KH Hasyim Asy’ari Sang Pembaharu Pengajaran Islam Tradisional

KH Hasyim Asy’ari Sang Pembaharu Pengajaran Islam Tradisional
Ilustrasi KH M Hasyim Asy'ari Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng / Sabili.id

Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur, yang didirikan tahun 1899 itu telah berkembang menjadi salah satu pesantren terbesar dan terpenting di Pulau Jawa abad ke-20. Salah satunya karena Pondok Pesantren Tebuireng menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam Tradisional di tahun 1900-an. Para santri di Pesantren Tebuireng tak hanya belajar ilmu agama dan kitab kuning, tetapi juga pengetahuan umum. Di awal berdirinya pesantren itu, para santri juga belajar membaca dan menulis huruf latin, berorganisasi, dan berpidato.

Tebuireng sebenarnya adalah nama sebuah dusun kecil tempat pesantren itu didirikan. Lokasinya di Desa Cukir Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng adalah KH M Hasyim Asy'ari. Berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng dilatari ketika di penghujung abad ke-19 muncul banyak pabrik milik warga asing di dusun tersebut, terutama pabrik gula Cukir (Tjoekir). Di tahun 1899, para penduduk dusun yang belum siap menerima industrialisasi, kerap menggunakan upah yang mereka terima dari bekerja di pabrik gula itu untuk membeli minuman keras (miras), lalu mabuk-mabukan. Kondisi itu memprihatinkan buat Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim pun lantas membeli sebidang tanah di dusun Tebuireng. Di atas tanah itu, tepatnya tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H atau 3 Agustus 1899 M, Kiai Hasyim mendirikan sebuah bangunan kecil terbuat dari anyaman bambu berukuran 6 X 8 meter. Disekat menjadi dua bagian, bagian belakang bangunan sederhana itu dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim bersama istrinya, Nyai Khodijah, dan bagian depan dijadikan tempat shalat (mushala). Beliau pun mulai mengajar mengaji di mushala itu.

Waktu itu ada delapan orang yang menjadi santri Kiai Hasyim. Tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 orang. Namun, aktivitas Kiai Hasyim mendirikan pesantren di dusun Tebuireng belum diterima baik oleh masyarakat sekitar. Bahkan, Kiai Hasyim dan para santri kerap mendapatkan teror, gangguan, fitnah, serta ancaman. Ada teror berupa lemparan batu, kayu, bahkan tusukan senjata tajam ke dinding kayu mushala. Sering para santri harus tidur bergerombol di tengah-tengah ruangan pesantren, karena takut tertusuk benda tajam melalui dinding kayu. Saat para santri keluar lingkungan pondok, mereka juga kerap diancam agar berhenti belajar dari Kiai Hasyim.

Kira-kira selama dua setengah tahun ragam gangguan itu berlangsung. Mengantisipasi wujud konkret ancaman yang kian membahayakan dan menghalangi sejumlah aktifitas santri, para santri disiagakan dan bergiliran berjaga di pondok. Seiring dengan itu, Kiai Hasyim mengutus seorang santrinya untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat, dan silaturahmi dengan empat sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka adalah Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai Samsuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet.

Baca juga: KH Ahmad Dahlan Sang Pendidik

Empat sahabat akrab Kiai Hasyim itu lalu datang ke Tebuireng untuk melatih pencak silat dan ilmu-ilmu kanuragan. Selama sekitar delapan bulan para santri dilatih. Bekal kemampuan pencak silat dan olah kanuragan membuat para santri tak lagi khawatir terhadap gangguan dari luar.

Kiai Hasyim sering menjalankan ronda malam seorang diri. Sering beliau berhadapan dan beradu fisik dengan kawanan penjahat, yang dapat dengan mudah beliau atasi. Sejak itu, banyak di antara para pengancam yang sadar dan justru meminta diajari ilmu pencak silat. Mereka pun lantas menjadi murid dan santri Kiai Hasyim. Hal itu membuat Kiai Hasyim kian dikenal masyarakat. Apalagi, selain dikenal memiliki ilmu pencak silat, Kiai Hasyim juga dikenal ahli di bidang pertanian, pertanahan, dan produktif menulis. Sehingga, Kiai Hasyim kian diakui sebagai bapak, guru, sekaligus pemimpin masyarakat.

Berguru di Makkah.

Muhammad Hasyim Asy’ari lahir di Desa Gedang, Diwek, Jombang, Jawa Timur, 24 Dzulqa’dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M. Dikutip dari laman jatim.nu.or.id, ayah dari Hasyim Asy’ari adalah KH Asy'ari, pemimpin Pesantren Keras, Jombang. Dari nasab ayahnya, KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai ke Rasulullah saw. Beliau juga keturunan Sunan Giri, salah satu dari walisongo, penyebar agama Islam di Jawa. Ibunya, Halimah, adalah keturunan Raja Brawijaya VI, raja terakhir Majapahit yang masuk Islam dan berganti nama menjadi Pangeran Benawa atau Jaka Tingkir.

Kiai Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Sejak kanak-kanak, Kiai Hasyim Asy’ari hidup dalam lingkungan pesantren tradisional dan belajar dasar-dasar agama Islam dari ayahnya di Pesantren Keras. Di usia 15 tahun, beliau merantau untuk menuntut ilmu di berbagai pesantren ternama di Pulau Jawa. Antara lain di Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pesantren Tambakberas (Jombang), Pesantren Cepoko (Ngawi), dan Pesantren Sarang (Rembang).

Ketika berusia 21 tahun, Kiai Hasyim menikah dengan Nafisah, putri dari Kiai Ya’qub Siwalan Panji. Semangat belajar Hasyim Asy’ari dan ketekunan beliau hingga menguasai dengan baik berbagai disiplin ilmu menyebabkan gurunya, KH Ya’qub, tertarik menjadikan beliau sebagai menantu. Setelah menikah, KH Hasyim Asy’ari bersama istrinya dan mertuanya berangkat menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Baca juga: Jenderal Soedirman, Bapak TNI dan Konseptor Perang Gerilya

Ketika itu, perjalanan menuju Makkah harus melewati waktu berbulan-bulan, menggunakan kapal laut. Di Tengah perjalanan itu, Nyai Nafisah hamil. Di tanah suci Makkah, Nyai Nafisah melahirkan. Putra pertama Kiai Hasyim itu diberi nama Abdullah. Beberapa hari setelah melahirkan, Nyai Nafisah meninggal dunia. Saat masih diliputi kesedihan karena ditinggal sang istri, KH Hasyim Asy’ari kembali kehilangan. Abdullah, putra pertamanya, dipanggil menghadap Allah SWT 40 hari setelah dilahirkan.

Hari-hari berikutnya, KH Hasyim Asy’ari tinggal di Makkah. Di tanah suci, beliau belajar kepada ulama-ulama terkemuka, semisal Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (terutama di bidang tauhid dan ghirah/semangat kebangkitan), Syaikh Muhammad Salih al-Samarqandi, Syaikh Thahir al-Ja’fari, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, dan Syaikh Muhammad Mahfuzh al-Tarmisi yang mengajar ilmu hadits. Dua guru besar Kiai Hasyim, yaitu Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syaikh Muhammad Mahfuzh al-Tarmisi itu juga tempat Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya pernah belajar pada guru yang sama.

Selama tinggal di Makkah, KH Hasyim Asy’ari juga mengajar di Masjidil Haram, mendapat gelar Syaikhul Haram, dan menulis beberapa karya ilmiah. Di antara karyanya adalah “Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” dan “Al-Imam al-Ghazali wa Arauhu al-Kalamiah”. Setelah 7 tahun tinggal di Makkah untuk mendalami ilmu agama, beliau kembali ke tanah air.

Lama menduda, KH Hasyim Asy’ari lalu menikah lagi. Ia menikahi Nyai Khadijah. Tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng. Di kemudian hari, Pondok Pesantren Tebuireng berkembang menjadi pesantren besar dan terpandang. Bisa dikatakan, hampir sebagian besar pesantren di Jawa dan Sumatera lahir dari rahim Pesantren Tebuireng. Sebab, para kiai di pesantren-pesantren tersebut juga pernah menjadi santri Kiai Hasyim. Namun, dua tahun setelah mendirikan pesantren, Nyai Khadijah meninggal dunia. Pernikahan keduanya tidak dikaruniai keturunan.

Kiai Hasyim menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh. Pernikahan KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh dikaruniai 10 anak, yaitu Hanah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hafidz, Abdul Karim, Ubaidillah, Masruroh, dan Muhammad Yusuf. Akhir tahun 1920, Nyai Nafiqoh wafat. Duka mendalam kembali dirasakan KH Hasyim Asy'ari atas kepergian sang istri.

Baca juga: Belajar Kaderisasi dari Mohammad Natsir

Kemudian KH Hasyim Asy’ari menikah lagi. Ia menikahi putri Kyai Hasan pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri, yang bernama Nyai Masruroh. Pernikahan mereka dikaruniai 4 anak, yaitu Abdul Qodir, Fatimah, Khadijah, dan Mohammad Ya’qub. Selain itu, Kiai Hasyim juga pernah menikah dengan Nyai Amini. Nyai Amini adalah janda dari Kyai Ma'shum, adik dari KH Hasyim Asy’ari yang telah meninggal dunia lebih dulu. Pernikahan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Amini tidak dikaruniai keturunan, tetapi Nyai Amini punya 4 orang anak dari pernikahan sebelumnya, yaitu Syarofah, Ali, Nafisah, dan Ulyatun.

Seorang Guru Sejati.

KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai seorang guru dan pendidik sejati. Secara total dan sungguh-sungguh beliau melaksanakan tugas sebagai guru. Beliau merasakan hari-hari yang terindah dalam hidupnya adalah ketika dapat membahagiakan orang lain, terutama santri, dengan berbagi ilmu. Keluasan ilmu dan keluhuran akhlak Kiai Hasyim menjadi daya pikat tersendiri bagi para santrinya. Sehingga, mereka sangat akrab dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai guru sekaligus ulama penuntun umat.

KH Hasyim Asy’ari juga dikenal ahli dalam mengatur kurikulum pesantren dan strategi pengajaran. Beliau dikenal juga sebagai pembaharu pendidikan di Pondok Pesantren tradisional. Antara lain beliau berpandangan, keberhasilan sebuah pendidikan selain ditentukan oleh kualitas gurunya, juga oleh nilai kurikulum dan strategi serta metodologi penyampaian materi pelajaran. Sehingga, waktu itu banyak pembaharuan yang dilakukan KH Hasyim Asy’ari guna meningkatkan kualitas lulusan pesantren.

Gagasan dan pemikiran KH Hasyim Asy’ari tentang pendidikan diungkapkan dalam bukunya, “Adabul ‘Alim Wa Muata’alim”. Buku itu berisi etika belajar dan mengajar, khususnya di dalam pendidikan pesantren. KH Hasyim ingin, madrasah atau pesantren dapat menegakkan etika belajar dengan sempurna agar tujuan pendidikan, yaitu membentuk lulusan yang berkualitas baik, dapat tercapai. Buku tersebut menjadi rujukan bagi madrasah dan pesantren dalam mengadakan pembaharuan di madrasah dan pesantren.

Selain aktif sebagai guru, KH Hasyim Asy’ari juga berprofesi sebagai petani dan pedagang. Ia memiliki tanah puluhan hektare. Biasanya, dua hari dalam seminggu Kyai Hasyim istirahat mengajar untuk bertani dan berdagang. Dari usaha itulah beliau dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sekaligus membantu dana untuk perjuangan dan menolong orang miskin atau anak yatim.

Seperti halnya Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Hasyim juga belajar pemikiran tokoh pembaharu dan ulama Mesir, Muhammad Abduh, yang saat itu sedang giat melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam di negerinya. Gerakan pembaharuan ini juga menjadi inspirasi bagi KH Asyim Asy’ari, untuk menyelamatkan umat melalui pesantren dan madrasah yang beliau dirikan. Lewat peantren pula, Kiai Hasyim Asy’ari berjuang dan bekerja sekuat tenaga mendidik anak bangsa agar negeri ini bisa merdeka dan lepas dari penjajah.

Baca juga: KH Noer Ali, Ulama dan Pahlawan dari Betawi

Yang paling dicatat sebagai sumbangsih besar Kiai Hasyim dalam dunia pendidikan dan dakwah adalah ketika mendirikan organisasi Nahdlatul ‘Ulama (NU) bersama KH Abdul Wahab Hasbullah tahun 1926. Organisasi NU bergerak di bidang dakwah dan pendidikan, yang lalu merambah ke dunia politik. Sejak awal berdirinya, KH Hasyim Asy’ari diamanahi posisi sebagai pemimpin organisasi NU (Rais Akbar).

Pahlawan Nasional.

Tak hanya dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu, KH Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai pejuang yang gigih membela agama dan bangsa. Beliau aktif menghadapi penjajahan kolonial Belanda. KH Hasyim Asy’ari juga turut serta dalam pergerakan nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Beliau menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), lembaga legislatif pertama Republik Indonesia. Kiai Hasyim juga berperan dalam perjuangan fisik melawan penjajahan Belanda.

Sebagai ulama kharismatik dan tokoh umat, KH Hasyim Asy’ari mengelorakan semangat perjuangan menentang penjajahan Belanda, terutama di kalangan anak muda dan para santri. Begitu pula di masa penjajahan Jepang. Beliau giat membangkitkan semangat juang generasi muda dan ikut serta dalam perjuangan di garis depan. Hal itu membuat tentara Jepang marah besar dan menangkap KH Hasyim Asy’ari lalu memasukkan beliau ke dalam penjara. KH Hasyim Asy’ari pun diasingkan ke Mojokerto. Setelah berbulan-bulan ditahan, senyatanya tak menyurutkan semangat perjuangan beliau. Bahkan justru semakin menambah energi baru dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Seperti digambarkan di film “Sang Kiai” karya sutradara Rako Prijanto tahun 2013, pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Belanda. Isinya, hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardlu ‘ain atau wajib bagi setiap mukallaf (orang dewasa) yang berada dalam radius 88 kilometer. Jadi, pahala perang melawan penjajah setara dengan jihad fi sabilillah. Sehingga, orang Islam yang gugur dalam perang melawan penjajah itu dihukumi mati syahid. Fatwa yang lalu dikenal sebagai Resolusi Jihad itu menjadi penyemangat para pejuang kemerdekaan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan melawan penjajahan Belanda.

Mbah Hasyim – demikian Nahdliyin biasa memanggil beliau – wafat dalam usia 76 tahun di Jombang, pada 25 Juli 1947 (7 Jumadil Akhir 1366 H) pukul 03.00 pagi, karena sakit. Beliau dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Kepergian pejuang besar dan pendidik sejati itu ke tempat peristirahatan terakhir diantarkan dengan duka cita yang dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan para santri Tebuireng.

Baca juga: The Grand Old Man Haji Agus Salim

Kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari membuat beliau berperan besar memajukan masyarakat dan membangkitkan semangat perjuangan untuk menghadapi penjajah kolonial Belanda. Nahdlatul ‘Ulama sebagai perkumpulan ulama untuk menyatukan visi dan misi perjuangan banyak mencetak kader pejuang melalui pesantren. Banyak di antara santrinya bergabung dalam barisan perjuangan dalam membebaskan negeri ini dari penjajahan.

KH Hasyim Asy’ari telah memberikan sumbangsih besar bagi agama dan bangsa dengan ilmu, amal, dan jihadnya. Ayahanda pahlawan nasional, KH Abdul Wahid Hasyim, itu juga melahirkan generasi-generasi ulama dan pemimpin bangsa lewat Pesantren Tebuireng dan NU. Begitu banyak peran dan kontribusi KH Hasyim Asy’ari bagi bangsa dan negara, sehingga pada 17 November 1964 pemerintah Indonesia menganugerahi Rais Akbar PBNU itu gelar Pahlawan Nasional.

Selama hidup, KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama dan guru kharismatik. Beliau juga telah menghasilkan ratusan judul karya ilmiah. Di antaranya “Al-Imam al-Ghazali wa Arauhu al-Kalamiah”, “Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah”, “Nadzom al-Ibanah ‘an Usul al-Diyanah”, “Al-Tahrir fi Usul al-Fiqh”, dan “Nadzom Jawahir al-Tauhid”. Semoga pemikiran dan perjuangan beliau dilanjutkan generasi berikutnya, khususnya dalam membangun bangsa ini ke depan.


Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.