Menghidupkan Kembali Ajaran Zuhud

Menghidupkan Kembali Ajaran Zuhud
Menghidupkan Kembali Ajaran Zuhud/foto:muslimvillage.com

Korupsi di negeri ini telah menjadi serial panjang yang tak pernah kehabisan cerita dan aktor. Bahkan mereka yang fasih bicara “Korupsi adalah pengkhianat bangsa” ternyata juga koruptor! Kapankah kisah kasus korupsi di Indonesia tamat?

Satu hal yang pasti, pemberantasan korupsi di Indonesia tak akan pernah tuntas dengan hanya mengandalkan pemerintah. Orang banyak hanya lantang menuntut penegakan hukum, seakan aparat hukum negeri ini telah steril dari hasrat korupsi. Ketika korupsi masih juga terjadi, orang banyak ramai-ramai menghujat pemerintah dan penegak hukum.

Bukankah itu telah lama kita lakukan, bahkan sebelum KPK lahir? Faktanya, korupsi masih terus terjadi. Bahkan semakin massif dan brutal!

Barangkali perlu kita selipkan sedikit tanya, apa yang keliru dengan cara kita memandang kehidupan dunia? Mengapa kita begitu terdorong untuk maruk dan tamak pada materi?

Mudah-mudahan pertanyaan ini mampu membimbing kita untuk menekan semaksimal mungkin kasus korupsi secara bersama-sama. Bukan hanya mengandalkan pendekatan hukum oleh negara.

Fiqh Mustadafin: Frame-Work Gerakan Politik Ulama - Tokoh Umat
Sistem ekonomi ribawi adalah bentuk nyata kapitalisme global. Sedangkan di sekelilingnya ada pesantren dan banyak penduduk yang miskin secara struktural. Keadilan sosial pun menjadi barang mewah yang hanya ada di tulisan dan buku-buku di sekolahan.

Ironisnya, cara pandang yang keliru pada kehidupan dunia yang melahirkan ketamakan itu tidak hanya menjangkiti para pejabat dan elite kekuasaan, tetapi juga telah merasuk ke lapisan masyarakat yang lebih luas. Media sosial menjadi panggung besar untuk flexing, memamerkan harta, kemewahan, dan simbol-simbol status yang kian hari semakin dianggap wajar, bahkan dibanggakan.

Budaya pamer yang dilandasi sikap maruk pada dunia ini secara perlahan membentuk cara berpikir baru; nilai diri diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari apa yang diperbuat. Kehormatan ditentukan oleh gaya hidup, bukan oleh integritas dan akhlak.

Untuk mengoreksi cara pandang kita kepada pesona dunia inilah, ajaran zuhud yang dahulu hidup dan membumi dalam tradisi Islam salaf penting untuk kita simak, dalami, dan praktikkan kembali dalam kehidupan hari ini.

Karena sudah lama tak dipelajari oleh orang banyak, banyak yang mengira zuhud identik dengan kemiskinan, anti-harta, atau menolak dunia sepenuhnya. Padahal ajaran zuhud tidak seperti itu.

Membaca Ulang Peringatan Milad Nabi Muhammad ﷺ dalam Perspektif Sosiologi Politik Al Qur’an
Di dalam bahasa Arab, “maulid” atau “milad” berarti hari lahir. Namun, peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ jangan berhenti pada aspek perayaan simbolis yang kering dari semangat dakwah perjuangan Nabi dalam menyebarkan Islam.

Zuhud bukanlah soal berapa banyak harta yang ada di tangan, melainkan seberapa besar dunia menguasai hati. Seorang muslim bisa saja kaya, memiliki jabatan, atau hidup berkecukupan, namun tetap zuhud selama hartanya tidak menjadikannya rakus, sombong, dan lalai dari Allah serta penderitaan sesama.

Zuhud adalah sikap batin: menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Dunia diperlakukan sebagai sarana, bukan tujuan. Ia dicari secukupnya, digunakan secara bertanggung jawab, dan dilepas tanpa penyesalan ketika harus ditinggalkan.

Zuhud dan Krisis Moral Sosial

Korupsi, dalam banyak kasus, bukan semata soal kebutuhan ekonomi, melainkan soal kerakusan. Jabatan tidak lagi dipahami sebagai amanah, tetapi sebagai peluang menumpuk kekayaan dan media pemuas kerakusan. Gaya hidup mewah menjadi pembenar; rumah harus megah, kendaraan harus mahal, liburan harus sensasional. Ketika gaya hidup naik, moral justru turun.

Fenomena ini diperparah oleh tekanan sosial. Media sosial menciptakan kompetisi semu: siapa paling sukses, siapa paling berkilau. Akibatnya, banyak orang rela menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan yang haram, demi menjaga citra dan gengsi untuk terlihat "wah" di media sosial.

Di sinilah ajaran zuhud menjadi sangat relevan. Zuhud membebaskan manusia dari perbudakan materi dan pengakuan sosial.

Tadabbur Surat Al-Baqarah Ayat 155 (Bagian 1): Konsep Ujian dalam Islam
Segala sesuatu di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada siang dan malam, laki-laki dan perempuan, serta rotasi antara bahagia dan sedih. Ibarat roda yang terus berputar, kadang berada di atas, kadang di bawah. Ujian yang datang silih berganti merupakan keniscayaan bagi seluruh makhluk di muka bumi. Bahkan, ada sekelompok manusia yang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan keutamaan zuhud dalam sebuah hadits yang sangat mendalam maknanya:

"Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia'. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu'.” (HR Ibnu Majah; dinilai hasan oleh An-Nawawi)

Hadits ini mengajarkan dua dimensi zuhud. Pertama, zuhud terhadap dunia: tidak terikat secara berlebihan pada kenikmatan dan gemerlapnya. Inilah jalan menuju cinta Allah. Kedua, zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia: tidak iri, tidak serakah, tidak menjilat demi keuntungan pribadi. Inilah jalan menuju cinta sesama manusia.

Jika kisah korupsi hari ini justru menyeret aktor agamawan dalam urusan keagamaan semacam ibadah haji, sekali lagi ini menegaskan betapa ajaran zuhud telah banyak dilupakan oleh kaum muslimin. Ibadah haji bukannya agar makin dekat kepada Allah dan mengingat pengadilan di padang mahsar, tetapi justru menjadi sekadar ajang bisnis dan cinta dunia.

Tadabbur Surat Al-Baqarah Ayat 155 (Bagian 2): Konsep Ujian dalam Islam
Kadar ujian bagi manusia dengan sebagian yang lainnya berbeda-beda dan telah ditentukan. Yang pasti, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Lantas, mengapa ujian merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar?

Islam tidak mengajarkan asketisme ekstrem, Islam tetap memperkenankan memperoleh keuntungan duniawi dari proses penyelenggaraan suatu ibadah. Islam juga tidak membenarkan hedonisme yang menutupi essensi kehidupan ukhrowi, sehingga membabi-buta untuk sekadar untung dan hedon di dunia. Gaya hidup muslim adalah keseimbangan: bekerja keras tanpa rakus, menikmati rezeki tanpa berlebihan, dan hidup layak tanpa pamer.

Menghidupkan kembali ajaran zuhud berarti membangun kesadaran bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada ketakwaan dan kebermanfaatan. Dunia bukan musuh, tetapi ujian. Ia boleh digenggam dan dinikmati tetapi tak boleh memperbudak!

Urip iku mung mampir ngombe; begitu kata kiai kita dulu.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.