Militer penjajah Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran pada Selasa (18/3/2025) dini hari. Mereka menargetkan rumah-rumah warga sipil, tenda-tenda pengungsi, dan tempat perlindungan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Serangan itu menewaskan dan melukai ratusan warga Palestina, termasuk anak-anak.
Hamas mengutuk keras tindakan Penjajah Israel itu dan mengatakan dalam pernyataannya bahwa Perdana Menteri Penjajah Israel, Benjamin Netanyahu, dan pemerintahannya kembali melancarkan aksi genosida terhadap warga sipil yang tak berdaya di Jalur Gaza. Dan secara terang-terangan, Penjajah Israel telah mengkhianati perjanjian gencatan senjata yang sudah berlaku sejak 19 Januari lalu.
"PM Penjajah Israel, Netanyahu, dan pasukan biadabnya harus bertanggung jawab penuh atas serangan berbahaya terhadap Gaza dengan menjadikan warga sipil yang tidak berdaya sebagai sasaran kebrutalan penjajah, juga atas kebijakannya yang mengakibatkan warga Gaza kelaparan," kata Hamas.

Pejuang Hamas juga meminta para mediator untuk segera "menuntut Netanyahu dan pemerintahannya agar bertanggung jawab penuh atas pelanggaran dan pengkhianatan perjanjian tersebut". Mereka juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanannya untuk segera mengeluarkan resolusi yang mewajibkan Israel menghentikan agresinya yang bengis.
Tercatat, dengan dukungan dari Amerika Serikat, Israel telah melakukan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, menyebabkan lebih dari 160.000 warga Palestina tewas dan terluka, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan wanita, serta lebih dari 14.000 orang lainnya hilang.

Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!