Persalinan di Tengah Banjir Bandang, Kisah Mencekam dari Tamiang
”Pak, mohon kali dilihat satu lagi aja bayi kami ni boleh nggak pak sama dokter mohon kali… dari semalam nggak tidur2 pak, bayinya”
Itu isi chat yang masuk ke akun whatsapp Pak Amin Kuat, seorang relawan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) di bagian WASH (water sanitation and hygiene). Pak Amin menunjukkan chat whatsapp itu kepada saya, sambil berbisik, “Dok, bapaknya bayi ini kemarin jadi relawan juga pas bersihin lumpur.”
Maka, bertemulah saya dengan bayi Mahira yang baru berusia 45 hari. Anak ketiga dari pasangan ibu Ririn Marisa dan bapak Tashifun Ridha itu dipeluk erat oleh sang ibu yang berwajah galau. Saat dibaringkan, ia langsung menggeliat. Suhunya normal, dan berdasarkan pemeriksaan fisik tak didapatkan kelainan. Dan ajaib, dengan belaian ringan di dahinya ia langsung mengantuk dan tidur!
“Lanjutkan ASI Eksklusifnya ya, Bu,” pesan saya sambil meresepkan suplemen untuk ibu menyusui.
Namun sepulangnya pasien, saya teringat bahwa dengan usia bayi yang 45 hari, semestinya dia lahir di masa awal bencana. Ini sebuah kisah yang mahal harganya. Maka melalui aplikasi whatsapp, saya minta sang ibu bercerita tentang pengalaman melahirkan di awal banjir lumpur. Ia bersedia. Berikut ini saduran kisahnya.
"Sebenarnya HPL (Hari Perkiraan Lahir) saya adalah 26-27 November 2025. Tetapi di saat itulah puncak air naik. Kami bicara kepada janin, “Nanti dulu lahirnya ya, nak. Kalau banjir udah surut.” Qadarullah, bayi lahir normal pada tgl 3 Desember 2025.
Saat itu air banjir baru saja surut di desa kami. Saat melahirkan, hujan turun deras. Subuh-subuh kami ke Pustu (puskesmas pembantu), satu-satunya pusat layanan kesehatan dan hanya ada satu bidan. Tidak ada listrik, tidak ada air bersih.
Kami tidak punya kendaraan yang berfungsi karena terendam banjir. Bensin juga tidak ada. Kami menumpang kendaraan orang lain yang bersedia untuk mengantar ke Pustu. Saat pulang, sekitar 300 meter dari Pustu ada Posko Brimob. Suami saya minta tolong kepada aparat Brimob tersebut. Akhirnya Brimob yang menjemput ke Pustu dan mengantar kami pulang ke rumah.
Alhamdulillah, Pustu tidak kena banjir, karena lokasinya di perbukitan Desa Payabedi. Tidak ada air, tidak ada listrik, tidak ada bantuan penerangan sama sekali. Obat terbatas. Jika setelah saya yang ditolong tidak ada bantuan obat-obatan, maka pasien melahirkan lainnya tidak bisa dilayani. Pasien keluhan lain pun selalu berdatangan dengan jumlah banyak, terutama pasien yang terinfeksi kena paku, seng, kaca, dsb.
Di rumah kami air sudah surut, tetapi rumah kami masih berlumpur. Hanya 1 ruangan mushala yang kami bersihkan untuk saya istirahat pasca melahirkan. Alas tidur pun saat itu kami tidak punya, karena kasur masih basah, dinding masih berlumpur, lembap. Lantai juga lembap.
Rumah kami rusak berat. Tidak layak huni lagi, dan sampai saat ini belum bisa kami bersihkan karena lumpur tinggi. Alhamdulillah, kami punya rumah nenek di desa sebelah yang saat itu juga kena banjir sampai ke asbes, tetapi masih rusak ringan. Hanya pintu-pintu dan jendela yang lepas, lainnya masih layak ditempati. Makanya, saat banjir turun, kami memilih pulang dan bersihkan rumah nenek. Kami mengungsi bersama 5 keluarga yang lain. Saat itu, kami mengalami keterbatasan makanan dan air bersih.
Berhari-hari tidak mandi, tidak ganti pakaian, karena pas keluar rumah hanya ada baju di badan. Saat air turun, suami dan adik laki-laki saya ke kota untuk mencari makanan. Untuk beli tidak ada toko yang buka. Lagipula tidak punya uang. Pilihan saat itu hanya ikut menjarah took-toko bersama korban banjir lainnya di kota. Dari hasil menjarah itulah untuk kami bertahan hidup, baru bisa minum, ada makanan, Pampers, dll.
Walaupun sempat makan nasi dari beras yg sudah terendam banjir. Lauknya berasal dari mie instan hasil jarah, sama ada makanan Frozen, kayak sosis, nugget hasil jarah itu, walau pun sebenernya sudah ada yg mau basi, karena sebelum banjir pun listrik sudah padam. Hujan angin berhari-hari di Tamiang.
Saat menunggu melahirkan, anak pertama kami mengeluh lapar. Alhamdulillah, ada pekerja Pertamina yang saat itu menunggu dijemput helikopter. Pustu berada di depan lapangan Agra yg bisa menjadi helipad untuk turun helikopter. Mereka (pekerja Pertamina tu, red) yg memberi snack untuk anak saya, memberi senter, dan sejumlah uang yg mereka punya.
Siap melahirkan. Ada bantuan turun dari pesawat tempur. Suami ikut menampung. Alhamdulillah, dapatlah 5 bungkus mie instan. Saat itu, ada bebek-bebek tidak tahu milik siapa berenang-renang di banjir. Kami tangkap, buat kami makan. Ada burung merpati di kota, ditangkap juga untuk lauk makan. Kami makan dengan ubi, makan mangga mentah, juga tebu. Pokoknya, apa saja yang ada, untuk bertahan.
Kemudian di hari keempat melahirkan, Alhamdulillah sudah ada posko relawan kolaborasi di masjid dekat rumah. Di situ dibagi nasi bungkus setiap hari untuk siang dan malam. Dari situ, selanjutnya kami makan sampai 31 Desember. Setelah 31 Desember, mereka tutup donasi nasi bungkus, baru kami mulai masak sendiri dari logistik yang udah kami terima, Pak."
Chat diakhiri dengan permohonan maaf kepada pemilik toko yang barang-barangnya kena jarah. Juga permohonan maaf kepada pemilik bebek dan burung merpati yang terpaksa mereka tangkap dan sembelih untuk bisa mengganjal perut. Apalagi dalam kondisi habis melahirkan.
Keesokan harinya, masuk chat terakhir, mengabarkan bahwa si bayi dalam kondisi sehat dan tidur nyenyak. Alhamdulillah. Semoga Mahira tumbuh menjadi gadis Aceh yang bertakwa dan pemberani.
Hari demi hari terus berjalan. Denyut aktivitas di klinik BSMI tidak berhenti, mengawal kesehatan warga Aceh Tamiang selama masa tanggap darurat bencana.