Hati-Hati Hasbara! Utang Sejarah Indonesia kepada Palestina Bukan Hoaks!

Hati-Hati Hasbara! Utang Sejarah Indonesia kepada Palestina Bukan Hoaks!
HatI-Hati Hasbara! Utang Sejarah Indonesia kepada Palestina Bukan Hoaks! / Foto : Istimewa

Belakangan ini ruang publik kembali ramai. Adalah pernyataan kontroversial dari Permadi Arya yang meramaikan diskusi di ruang publik itu. Di dalam sebuah pernyataan yang kemudian viral di media sosial, ia menyebut bahwa anggapan Indonesia memiliki “utang sejarah” kepada Palestina hanyalah hoaks.

Narasi Permadi Arya itu cepat menyebar dan memicu perdebatan panjang. Sebagian orang melihatnya sebagai pernyataan yang merendahkan hubungan historis di antara Indonesia dan Palestina.

Jika kita sedikit menarik napas dan melihat persoalan ini dari sudut yang lebih luas, cara berpikir yang mencoba meruntuhkan simpati publik terhadap Palestina - terutama dengan mempertanyakan dasar sejarahnya - bukanlah sesuatu yang baru. Di dalam kajian komunikasi politik internasional, pola seperti ini sering dikaitkan dengan sebuah strategi propaganda yang dikenal dengan istilah hasbara.

Istilah hasbara berasal dari bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti “penjelasan”. Di dalam praktik politik modern, istilah ini merujuk pada strategi komunikasi yang digunakan oleh Israel dan jaringan pendukungnya untuk membentuk opini publik global agar lebih simpati terhadap narasi mereka.

Hasbara pada dasarnya adalah upaya mengelola persepsi untuk menjelaskan, membela, sekaligus membingkai ulang berbagai isu yang berkaitan dengan Israel di mata dunia. Sehingga, banyak pengamat menyebut hasbara sebagai bentuk perang narasi. Ia tidak bergerak dengan senjata, tetapi dengan opini, framing, dan produksi wacana di ruang publik. Kampanye hasbara dapat muncul melalui media, akademisi, influencer, hingga figur publik yang suaranya dianggap cukup berpengaruh untuk membentuk persepsi masyarakat.

Hasbara, Strategi Propaganda Israel
Hasbara biasanya diterjemahkan sebagai “penjelasan”. Namun, terjemahan itu tak sepenuhnya mencerminkan konsep itu secara tepat. Hasbara punya hubungan dengan diplomasi publik satu dimensi seperti halnya strategi besar terhadap rencana kampanye.

Salah satu pola yang cukup sering muncul dalam narasi semacam ini adalah upaya melemahkan simpati dan solidaritas terhadap Palestina dengan cara mempertanyakan dasar moral atau historis dari solidaritas tersebut. Jika simpati publik terhadap Palestina dapat digoyahkan, maka dukungan politik terhadap perjuangan mereka pun perlahan dapat ikut melemah.

Di Indonesia, solidaritas terhadap Palestina memang memiliki akar yang cukup kuat. Ia tidak hanya lahir dari faktor agama atau empati kemanusiaan, tetapi juga dari kesadaran sejarah yang panjang. Sejak lama, masyarakat Indonesia mengenal kisah bahwa pada masa perjuangan kemerdekaan, tokoh-tokoh dari Palestina ikut memberikan dukungan kepada Republik Indonesia yang saat itu masih sangat rapuh. Karena itulah, ketika muncul narasi yang menyebut bahwa cerita tentang bantuan Palestina kepada Indonesia hanyalah mitos, banyak orang marah. Sebab, kisah tersebut bukan sekadar cerita populer yang beredar tanpa sumber, tetapi asli bagian dari catatan diplomasi Indonesia pada masa revolusi.

Salah satu sumber yang sering dirujuk adalah tulisan Mohammad Zein Hassan, seorang diplomat Indonesia yang aktif dalam perjuangan internasional pada masa revolusi. Di dalam bukunya, “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri”, ia mencatat bahwa dukungan Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia bahkan sudah muncul sebelum Indonesia benar-benar merdeka. Pada 6 September 1944, Mufti Besar Palestina, Amin al-Husseini, bersama sejumlah tokoh Palestina, menyiarkan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia melalui radio berbahasa Arab di Berlin. Siaran tersebut kemudian disebarkan oleh berbagai media Arab, termasuk surat kabar besar semisal Al-Ahram di Mesir, sehingga isu kemerdekaan Indonesia mulai dikenal luas di dunia Arab.

Di dalam catatan Zein Hassan, dukungan itu tidak berhenti pada pernyataan simbolik. Tokoh-tokoh Palestina juga aktif melobi negara-negara Timur Tengah agar memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Upaya tersebut kemudian membantu membuka jalan bagi pengakuan dari berbagai negara Arab semisal Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, hingga Arab Saudi, terhadap Republik Indonesia yang baru berdiri.

Kemerdekaan Palestina Itu “Harga Mati”
Tanah Kanaan sudah didiami oleh rakyat Palestina sejak ratusan tahun lalu. Sudah selayaknya rakyat Palestina hidup dengan tenang dan menatap masa depan dengan rasa aman di tanah air sendiri, tanpa takut kematian tiba-tiba datang. Kemerdekaan Palestina adalah “harga mati”.

Ya, ketika itu Republik Indonesia baru berdiri. Di dalam situasi seperti itu, dukungan internasional menjadi sangat penting agar dunia mengakui keberadaan republik yang baru lahir ini. Karena itu, para pejuang Indonesia tidak hanya bertempur di dalam negeri, tetapi juga bergerak di medan diplomasi internasional. Dan salah satu wilayah yang menjadi pusat pencarian dukungan adalah Timur Tengah. Dari jaringan diplomasi di kawasan inilah kemudian muncul sosok yang jarang dibicarakan dalam buku sejarah sekolah, yakni Mohammad Ali Taher.

Ali Taher adalah seorang saudagar kaya asal Nablus, Palestina. Ia dikenal sebagai pengusaha yang memiliki jaringan luas di dunia Arab, termasuk di kalangan media dan tokoh-tokoh politik. Yang menarik, ia sama sekali bukan orang Indonesia dan tidak memiliki hubungan langsung dengan republik yang sedang berjuang ini. Namun, entah karena solidaritas antikolonial atau empati terhadap bangsa yang sedang dijajah, ia justru menunjukkan simpati yang sangat besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di dalam sejumlah catatan diplomasi, disebutkan bahwa Ali Taher bahkan menawarkan bantuan finansial yang sangat besar untuk membantu perjuangan Indonesia di jalur internasional. Kisah ini muncul ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948 yang menyebabkan Yogyakarta jatuh dan para pemimpin Republik Indonesia, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta, ditangkap. Mendengar kabar tersebut, Ali Taher tanpa ragu membawa Zein Hassan ke Bank Arabia dan menyerahkan seluruh uang yang ia simpan di sana untuk membantu perjuangan Indonesia. Ia bahkan berkata kepada Zein Hassan, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia,” tanpa meminta tanda bukti penerimaan apa pun.

Bantuan Ali Taher tidak berhenti pada dukungan finansial saja. Ali Taher juga memanfaatkan jaringan media yang ia miliki untuk menyebarkan kabar tentang perjuangan Indonesia. Melalui pengaruhnya di dunia Arab, isu kemerdekaan Indonesia mulai dikenal luas di kawasan Timur Tengah. Dukungan moral semacam ini pada masa itu memiliki arti yang sangat besar, karena pengakuan internasional merupakan salah satu faktor penting bagi negara yang baru merdeka.

Akademisi Nilai Palestina Jadi Ajang Uji Coba Pelemahan Hukum Internasional
Dosen Jurnalistik Universitas Padjadjaran, Dr. Maimon Herawati, menilai, Palestina telah jadi “laboratorium” bagi pelemahan hukum internasional. Ia juga menyoroti konflik di Iran, Venezuela, Suriah, dan Palestina, terkait kepentingan strategis Israel dan jaringan Zionis internasional.

Dari kisah-kisah seperti inilah, kemudian lahir kesadaran kolektif di masyarakat Indonesia bahwa hubungan Indonesia dan Palestina bukanlah hubungan yang muncul tiba-tiba karena isu politik saja. Hubungan itu terbentuk dari solidaritas antikolonial yang sudah ada sejak masa perjuangan kemerdekaan. Karena itu, banyak orang Indonesia merasa memiliki semacam “utang sejarah” kepada Palestina. Tidak sesempit arti “utang politik” atau “transaksi diplomatik”, tetapi dalam bentuk memori solidaritas. Di dalam sebuah ingatan bahwa pada suatu masa ketika Indonesia masih sangat lemah, ada orang-orang dari Palestina yang berdiri di belakang perjuangan republik ini.

Ketika kisah tentang hubungan historis Indonesia dan Palestina tiba-tiba dipatahkan dan disebut sebagai hoaks, artinya kita sedang mempertaruhkan memori tentang solidaritas yang selama puluhan tahun hidup di tengah masyarakat Indonesia. Sebab, sejarah akan membentuk cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri, termasuk kepada siapa ia merasa terikat secara moral dan emosional. Di tengah pertarungan narasi global tentang Palestina, upaya meruntuhkan ingatan semacam ini sering kali bukan sesuatu yang kebetulan. Ia menjadi bagian dari strategi melemahkan simpati publik dengan terlebih dahulu memutus hubungan historis yang selama ini menjadi dasar solidaritas.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.