Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) melakukan kunjungan kemanusiaan ke Aceh Tamiang pada Kamis, 1 Januari 2026. Hal itu sebagai bagian dari respons lanjutan pascabencana yang melanda wilayah tersebut. Kehadiran BSMI tidak hanya fokus terhadap penanganan darurat, tetapi juga pada upaya pemulihan jangka menengah bagi masyarakat terdampak.
Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen BSMI untuk memastikan bahwa proses pemulihan pascabencana berjalan secara berkelanjutan dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat. BSMI menilai bahwa fase pemulihan sering kali menjadi tahapan paling krusial. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat, tetapi juga pendampingan yang konsisten agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Di dalam kunjungan tersebut, tim BSMI meninjau sebuah ruko yang direncanakan akan dibangun menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan dan Rehabilitasi. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi ruang pemulihan medis sekaligus rehabilitasi bagi warga Aceh Tamiang yang masih membutuhkan layanan kesehatan berkelanjutan pascabencana.
Rencana pembangunan pusat layanan kesehatan ini diproyeksikan menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat akses kesehatan masyarakat, khususnya bagi warga yang terdampak langsung dan masih mengalami gangguan kesehatan akibat bencana. Kehadiran pusat pelayanan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan perawatan jangka panjang, sekaligus mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah terdampak.

Selain peninjauan lokasi, BSMI juga mendatangi secara langsung pasien dengan kondisi patah tulang. Di kesempatan itu, Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS turun langsung menemui pasien dengan diagnosis fraktur patella di kediamannya. Dokter Basuki bahkan membawa peralatan medis yang telah disterilisasi, langsung dari Jakarta, untuk memastikan tindakan yang dilakukan tetap memenuhi standar medis.
Langkah ini menunjukkan pendekatan pelayanan kesehatan yang tidak berjarak. Tenaga medis hadir langsung ke rumah pasien. Terutama bagi warga yang memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya BSMI untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan penanganan yang layak, aman, dan manusiawi.
Di dalam keterangannya, dokter Basuki Supartono menyampaikan bahwa kehadiran para dokter di pelosok desa merupakan kehendak Allah. “Allah berkehendak mengirim dokter-dokter ke pelosok desa, ke rumah pasien, siapa yang Allah kehendaki,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, BSMI turut menyalurkan bantuan kebencanaan kepada warga terdampak, sebagai bentuk solidaritas dan dukungan kemanusiaan. Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban masyarakat di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung.

Penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari ikhtiar BSMI untuk terus membersamai masyarakat. Tidak hanya dalam aspek medis, tetapi juga dalam memenuhi kebutuhan dasar yang mendesak pascabencana. Kehadiran relawan di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan dukungan moril sekaligus memperkuat semangat bangkit warga Aceh Tamiang.
Menutup rangkaian kegiatan kemanusiaan ini, Dr. Basuki menyampaikan refleksi mendalam tentang makna kehadiran relawan dan tenaga medis di tengah bencana. “Ketika negeri dilanda bencana, kita datang bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai anak yang datang merawat ibunya,” tuturnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, BSMI menegaskan komitmen untuk terus hadir dan membersamai masyarakat Aceh Tamiang. Tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan, hingga warga dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih layak dan bermartabat. Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!
