Dua Metode Penentuan Awal Bulan Ramadan dan Syawal

Dua Metode Penentuan Awal Bulan Ramadan dan Syawal
Photo by Benjamin Voros on Unsplash

Setiap kali awal bulan dalam tahun hijriyah ditandai dengan hadirnya bulan baru (new moon) pada fase bulan (moon phase). Telah kita ketahui, pada umumnya ada 2 (dua) metode dalam penentuan awal bulan, yaitu dengan metode rukyatul hilal atau pengamatan bulan (waxing crescent) menggunakan mata telanjang atau dengan alat bantu teropong, dan yang kedua adalah metode hisab (al-hisab al-falaky) atau perhitungan matematika astronomi.

Beberapa negara, dengan masing-masing ijtihad-nya, menggunakan salah satu dari kedua metode tersebut. Di negara kita sendiri, pemerintah mengacu pada metode pertama namun tidak memaksakan jika ada badan atau organisasi Islam yang menggunakan metode kedua. Seperti yang kita ketahui, ormas Muhammadiyah melalui tarjihnya meggunakan metode hisab untuk menentukan bulan baru Hijiriyah.

Tahun ini, PP Muhammadiyah melalui konferensi pers tanggal 20 Januari kemarin, telah mengumumkan bahwa 1 Ramadan 1445 Hijriyah akan terjadi pada Hari Senin, 11 Maret 2024. Waktu tersebut berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode Hisab Wujudul Hilal Hakiki yang tersarikan di Maklumat Nomor 1/MLM/I.0/E/2024. Di dalam maklumat tersebut, hasil ijtimak (munculnya bulan baru) adalah hari Ahad, 10 Maret 2024 pukul 16:07:42 WIB. Tinggi bulan saat Matahari terbenam di Yogyakarta +00° 56` 28″ (hilal sudah wujud).

Lalu kapan mula Ramadan dengan metode rukyatul hilal?

Kriteria yang telah ditetapkan oleh MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) pada tahun 2021 bahwa imkanur rukyah atau bulan dapat terlihat wujudnya dari hasil hisab adalah 3° untuk ketinggian bulan dan 6.4° untuk elongasi (sudut jarak antara bulan dan matahari). Nilai tersebut diambil dari hasil data dan penelitian oleh ahli-ahli astronomi.

Peneliti asal Malaysia, Mohammad Ilyas, pada tahun 1988 mengeluarkan hasil risetnya bahwa ketinggian bulan dapat terlihat dengan mata adalah mendekati 4°. Sedangkan Mohammad Odeh, peneliti asal Yordania, pada tahun 2004 menerbitkan risetnya bahwa minimum elongasi adalah 6.4° untuk bulan baru.

Baca juga: Sa'id bin al-Musayyib Mendoakan Keburukan untuk Penguasa

Kriteria imkanur rukyah ini menjadi patokan dalam memvalidasi hasil pengamatan rukyatul hilal. Jika bulan terlihat namun masih di bawah kriteria tersebut, maka persaksiannya tertolak. Sehingga, hasil perhitungan ketinggian bulan dari Muhammadiyah, dapat dipastikan bahwa pada tanggal 10 Maret 2024 bulan tidak dapat terlihat dengan alat bantu.

Pusat Astronomi Internasional atau IAP (International Astronomical Center) yang berpusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, merupakan pusat kajian astronomi resmi yang salah satu aktivitas utamanya adalah proyek pengamatan bulan baru Islam atau ICOP (Islamic Crescents Observation Project). ICOP telah mengeluarkan hasil hisab mereka untuk bulan baru Ramadhan 1445 H. ICOP menggunakan kriteria Odeh dalam merumuskan hasilnya sebagai berikut;

Untuk tanggal 10 Maret, bulan baru hanya dapat terlihat di daerah Amerika saja, dengan bantuan teropong pada area yang berwarna biru. Untuk area berwarna magenta, bulan baru dapat terlihat dengan mata telanjang jika cuacanya cerah. Sedangkan di area hijau dengan mudah terlihat oleh mata. Warna putih adalah bulan sudah di atas 0°, namun tidak dapat dilihat oleh mata maupun alat bantu. Sebagian Asia, seluruh Eropa dan Afrika berada pada cakupan warna putih ini. Untuk warna merah, bulan mustahil terlihat karena faktor konjungsi toposentris setelah matahari terbenam.

Dari gambar itu, kita dapat membandingkan hasil perhitungan falak Muhammadiyah yang mana selaras dengan perhitungan dari ICOP, di Indonesia bulan sudah wujud (warna putih) kecuali di wilayah Maluku dan Papua (warna merah).

Dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Indonesia kemungkinan besar akan memulai Ramadhan pada hari Selasa, tanggal 12 Maret 2024. Untuk memverifikasi perhitungan tersebut, pengamatan langsung oleh Kementrian Agama akan dilakukan tanggal 10 Maret sore menjelang Magrib.

Baca juga: Pemimpin seperti Kebanyakan Rakyatnya

Bagaimana dengan Bulan Syawal, awal Lebaran?

Dari maklumat PP Muhammadiyah, 1 Syawal jatuh pada tanggal 10 April 2024, karena ketinggian bulan sudah 6° pada tanggal 9 April 2024 di saat magrib. Dari perhitungan ICOP, hari Selasa tanggal 9 April menjelang magrib, hasilnya sebagai berikut:

Indonesia berada pada area biru, yaitu bulan baru akan terlihat dengan bantuan alat bantu teropong. Walau metode rukyatul hilal akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal ini, secara teori dari hasil perhitungan imkanur rukyat ICOP di atas, bulan akan tampak. Dengan demikian, Hari Raya Idul Fitri di Indonesia kemungkinan besar tidak akan ada perbedaan, pada hari Rabu tanggal 10 April 2024.

Sumber-sumber:



Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.