Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Pusat Studi Al Jazeera mengungkap bagaimana perlawanan Palestina berhasil mengelola perang psikologis yang mampu menyaingi narasi Israel. Di dalam studi tersebut, Ketua Departemen Media di Universitas Al-Mahrah, Yaman, Abdullah Bakhash, menganalisis strategi perang psikologis Israel dan efektivitas media perlawanan Palestina dalam meresponnya.
Perang yang Tak Hanya Fisik, tetapi Juga Psikologis
Menurut penelitian tersebut, pejuang Palestina dikenal sebagai salah satu kelompok yang paling berpengalaman dalam propaganda dan perang psikologis. Strategi yang mereka gunakan tidak hanya bertujuan untuk merusak moral pasukan Israel, tetapi juga memerkuat kepercayaan rakyat Palestina terhadap perjuangan mereka.
Serangan 7 Oktober 2023 bukan sekadar operasi militer biasa. Peristiwa itu digambarkan sebagai "invasi darat oleh ribuan pejuang ke wilayah ilegal Israel dan kamp-kamp militer", tetapi juga menjadi "awal dari invasi psikologis yang mengejutkan".

Bagaimana Israel Menggunakan Media dalam Perang Psikologis?
Di dalam penelitian tersebut, sekitar 40 responden dari masyarakat Palestina dimintai pendapat mengenai alat-alat yang digunakan Israel dalam perang psikologis mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa:
1. Sebanyak 68% responden menilai media Amerika Serikat sebagai alat utama dalam propaganda Israel.
2. Media sosial berada di posisi kedua sebagai sarana utama penyebaran narasi Israel.
3. Media Israel menempati urutan ketiga dalam pengaruh terhadap opini publik.
4. Media Arab juga turut memainkan peran dalam membentuk persepsi terhadap konflik.
5. Selebriti dan tokoh terkenal turut serta dalam menyebarkan narasi yang mendukung kepentingan Israel.
Kepercayaan Publik terhadap Media Perlawanan Palestina
Di tengah gempuran propaganda Israel, media yang berafiliasi dengan pejuang Palestina ternyata mendapatkan kepercayaan yang cukup tinggi dari masyarakat Palestina. Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 70% responden merasa puas terhadap kinerja media perlawanan dalam menghadapi narasi Israel.
Tingkat kepercayaan ini menunjukkan bahwa meski pun Israel memiliki dominasi dalam hal propaganda global, media perlawanan Palestina tetap mampu memertahankan posisinya di mata rakyat Palestina. Kemampuan mereka dalam menyampaikan realitas di lapangan serta membangun narasi tandingan telah menjadi senjata utama dalam perang psikologis ini.
Kesimpulan
Perang di Gaza bukan hanya pertempuran fisik, tetapi juga perang narasi dan psikologi. Israel menggunakan berbagai media untuk membentuk opini publik global, tetapi perlawanan Palestina telah menunjukkan kemampuannya dalam menentang dominasi propaganda ini.

Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!