Mengenal Perkuliahan di Sudan

Mengenal Perkuliahan di Sudan

Penulis: Muhammad Yusuf Abdullah (Mahasiswa Tafsir Al-Quran IUA Sudan & Kontributor sabili.id)

Sampai hari ini, Timur Tengah masih menjadi tujuan utama memperdalam agama islam. "Manarotul ulum", sebutannya. Thalibul ilmi dari seluruh penjuru dunia sudah sejak dulu berbondong-bondong menuju Timur Tengah, tak terkecuali dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ulama nusantara yang pernah menimba ilmu bahkan berkiprah di Timur Tengah.

Sebut saja Syaikh Yasin Al-fadani, Syaikh Khatib Al-Minangkabawi, Syaikh Ahmad Dahlan, dan Syaikh Hasyim Asy’ari. Sampai hari ini pun, daya tarik Timur Tengah masih luar biasa di mata thalibul ilmi Indonesia terutama calon mahasiswanya. Selain karena berlimpahnya literatur keislaman, juga karena negara-negara di Timur Tengah banyak menawarkan beasiswa.

Setiap tahunnya, ribuan orang berusaha menjadi mahasiswa baru di kampus-kampus ternama Timur Tengah. Al-azhar Mesir dan Universitas Islam Madinah jadi pilihan utamanya. Disusul dengan beberapa negara lainnya, mulai dari Yaman, Maroko, Tunisia, Libya hingga Sudan. Dan di tulisan ini, penulis akan membahas spesifik tentang Sudan. Negara Afrika yang ter-“arabkan.”

Bukan baru-baru ini saja Sudan menjadi salah satu tujuan belajar di Timur Tengah. Tercatat, setidaknya sejak tahun 80an sudah ada mahasiswa Indonesia yang kuliah di Sudan. Dibuktikan dengan Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan yang sudah berusia 41 tahun pada Februari 2023.

Setiap tahunnya, jumlah mahasiswa Indonesia yang datang ke Sudan makin bertambah, puncaknya pada tahun 2019. Saat itu, ada lebih dari 500 mahasiswa baru yang datang. Jumlah tersebut bahkan melebihi jumlah mahasiswa lama yang ada di Sudan saat itu. Bukan tanpa alasan, negara di timur laut benua afrika yang berbatasan langsung dengan Mesir ini memang memiliki cukup banyak keistimewaan.

Diantaranya, masih eksisnya penggunaan bahasa arab resmi/fushah di kehidupan harian masyarakat Sudan, banyaknya dars (talaqqi) bersama para syaikh dari berbagai negara, ramahnya masyarakat Sudan terhadap orang asing, juga kesederhanaan dan keterbatasan hidup yang akan memberi banyak hikmah dan pelajaran.

من عاش في السودان عاش في كل مكان
“Siapa yang bisa hidup di Sudan, maka bisa hidup di mana saja.”

Bahkan belum lama ini kita mengetahui bahwa seorang ulama Indonesia, Ustadz Abdul Somad menyelesaikan program doktoralnya di Sudan. Untuk mengenal Sudan lebih dalam, terutama dalam urusan belajar dan dunia perkuliahan, setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita ketahui.

Universitas yang Tersedia

Seperti normalnya setiap negara, Sudan pun memiliki banyak universitas. Tapi yang kali ini akan kita bahas adalah universitas-universitas yang jadi tempat kuliah mahasiswa Indonesia.

Yang pertama, International University of Africa (selanjutnya ditulis IUA). IUA, bisa dikatakan merupakan kampus utama yang menjadi tujuan mahasiswa Indonesia. Secara jumlah, ada ratusan mahasiswa Indonesia yang belajar di kampus ini. Selanjutnya, ada juga beberapa kampus lain yang menjadi tempat kuliah mahasiswa Indonesia.

Diantaranya, Universitas Islam Omdurman, Universitas Al-Quranul Karim di kota Omdurman dan Madani, Universitas Jabroh, dan Khartoum International Institute for Arabic Language (KIIFAL). Diantara sebab banyaknya mahasiswa Indonesia di IUA adalah karena sejak dulu IUA menjadi satu-satunya kampus (Selain KIIFAL)  yang rutin memberikan beasiswa kepada mahasiswa lintas negara, termasuk Indonesia. Untuk tambahan Informasi, saat ini ada sekitar 800-an mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Sudan.

Sistem Kuliah

Karena penulis saat ini kuliah di IUA, maka penulis hanya bisa menyampaikan sistem kuliah di IUA. Dari pengalaman 6 semester kuliah, penulis merasa kampus ini tidak banyak membebani mahasiswanya dengan berbagai tugas. Lebih banyak penyampaian materi searah dari dosen. Mahasiswa mendengarkan, sesekali diminta menjelaskan ulang, lalu mengembangkannya lewat belajar mandiri.

Yang menjadi keunggulan IUA ialah, para pengajarnya yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Bukan hanya menguasai ilmu di bidangnya, tapi juga banyak yang hafal Al-Qur’an. Sehingga penyampaian materi sering terhubung dengan ayat-ayat Al-Quran. Kuliah, rasa kajian.

Keunggulan lainnya adalah sistem ujian yang sudah berbasis komputer, sehingga ujian jadi lebih mudah dan sederhana. Walau, menurut sebagian orang ini justru menjadi kekurangan karena menurunkan kemampuan menulis bahasa arab mahasiswa IUA.

Kajian Bersama Syaikh

Kegiatan belajar mahasiswa di Sudan bukan hanya ada di kegiatan perkuliahan. Justru, geliat keilmuan semakin hidup lewat berbagai dars (talaqqi) yang biasanya diadakan di masjid-masjid, di kediaman syaikh, atau juga di salah satu kediaman mahasiswa indonesia. Selain dars bersama syaikh, ada juga forum mudzakaroh, murojaah dan diskusi bersama menelaah kitab-kitab dengan sesama mahasiswa Indonesia. Dars dan mahasiswa di Sudan seperti halaman depan dan belakang selembar uang. Tak terpisahkan.

Keorganisasian

Kegiatan keorganisasian juga jadi hal penting yang perlu diketahui. Di Sudan, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Sudan) berdiri dan menaungi seluruh pelajar Indonesia, di bawahnya ada lembaga-lembaga kedaerahan yang menaungi pelajar Indonesia berdasar daerah asal masing-masing.

Salah satu kegiatan PPI Sudan bersama para mahasiswa indonesia / M.Yusuf
Salah satu kegiatan PPI Sudan bersama para mahasiswa indonesia / M.Yusuf

Selain itu, ada juga cabang istimewa dari berbagai organisasi di indonesia. Seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Wahdah Islamiyah dan lain lain. Dengan hal ini, kita tidak perlu takut merasa sendirian ketika hidup di Sudan. Karena melalui berbagai organisasi yang ada, kita akan menemukan banyak kegiatan bersama mahasiswa Indonesia.

Cara Mendaftar

Seperti pribahasa “Banyak jalan menuju Roma”, demikian pula untuk menjadi mahasiswa di Sudan. Ada banyak jalannya. Tapi berhubung pendaftaran tahun ini sudah ditutup, dan setiap tahun sering terjadi perubahan sistem pendaftaran, penulis akan memberi gambaran umum saja. Yang lebih detail insyaallah kita bahas di tulisan berikutnya.

Salah satu caranya, untuk mendaftar di IUA adalah melalui IMI IUA (Ikatan Mahasiswa Indonesia IUA) yang dipercaya kampus untuk membantu pendaftaran bagi mahasiswa Indonesia. Informasi dari IMI IUA bisa diikuti melalui akun instagram @IMI_IUA. Sedangkan untuk mendaftar di kampus yang lain, bisa melalui perwakilan, atau minta didaftarkan oleh mahasiswa Indonesia yang sudah ada di Sudan. Biasanya proses pendaftaran hanya membutuhkan pemberkasan.

Semoga informasi ini bermanfaat dan mampu memperkaya pengetahuan pembaca tentang perkuliahan di Sudan.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.