Kisah Yun Carlis, Kepala IGD Penjaga Denyut Terakhir RSUD di Aceh Tamiang

Kisah Yun Carlis, Kepala IGD Penjaga Denyut Terakhir RSUD di Aceh Tamiang
Kisah Yun Carlis, Kepala IGD Penjaga Denyut Terakhir RSUD di Aceh Tamiang/foto:istimewa

Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Banjir besar meninggalkan lumpur di rumah-rumah warga, merusak jalan penghubung, dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari. Air memang perlahan telah surut, namun bekasnya masih tinggal di dinding rumah, di perabotan yang rusak, dan di wajah-wajah warga yang menyimpan lelah nan panjang. Namun, di tengah kondisi itu, hidup harus tetap berjalan, meski dengan langkah yang tertatih.

Sabili.id datang ke Aceh tidak hanya untuk meliput peristiwa, tetapi juga untuk menyusuri luka yang masih tertinggal di balik bencana panjang ini. Sabili.id turun langsung ke Aceh Tamiang, menemui banyak warga terdampak banjir, mendengar cerita yang tak sempat tersampaikan, dan menyaksikan bagaimana bencana mengubah hidup dalam hitungan jam. Mendapati banyak kisah, dari rumah warga yang tenggelam hingga fasilitas publik yang lumpuh. Duka terasa merata, berat, dan belum benar-benar pulih.

Di salah satu liputan, Sabili.id juga menyambangi RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang. Inilah rumah sakit yang selama ini menjadi tumpuan ribuan warga. Bangunan itu bukan hanya terdampak, tetapi sempat nyaris kehilangan fungsinya pascabanjir. Di sana, Sabili.id bertemu dengan Kepala Ruang IGD RSUD Muda Sedia, Ns. Yun Carlis, S.Kep, MKM.

Kepada Sabili.id, Yun Carlis bercerita, sebagai seseorang yang menyaksikan langsung runtuh dan bangkitnya rumah sakit tempat ia mengabdi. Ia mengingat betul hari itu. Tanggal 6 Desember. Banjir besar tidak hanya merendam rumah-rumah warga, tetapi juga melumpuhkan rumah sakit. RSUD Muda Sedia tenggelam dalam lumpur yang menggunung, membuat layanan kesehatan nyaris berhenti total.

Dokumentasi kondisi RSDU Muda Sedia

Di dalam situasi itu, ia segera menyadari satu hal. Bahwa ketika rumah sakit lumpuh, harapan banyak orang ikut terancam. Namun, ia bercerita bahwa di tengah kekacauan selalu ada orang-orang baik yang datang sebagai pembuka jalan. Bantuan mulai bergerak, koordinasi mulai dijalankan, dan rumah sakit yang sempat terasa “mati” itu pun perlahan menemukan denyutnya kembali.

Yun Carlis sendiri baru bisa tiba di IGD pada sore hari. Kendaraannya rusak berat diterjang banjir. Jarak rumahnya ke rumah sakit sekitar dua belas kilometer. Ia tempuh jarak itu dengan meminjam sepeda motor tetangga. Perjalanan ia yang lalui bermuara pada air mata yang terus menetes karena rasa tak percaya melihat kondisi IGD yang selama ini ia jaga yang kini porak-poranda.

Setibanya di lokasi, pemandangan yang ia temui langsung menusuk dada. IGD sudah setengah dibersihkan oleh para prajurit TNI. Ia tahu, itu bukan kerja spontan. Di baliknya ada koordinasi panjang antara Direktur RSUD Muda Sedia, tim dari RS Adam Malik, dan Kementerian Kesehatan yang menunjuk langsung tim bantuan untuk pemulihan. Di tengah situasi itu, ia bertemu rekannya sendiri, Kepala Laboratorium, yang terpaksa mengungsi di area rumah sakit karena rumahnya ikut terendam banjir. Mereka saling menyapa, menanyakan kabar, lalu menangis bersama.

Tak lama kemudian, ia bertemu Direktur rumah sakit di taman RS. Di dalam hatinya, Yun Carlis beristighfar. Ia merasa ia datang terlambat. Dengan suara pelan, ia meminta maaf karena baru bisa hadir saat itu.

Namun, tak ada kemarahan yang ia terima. Yang ada justru gerak cepat. Ia langsung diperkenalkan dengan tim bantuan dari RS Adam Malik — dua perawat dan dua dokter yang datang membawa lebih dari sekadar peralatan medis.

Ratusan Anak-Anak Terdampak Bencana Ikuti Trauma Healing di Meunasah Balek, Pidie Jaya
Awalnya, kegiatan trauma healing itu ditargetkan hanya untuk 50 anak saja. Namun, di luar perkiraan, antusiasme warga sangat tinggi. Anak-anak datang berbondong-bondong hingga jumlah peserta membludak. Hampir seluruh anak di sekitar Meunasah Balek turut hadir.

Di titik itulah, ia merasakan perasaannya perlahan berubah. Dari putus asa, tumbuh kembali harapan. Senyum kecil terbit ketika ia melihat orang-orang datang untuk membantu, meyakinkannya bahwa RSUD Muda Sedia masih bisa diselamatkan. Mereka lalu bekerja bersama tanpa banyak jeda. Tempat tidur yang tersisa dikumpulkan, ruang seadanya dibersihkan, dan IGD sementara pun dibuka di bagian depan rumah sakit.

Pintu kaca IGD utama telah pecah dihantam derasnya banjir, sehingga akses terdekat ke jalan menjadi pilihan paling memungkinkan. Keputusan itu diambil cepat dan tegas. Bahwa IGD harus tetap hidup, meski dalam kondisi paling minimal. Hari itu, IGD menjadi denyut terakhir rumah sakit.

Ia juga mengingat, bagaimana pada Minggu, 7 Desember, bantuan mulai berdatangan perlahan. Banyak yang ingin hadir sejak hari pertama, namun terhalang air yang belum surut dan lumpur yang menahan kendaraan. Setelah kondisi RSUD Muda Sedia viral, bantuan obat-obatan, tenaga medis, dan relawan non-medis, datang silih berganti. Nama-nama itu ia sebut dengan penuh rasa terima kasih kepada orang-orang yang hadir di saat rumah sakit berada di titik paling rapuh.

Bagi Yun Carlis, semua ini adalah pengingat bahwa mereka pernah berada di titik sehancur ini. Rumah sakit pernah lumpuh, tenaga kesehatan pernah menangis dalam diam, dan harapan sempat terasa begitu jauh. Namun dari reruntuhan itu pula, ia menyaksikan bagaimana harapan dibangun kembali, sedikit demi sedikit, oleh orang-orang yang memilih untuk tetap bertahan.

Liputan Langsung Sabili.id di Aceh: Potret Buram Penanganan Pascabanjir di RSUD Aceh Tamiang
Kondisi fisik RSUD Aceh Tamiang pascabanjir tampak masih sangat memrihatinkan. Lingkungan rumah sakit yang kotor dan rusak menunjukkan, penanganan pascabanjir belum dilakukan maksimal. Dampak dari lambatnya penanganan tersebut dirasakan langsung oleh para pasien.

Kami mengambil kesimpulan bahwa kisah ini adalah pelajaran tentang kemanusiaan. Bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka batin yang tak selalu terlihat. Namun dari tempat-tempat paling gelap, selalu ada cahaya kecil yang menolak padam yang akan hadir dalam bentuk solidaritas, gotong royong, serta keteguhan hati.

Aceh Tamiang mungkin pernah lumpuh. RSUD Muda Sedia mungkin pernah nyaris kehilangan denyutnya. Tetapi dari cerita Yun Carlis, Sabili.id melihat bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali oleh tangan-tangan yang mau bekerja, oleh hati-hati yang tidak menyerah, dan oleh keyakinan bahwa setiap ujian pasti menyisakan jalan pulang.

Dan bahwa selama masih ada orang-orang seperti Yun Carlis dan mereka yang membersamainya, Aceh Tamiang akan segera kembali pulih.

Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.