Bahaya Bermain Roleplay di Aplikasi TikTok

Bahaya Bermain Roleplay di Aplikasi TikTok

Saat ini TikTok telah menjadi salah satu platform media sosial yang paling populer di kalangan generasi muda. Aplikasi TikTok memungkinkan pengguna membuat cuplikan video pendek dengan berbagai topik, semisal tarian, musik, komedi, sampai dengan menjadikan aplikasi itu sebagai sarana untuk mendapatkan Cuan (Keuntungan). Kini, muncul tren “roleplay” di TikTok.

Roleplay dalam aplikasi TikTok adalah seseorang melakoni peran tertentu di luar karakter aslinya. Peran itu disalurkan melalui konten yang dibuat, dari cara bertutur, filter pendukung, cara berpakaian, dan lain-lain.

Namun, ada kekhawatiran yang meningkat tentang bahaya bermain peran (Roleplaying) di TikTok. Roleplaying melibatkan pengguna yang berpura-pura menjadi orang lain dan menjalankan skenario. Meskipun untuk sebagian orang perilaku ini adalah hal yang biasa dan menyenangkan, akan tetapi ada dampak negatif yang timbul ketika seseorang sudah terkena sindrom “TikTok Brain”.

Beberapa ahli kesehatan di bidang psikologi telah sering memperingatkan bahwa TikTok dibangun untuk menimbulkan perilaku aditif, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan kognitif yang berdampak kepada penurunan rentang perhatian. Bagi sebagian pengguna TikTok yang kecanduan, hal itu dapat mengakibatkan kecemasan yang berlebih, hingga mengarah kepada tingkat depresi akut, atau biasa dikenal dengan istilah populernya “TikTok Brain”.

Dampak psikologis dari bermain roleplay.

Belakangan, istilah Roleplaying atau bermain peran di TikTok menjadi buah bibir penggunanya setelah kasus viral seorang anak berusia 11 tahun yang ketahuan oleh orangtuanya ketika sedang mencoba memerankan seorang wanita dewasa. Sontak, orang pun tersadar bahwa Roleplay bisa berdampak negatif bagi pemainnya.

Roleplaying di TikTok dapat memiliki dampak psikologis negatif pada pemain peran dan penonton. Ketika seseorang berpura-pura menjadi orang lain, mereka sering harus mengadopsi kepribadian yang berbeda, yang dapat menyebabkan kebingungan dan masalah terhadap identitas. Dan bukan menjadi hal yang tabu banyak anak sudah terpapar oleh aplikasi TikTok sebelum usianya. Roleplaying juga dapat menyebabkan kecanduan, membuat pengguna menghabiskan waktu yang berlebihan pada aplikasi dan mengabaikan aspek lain dari kehidupan mereka.

Selain itu, roleplaying dapat memiliki dampak negatif pada penonton. Penonton mungkin menjadi berinvestasi emosional dalam permainan peran dan mulai percaya bahwa itu nyata. Ini dapat menyebabkan kebingungan dan kesal ketika mereka menyadari bahwa itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Di dalam beberapa kasus, penonton mungkin menjadi terobsesi dengan permainan peran dan mulai mengganggu pelakonnya. Akibatnya dapat menyebabkan kerusakan psikologis lebih lanjut.

Bahaya dari predator.

Bahaya lain dari roleplaying di TikTok adalah risiko bertemu predator. Predator atau mereka yang memiliki niat jahat dapat menggunakan skenario permainan peran untuk merayu anak-anak muda dan mendapatkan kepercayaan mereka. Mereka mungkin berpura-pura menjadi orang lain, semisal guru atau mentor, dan menggunakan permainan peran untuk menciptakan hubungan dengan anak muda. Ini dapat menyebabkan pertemuan di kehidupan nyata dan bahkan dapat menjurus kepada pelecehan seksual.

Penting bagi anak di bawah usia dewasa atau para remaja untuk menyadari risiko permainan peran dan berhati-hati ketika berinteraksi dengan orang asing di TikTok. Orangtua dan wali juga harus memantau penggunaan aplikasi oleh anak-anak mereka serta berbicara dengan mereka tentang bahaya potensial yang ditimbulkan kelak.

Penyebaran informasi yang salah.

Akhirnya, roleplaying di TikTok dapat berkontribusi pada penyebaran informasi yang salah. Beberapa skenario peran melibatkan pemainnya berpura-pura menjadi tokoh publik atau selebriti dan menyebarkan informasi palsu. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan disinformasi, terutama ketika informasi itu terkait dengan kesehatan atau politik. Penting bagi pengguna untuk memeriksa fakta sebelum membagikannya di TikTok. Juga penting untuk menyadari konsekuensi potensial penyebaran informasi palsu (Hoax).

Kesimpulan.

Sebagai kesimpulan, untuk sementara bermain peran di TikTok dapat menyenangkan yang tidak menimbulkan bahaya bagi sebagian pengguna. Tetapi perlu diwaspadai bahwa suatu saat itu juga bisa berbahaya dan membahayakan. Pengguna harus menyadari dampak psikologis potensial, risiko predator, dan kemungkinan penyebaran informasi yang salah. Penting bagi para pengguna untuk menggunakan aplikasi secara bertanggung jawab. Dan penting bagi orang tua untuk lebih intens memantau anak-anak mereka. Dengan menyadari potensi risiko yang ditimbulkan, pengguna dapat menggunakan aplikasi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.