Kau tahu, apa yang lebih menyesakkan dari kehilangan?
Yaitu kehilangan kesempatan untuk bisa menyampaikan
hal-hal yang selama ini tersimpan,
tapi tak pernah sempat terucapkan.
Kau tak sempat mengatakannya karena terlalu malu,
atau mungkin memang tak kunjung menemukan waktu.
Sementara sosoknya sudah telanjur pergi,
dengan hanya menyisakan pilu.
Dan kau tahu, apa yang lebih perih dari perpisahan?
Ia tak hanya tentang pertemuan kembali yang entah kapan,
tapi juga tentang rindu yang harus diredam,
meski tak pernah benar-benar hilang.
Perpisahan ... bagaimanapun caranya terjadi,
rasanya tetap saja menyakitkan.
Sebab datangnya tak menunggu hati punya kesiapan.
Ia tak bisa dicegah, dihindari, ataupun dielakkan.
Namun, apa daya, bila Allah telah menakdirkan sebuah perpisahan?
Siap atau tidak, hati tetap harus belajar menghadapinya dengan lapang.
Meski ia membekaskan luka yang sulit hilang,
dan dada diliputi sesak yang tak berkesudahan.
Dalam hidup ini, memang tak semua hadir bisa selalu kau genggam.
Ada yang hanya singgah sebentar, lalu pergi tanpa bisa ditahan..
Sebab temu dan pisah tak pernah lahir dari kebetulan.
Ia sejatinya adalah takdir yang telah Allah gariskan.
Segala sesak itu, pada akhirnya hanya bisa kau dekap sendirian.
Susah payah kau sembunyikan dari semua orang.
Menyimpannya diam-diam, tanpa tahu harus menumpahkan ke mana.
Belajar tersenyum di hadapan dunia yang tak pernah benar-benar bertanya.
"Tak apa,"
ucapmu pada sang hati yang sedang bersedih.
Namun hatimu berbisik lirih,
"Aku ingin menangis ... boleh kah?"
Kau elus hatimu perlahan,
seolah luka bisa reda hanya dengan diyakinkan.
Kau ajari dirimu bertahan,
meski rapuh dan hampir runtuh di dalam.
Kau ajari juga ia untuk mengikhlaskan.
Bukan karena luka itu bisa langsung hilang,
melainkan karena hatimu terlalu lelah menggenggam.
Maka, pelan-pelan akhirnya kau mulai belajar untuk melepaskan.
Orang-orang menang datang dan pergi silih berganti.
Tapi satu hal yang harus kau sadari:
Setiap kau rapuh dan disergap kesedihan tak bertepi,
Allah akan selalu ada, dan tak akan pernah pergi
Dia akan selalu membersamai,
dalam riuh maupun sepi.
People come and go, but Allah stay...
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!