Sabili.id melakukan peliputan langsung ke Aceh sebagai bagian dari upaya menghadirkan informasi terkait kondisi pascabanjir sebagaimana adanya. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu lokasi yang Sabili.id sambangi. Perhatian khusus tertuju pada situasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, sebagai fasilitas vital yang seharusnya segera dipulihkan pascabencana.
Aceh Tamiang merupakan wilayah yang secara geografis berada di jalur strategis. Ia berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Namun, pascabanjir yang melanda wilayah itu, dampak kerusakan pada fasilitas publik khususnya RSUD belum ditangani secara cepat dan serius. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang kehadiran dan kecepatan respons pemerintah dalam masa pemulihan.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kondisi fisik RSUD Aceh Tamiang tampak sangat memrihatinkan. Sejumlah bagian bangunan terlihat rusak, tidak terawat, dan masih menyisakan jejak banjir. Di beberapa sudut rumah sakit, sisa lumpur masih tampak menempel di lantai dan dinding. Bau lembap bercampur aroma obat-obatan pun memenuhi ruangan. Area rumah sakit tampak kotor, dengan fasilitas yang belum dibersihkan maupun diperbaiki secara menyeluruh, seolah proses pemulihan berjalan setengah hati.
Lingkungan rumah sakit yang kotor dan rusak ini menunjukkan bahwa penanganan pascabanjir belum dilakukan secara maksimal. Tidak ada garis yang jelas antara ruang pemulihan dengan ruang yang seharusnya sudah dibersihkan. Bagi siapa pun yang datang, suasana itu lebih menyerupai tempat yang ditinggalkan, bukan fasilitas yang sedang dipulihkan. Padahal, RSUD merupakan fasilitas strategis yang semestinya menjadi prioritas utama dalam proses rehabilitasi pascabencana.

Dampak dari lambatnya penanganan tersebut dirasakan langsung oleh para pasien. Banyak di antara mereka harus tetap datang ke rumah sakit dalam kondisi bangunan yang belum layak digunakan. Ruang tunggu dan area pelayanan yang tidak nyaman menjadi bagian dari keseharian pasien, menambah beban di tengah kondisi fisik yang sedang lemah. Bagi sebagian warga, RSUD ini adalah satu-satunya tempat bergantung. Tidak ada pilihan lain, tidak ada rujukan cepat, dan tidak ada ruang untuk menunda.
Ibu Tia, ibu hamil yang Sabili.id temui di lokasi, mengungkapkan keresahannya. Di ruang tunggu yang kotor dan lembap, kehamilan yang seharusnya dirawat dengan penuh kehati-hatian justru harus berhadapan dengan ketidakpastian. “Habis banjir, rumah sakit masih seperti ini. Saya tetap harus periksa, tetapi kondisinya bikin khawatir,” tuturnya.
Kondisi RSUD Aceh Tamiang pascabanjir itu juga menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan. Para tenaga kesehatan (nakes) tetap hadir setiap hari, bekerja di tengah keterbatasan, menyadari bahwa kondisi ini bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras batin. Salah seorang nakes menyampaikan bahwa situasi lingkungan kerja yang belum pulih menyulitkan aktivitas sehari-hari. “Kami bekerja di kondisi yang belum sepenuhnya bersih dan aman, tetapi pasien terus datang dan tetap harus kami layani,” katanya.
Apa yang terjadi di RSUD Aceh Tamiang mencerminkan persoalan yang lebih besar dari sekadar kerusakan fisik. Sebuah bentuk tentang gambaran lambatnya eksekusi penanganan pascabanjir oleh pemerintah, terutama pada fasilitas publik yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Di saat warga berusaha bangkit dari bencana, proses pemulihan justru terasa berjalan lambat.

RSUD seharusnya menjadi prioritas dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Namun, kondisi yang masih rusak dan kotor menunjukkan bahwa proses tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Pascabanjir seharusnya menjadi fase pemulihan, tetapi di RSUD Aceh Tamiang, waktu terasa tertahan. Bangunan belum sepenuhnya dibenahi, kebersihan belum menjadi perhatian utama, sementara warga terus berdatangan dengan harapan yang sama akan sekadar merasa aman saat berobat.
Lambatnya penanganan pascabanjir di RSUD Aceh Tamiang menjadi catatan penting tentang bagaimana kebijakan pemulihan dijalankan di tingkat daerah. Di balik bangunan yang rusak dan ruang-ruang yang belum dibenahi, terdapat warga yang masih menunggu kehadiran negara secara nyata. Kita doakan sama-sama semoga segera kembali pulih sepenuhnya.
Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!
