UAS Kepada Santri At-Taqwa : 5 Pelajaran Penting dari K.H. Noer Ali

UAS Kepada Santri At-Taqwa : 5 Pelajaran Penting dari K.H. Noer Ali
Foto UAS di Ponpes At Taqwa / sabili.id

Miladnya ke-67 Perguruan At Taqwa pada Sabtu, 19 Agustus 2023, menghadirkan kemeriahan umat karena acaranya beriringan dengan Peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan Indonesia. Di hari itu, setiap jengkal halaman dan lapangan di depan Masjid Jamie At Taqwa dipadati ribuan jamaah. Ratusan kendaraan pun memenuhi lahan parkir di halaman masjid. Dan suasana pun kian gegap gempita ketika Ustadz Abdul Somad tampil berceramah.

Dua orang MC dari kelas 3 Aliyah At Taqwa membuka acara Milad At Taqwa ke-67 dan Peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan Indonesia tersebut pukul 19.27 WIB. Sebelum UAS tiba di lokasi, acara diisi dengan berbagai lantunan musik. Tepat pukul 21.00 WIB, UAS hadir menyapa jamaah.

UAS memulai ceramah dengan menyatakan, kegiatan yang dilakukan At Taqwa adalah cara yang paling benar dalam mensyukuri hari Kemerdekaan Indonesia. Yaitu dengan berterima kasih kepada para pahlawan yang telah gugur. Bukan dengan berbagai perlombaan dan lain sebagainya.

Menurut UAS, lewat ungkapan terima kasih kepada pahlawan, aca banyak pelajaran yang bisa dipetik. UAS pun mengimbau kepada generasi penerus yang hadir di kesempatan itu, terutama para santri At-Taqwa, agar melanjutkan perjuangan para pahlawan. Khususnya pendiri perguruan At Taqwa, yaitu KH Noer Ali. Utamanya di seputar masalah pendidikan.

Foto UAS di Ponpes At Taqwa / sabili.id

Kata UAS, setidaknya ada lima pelajaran yang dapat dipetik dari KH Noer Ali. Pelajaran pertama adalah, beliau terbang ke Timur Tengah. Saat itu belum ada pesawat apalagi video call. Artinya, ada semangat untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, UAS mendorong alumni At Taqwa untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

Baca Juga : UAS: Indonesia Belum Merdeka dari Lima Hal

Pelajaran kedua dari KH Noer Ali adalah berorganisasi. Yaitu organisasi yang kemudian dapat memerdekakan Indonesia. Adanya organisasi Syarikat Islam, Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, adalah cikal bakal menuju kemerdekaan Indonesia.

“Negara kita membutuhkan orang-orang yang paham organisasi,” ujar UAS.

Pelajaran ketiga adalah, KH Noer Ali tidak menetap di Mekkah atau Madinah, tetapi memilih kembali ke kampung halaman dan berjuang membangun pondok pesantren.

“Artinya, beliau ingin mengatakan ‘gunakan ilmu dan hartamu di jalan Allah supaya kekal’,” jelas UAS.

Pelajaran keempat, beliau terjun ke dalam dunia politik. Beliau masuk ke Partai Masyumi.

“Sebab, jika orang yang tidak baik yang masuk ke parlemen, maka keluar undang-undang yang bertentangan dengan ajaran Islam,” kata UAS.

Pelajaran kelima adalah, KH Noer Ali berjuang angkat senjata melawan penjajah, hingga diberi gelar “Singa Karawang-Bekasi”. Beliau tidak takut mati.

“Bersyukur, beliau hidup dan beranak-cucu di tanah kelahirannya, kemudian mendirikan pesantren ini,” ucap UAS.

Di akhir ceramah, UAS mengimbau kaum muslimin di seluruh Indonesia, agar menggunakan protokol At Taqwa jika mengundang UAS. Sebab, menurut UAS, ia merasa nyaman berceramah di At Taqwa. Salah satunya karena jamaah lelaki tidak bercampur dengan jamaah perempuan. Ketika datang, ia pun dikawal Pramuka, sehingga tidak terlalu capek bersalaman dengan jamaah. Dan UAS pun menutup ceramahnya dengan pantun,

“Menangkap puyuh di kelasih, thank you terima kasih”.
Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.