Ida Zuraida, akrab dipanggil Ida, adalah seorang relawan lokal Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Ia sama sekali tak mengira bakal berjumpa lagi dengan ibu gurunya semasa di Madrasah Aliyah. Ironisnya, perjumpaan itu berlangsung dalam suasana haru biru. Yaitu di tengah bencana banjir bandang bercampur lumpur dan gelondongan kayu.
Berawal dari informasi seorang dokter puskesmas. Dari Posko di Pidie Jaya, tim medis Bulan Sabit Merah Indonesia segera mempersiapkan keberangkatan menuju Gampong Seunong, Kecamatan Meurah Dua, setelah mendapat informasi itu. Konon, desa itu belum tersentuh layanan kesehatan sama sekali.
Tim media BSMI itu terdiri dari 3 orang relawati. Yakni dokter Elvira, SpA; Apt. Nori; dan Ida sendiri. Rencananya, pelayanan kesehatan akan diadakan di Meunasah Seunong. Namun, sebelumnya mereka konsolidasi dulu di balai desa. Di balai desa itulah pertemuan terjadi antara seorang murid dengan gurunya. Ketika guru tersebut berstatus pengungsi! Tak perlu waktu lama bagi Ida untuk mengenali Ibu Guru Husni, pengajar Fiqih di MAN Trienggadeng, tempat ia bersekolah dulu. Dan… Bu Husni pun mengenalinya!
Spontan saja mereka berpelukan penuh haru. Pelukan yang erat, seolah tak memedulikan pandangan keheranan dari anggota tim yang lain. Suasana semakin haru tatkala Bu Husni menceritakan bagaimana ia bisa berada di kantor desa itu. Pada hari kejadian, arus deras air lumpur yang membawa serta gelondongan kayu itu menghantam rumahnya tanpa ampun. Kontan rumah tersebut ambruk dan kamar tidur di mana suami Bu Husni ada di dalamnya langsung terbawa air. Lenyap!

Padahal, ketika itu suami Bu Husni baru saja masuk ke dalam kamar tersebut untuk mengambil pakaian. Rumah itu kini hanya tersisa serambi. Suami hilang. Siapa pula yang tak panik!
Beruntung, beberapa waktu kemudian terdengar kabar bahwa suami Bu Husni ditemukan. Suami ditemukan tersangkut dalam keadaan luka parah yang menganga.
Sujud syukurlah Bu Husni di tempat pengungsian itu. Tangis tak dapat lagi ditahan. Ibaratnya, rumah hilang tak mengapa, asalkan belahan jiwa masih bisa bersama.
Setelah proses evakuasi, suami Bu Husni dirawat di rumah sakit guna penyembuhan luka dalam yang ia derita. Sepertinya ia kena gores benda tajam.
Tim medis selanjutnya menuju Meunasah Seunong, karena warga yang akan berobat sudah antre menunggu. Desa yang terletak di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, itu memang belum pernah dikunjungi tim medis. Sementara penyakit infeksi, termasuk penyakit kulit dan diare, sudah mulai merebak di antara masyarakat. Hal ini karena desa tersebut masih dikelilingi lumpur dan kayu gelondongan. Akibatnya air bersih menjadi hal yang langka, makanan terbatas, warga rentan kedinginan, sehingga daya tahan tubuh mereka menurun. Potensial sekali untuk terjadi transmisi virus dan kuman.
Tak heran, dalam sekali sesi pengobatan, stok obat langsung menipis. Ini karena saking banyaknya pasien yang berobat. Tercatat, hampir 200 pasien yang datang. Di dalam kunjungan tim medis, selain pengobatan, juga diberikan makanan siap santap dan keperluan untuk para wanita.
Terima kasih kepada dokter Nurul yang telah memberikan info dan memandu perjalanan tim medis BSMI untuk sampai ke Gampong Seunong ini. Dokter yang bertugas di Puskesmas Meurah Dua itu tak lain adalah adik dari Ibu Guru Husni.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!