga Gaza yang selama berbulan-bulan hidup dalam blokade, kelaparan, dan kehancuran.

Namun Israel memperlakukan mereka layaknya penjahat perang. Di sinilah dunia melihat bahwa Israel tidak hanya memerangi Hamas atau kelompok bersenjata Palestina. Israel sedang menunjukkan permusuhan terhadap gerakan kemanusiaan itu sendiri. Setiap upaya solidaritas internasional kepada rakyat Gaza dianggap ancaman politik. Bahkan bantuan kemanusiaan dipersepsikan sebagai “aksi propaganda” yang harus dihancurkan.

Omon-Omon Ala Penjajah Israel, Ribuan Korban Terus Berjatuhan di Gaza
Maka yang terlihat dari keseluruhan data di hari ke-204 ini adalah sebuah pola yang terus berulang dan perlahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Perlakuan tersebut memicu kecaman global. Italia, Prancis, Belanda, Inggris, Kanada, hingga pejabat Uni Eropa memanggil duta besar Israel dan mengecam tindakan tidak manusiawi tersebut. Bahkan sebagian pejabat Israel sendiri mengkritik aksi Ben-Gvir karena dianggap mempermalukan negaranya.

Namun kecaman demi kecaman tampaknya tidak pernah benar-benar mengubah perilaku Israel. Sebab Israel merasa memiliki kekebalan politik internasional. Berkali-kali melanggar hukum internasional, menyerang wilayah sipil, memblokade bantuan kemanusiaan, hingga melakukan tindakan yang oleh banyak lembaga HAM disebut sebagai kejahatan kemanusiaan, tetapi tetap minim konsekuensi nyata.

Yang paling memprihatinkan adalah sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa. Untuk kesekian kalinya PBB tampak kehilangan wibawa di hadapan Israel. Padahal tindakan mencegat kapal sipil di perairan internasional dan memperlakukan relawan kemanusiaan secara represif merupakan persoalan serius dalam hukum internasional. Tetapi dunia hanya disuguhi pernyataan keprihatinan, sidang darurat, dan resolusi yang sering kali tidak memiliki daya paksa.

Kekerasan Seksual: Strategi Keji Penjajah dalam Pemindahan Paksa Warga Tepi Barat

Ketika lembaga internasional gagal menegakkan hukum secara adil, maka yang lahir adalah ketidakpercayaan global terhadap sistem internasional itu sendiri. Dunia mulai melihat bahwa hukum internasional tampaknya keras kepada negara lemah, tetapi lunak kepada negara yang memiliki dukungan politik dan militer kuat.

Dalam jangka panjang, sikap Israel ini justru berbahaya bagi masa depan negaranya sendiri. Hari ini mungkin Israel masih memiliki dukungan dari sejumlah kekuatan besar dunia. Tetapi opini publik internasional sedang berubah sangat cepat. Generasi muda di Eropa, Amerika, Asia, hingga Amerika Latin semakin kritis terhadap kebijakan agresif Israel. Solidaritas terhadap Palestina tidak lagi hanya datang dari negara-negara Muslim, tetapi juga dari kelompok HAM, akademisi, mahasiswa, tokoh agama, hingga masyarakat sipil global.

Israel mungkin menang secara militer hari ini, tetapi perlahan kehilangan legitimasi moral di mata dunia. Negara yang terus-menerus berhadapan dengan gerakan kemanusiaan akan semakin dipandang sebagai simbol penindasan global. Jika pola ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Israel di masa depan akan menjadi negara yang semakin terisolasi secara moral dan politik dalam komunitas internasional.

Prajurit TNI Gugur Saat Pasukan Perdamaian Diserang di Lebanon, MUI Sampaikan Keprihatinan
MUI menyampaikan keprihatinan dan duka cita mendalam atas gugurnya seorang prajurit TNI dalam serangan di markas UNIFIL, di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, Ahad (29/3/2026). MUI pun mengecam keras tindakan militer Israel melancarkan serangan itu.

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak pernah cukup untuk memenangkan hati dunia. Apartheid di Afrika Selatan runtuh bukan semata karena perang, tetapi karena tekanan moral internasional yang terus membesar. Israel seharusnya belajar bahwa penghinaan terhadap aktivis kemanusiaan, pembungkaman solidaritas global, dan pengabaian hukum internasional hanya akan mempercepat lahirnya gelombang penolakan dunia terhadap eksistensi politiknya.

Gerakan kemanusiaan tidak akan berhenti hanya karena intimidasi. Justru setiap tindakan represif Israel akan memperbesar simpati dunia kepada Palestina. Dan ketika simpati itu berubah menjadi tekanan politik global yang terorganisir, Israel akan menghadapi kenyataan pahit: menjadi negara yang tidak lagi dipercaya oleh komunitas internasional.

Pada akhirnya, dunia tidak hanya sedang menyaksikan tragedi Gaza. Dunia sedang menyaksikan ujian besar bagi nurani kemanusiaan internasional. Dan sejarah akan mencatat siapa yang memilih diam, siapa yang membela keadilan, serta siapa yang berdiri melawan kemanusiaan.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.