Pada Selasa (25/2/2025), Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengecam penangkapan Mahmoud Jabarin, anggota Brigade Jenin, oleh aparat keamanan Otoritas Palestina. Hamas menyebut tindakan tersebut sebagai “pelanggaran garis merah” (melampaui batas, red) dan merupakan bentuk penyiksaan terhadap para pejuang perlawanan Palestina. Di dalam pernyataannya, Hamas menegaskan, penangkapan ini terjadi di tengah meningkatnya gelombang penangkapan politik di Tepi Barat, yang bertepatan dengan agresi militer Israel di wilayah utara.
“Tindakan aparat keamanan yang menahan dan menyiksa Mahmoud Jabarin menunjukkan keberanian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam melanggar batas-batas nasional dan sosial,” kata Hamas dalam pernyataan resminya.
Hamas juga menyinggung insiden sebelumnya, di mana aparat Otoritas Palestina menyerang perempuan Palestina, menekan aktivitas nasional, dan menahan sejumlah jurnalis. Gerakan Hamas mengecam penangkapan politik yang dilakukan oleh Otoritas Palestina, menyebutnya sebagai “tindakan tercela yang selaras dengan kejahatan pendudukan Israel”.
Hamas menegaskan perlunya menghentikan pelanggaran tersebut dan menyerukan persatuan nasional untuk melawan serangan Israel yang semakin intensif. Hamas memeringatkan bahwa tindakan semacam ini tidak hanya merusak persatuan nasional, tetapi juga melemahkan upaya perlawanan terhadap pendudukan Israel.
Brigade Jenin
Brigade Jenin atau Batalyon Jenin adalah kelompok Perlawanan Palestina yang didirikan pada tahun 2021 oleh Jamil Al-Amouri, seorang pejuang dari Jihad Islam Palestina (PIJ). Organisasi ini berbasis di kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat bagian Utara.
Pembentukan Brigade Jenin dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting. Di antaranya adalah “Operasi Terowongan Kebebasan” pada September 2021, sebuah aksi heroik enam tahanan Palestina yang melarikan diri dengan fasilitas yang terbatas dari penjara Gilboa di Israel. Peristiwa ini meningkatkan semangat perlawanan di kalangan warga Jenin dan mendorong pembentukan kelompok militan yang lebih terorganisasi.
Sejak pendiriannya, Brigade Jenin telah terlibat dalam berbagai konfrontasi bersenjata dengan pasukan Israel, mengklaim diri mereka sebagai gerakan perlawanan yang menyerukan perlawanan bersenjata terhadap Israel dan mendorong partisipasi Otoritas Palestina dalam gerakan tersebut. Selain itu, Brigade Jenin telah mengadopsi taktik perlawanan yang lebih canggih, termasuk pembangunan terowongan di bawah kamp pengungsi Jenin untuk menghindari deteksi dan memfasilitasi pergerakan mereka selama operasi militer.
Meski pun berfokus pada perlawanan terhadap Israel, hubungan antara Brigade Jenin dengan Otoritas Palestina kadang-kadang tegang. Terutama ketika Otoritas Palestina melakukan operasi keamanan di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, pembentukan Brigade Jenin mencerminkan dinamika kompleks perlawanan Palestina di Tepi Barat, dengan berbagai faksi bersatu dalam upaya bersama melawan pendudukan Israel.
(Sumber: Al Jazeera)

Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!