KH.Abdul Gaffar Ismail: “Ulama Heroik yang Mengajarkan Cinta”

KH.Abdul Gaffar Ismail: “Ulama Heroik yang Mengajarkan Cinta”
Ilustrasi KH. Abdul Gaffar Ismail oleh Ichsan / Sabili.id

Salah satu tradisi yang sering dilakukan kakek kepada saya adalah menyampaikan sejarah lisan kepada para cucunya. Salah satu tokoh yang sering diceritakan adalah tokoh Masyumi, Buya Gaffar Ismail, Ayahanda Sastrawan Tufiq Ismail.

Buya Gaffar Ismail ulama pejuang heroik nan bersahaja, giat mendamarkan usianya untuk berdakwah. Beliau lahir di Bukit Tingi tahun 1911. Hidup dilingkungan yang kental dengan nilai-nilai Islam dan  perjuangan melawan penjajahan. Itulah yang membuat nuraninya terasah dan berdiri menegakkan kebenaran.

Di usia muda (16 tahun), Abdul Gaffar Ismail sudah menjadi ketua gerakan kepemudaan Pandu Al-Hilal Sumatera Barat. Ketika itu masih duduk di Perguruan Islam Thawalib, Parabek. Namun panggilan jihad kian menggema di dada Gaffar muda. Lalu Bersama adik perempuannya, Rasumah Ismail, mereka aktif di partai politik. Diiringi tiga orang teman seniornya, Mochtar Lutfi, dan Iljas Ja’coub. satunya lagi Djalaluddin Thaib menjadi ketua di Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).

Pidato Gaffar kritis dan tajam pada khalayak. Hingga pemerintah Hindia Belanda merasa gerah dan panas. Belanda mengangap pidato Gaffar Ismail  dan kawan-kawanya berbahaya. Oleh karena itu pada tahun 1932 mereka di tangkap. Mochtar Lutfi, Iljas Ja’coub dan Djalaluddin Thaib di buang ke Digul, Irian Jaya.

Sedangkan Gaffar Ismail di buang ke Pekalongan. Ia tidak diperkenankan lagi tinggal di Minangkabau. Ketika itu usianya 21 tahun dan baru saja menikah. Istrinya, Tinur Muhammad Nur dengan setia mendampingi suaminya, meski masih masa awal perkenalan, dijodohkan oleh gurunya. Pasangan ini dikaruniai tiga orang putra.

Di kota Batik itu Gaffar bersama istrinya, Tinur, mengajarkan agama dalam bentuk pengajian. Ia mengajar tafsir Al-Qur’an dan tasawuf pada jama’ah laki-laki dan perempuan. Sedangkan Tinur mengajar tafsir Al-Qur’an khusus perempuan. Jamaah yang hadir pun ratusan bahkan sampai ribuan. Bukan saja penduduk sekitar melainkan dari Kendal, Tegal, Pemalang, Cirebon, Jakarta, hingga Linggarjati.

Buya Gaffar Ismail mendapat julukan “Haji Agus Salim muda”, karena fasih lidahnya, kaya bahasa dan luas ilmunya. KH. Isa Anshary dalam karya legendarisnya ‘Mujahid Dakwah’, memberikan kesan kepada Gaffar Ismail. Kata Isa, dirinya belum pernah mendengar ada muballigh yang dapat memikat para pendengar seperti Gaffar Ismail. Mungkin lebih piawai dari Haji Agus Salim.

Bila Haji Agus Salim pidatonya hinggap ke otak, menyuruh si pendengar berfikir dan memperkaya pengetahuan. Sedangkan Gaffar Ismail pidatonya menuju jiwa, memberikan kesadaran batin, memperkuat ruh semangat, membawa hadirin berangkat mendekati Ilahi, Taqarrub ilallah.

Dalam pandangan Tamar Djaya yang ditulis pada majalah Daulah Islamiyah edisi Agustus 1957, sosok Buya Gaffar Ismail adalah seorang pemimpin yang tahu persis jiwa masyarakat. Sejak dahulu dia seorang orator yang mahir dan bijak, pandai menyusun kata-kata indah dan menarik.

Ia juga seorang ulama yang mendalami Islam dengan baik, terlebih soal tasawuf dan kerohanian. Tapi juga seorang pejuang yang tidak pernah melupakan arti jihad dalam jiwanya.

Awal tahun 1940-an  Abdul Gaffar Ismail pindah ke Semarang. Menjadi seorang wartawan di harian Sinar Baru. Jabatanya ketika itu sebagai wakil ketua redaksi. Koranya terbit sore. "Jadi kalau beliau pulang sambil membawa koran baru. Kemudian saya melihat ada nama ayah saya," Kenang Taufiq Ismail putra pertamanya.

Apa yang dilihat dari karya Ayahnya sangat membekas dalam diri Taufiq. Sesudah itu iapun lantas rajin menulis dan menulis.  Sejak duduk di kelas 1 hingga 3 Sekolah Rakyat, Taufiq sering menulis gurindam lalu dikirimnya ke redaksi koran Sinar Baru.

Begitu melihat tulisannya dimuat hatinya begitu gembira. Sedangkan sang ibu Tinur, sesekali juga ikut menulis gurindam. Karya-karyanya terpampang dalam majalah wanita kala itu. Bisa dibilang, kehidupan Taufiq sejak kecil memang telah dekat dengan buku, bacaan dan cerita heroik dari Ayahnya.

Perhatian Gaffar terhadap pendidikan anaknya cukup besar. Dikenalkan anaknya pada dunia buku. Setiap bulan dengan dibonceng sepeda, Taufiq dibawa ke sebuah toko buku. Taufiq diberi kesempatan untuk memilih dua buah buku anak-anak. Taufik menjadi terkesan dewasa dalam usianya yang belia.

Kelak, meski mengambil pendidikan menjadi dokter hewan, namun darah menulis yang diperoleh dari kedua orang tuanya mengalir begitu kuat, tumbuhlah Taufiq sebagai seorang Sastrawan. Begitulah cinta Gaffar kepada anak dengan segala cerita-ceritanya.

Saat awal pendudukan tentara Jepang, kondisi bangsa kian sulit, kuku-kuku penjajahan mulai ditancapkan di tanah air. Pergolakan pun terjadi dimana-mana. Situasi global kian memanas perang dunia kedua pun pecah. Hal itu sangat mempengaruhi kondisi di Asia.

Hingga kemudian tibalah saat yang tepat untuk memproklamirkan berdirinya Indonesia Raya, ditengah situasi global sangat genting, Belanda vakum dan kepemimpinan Jepang sedang melemah, momentum itu hadir.

Tepatnya 17 Agustus tahun 1945. Namun perjuangan bukanya semakin mudah tetapi kian berat karena Pemerintah Belanda tidak mengakui kedaulatan Negara Indonesia. Kondisi tersebut membuat Gaffar Ismail sibuk menghadiri rapat-rapat dan beralih dari sidang ke sidang. Dalam kapasitasnya sebagai tokoh Islam saat itu. Gaffar berangkat dari satu kota ke kota yang lain. Seperti ke Solo, Yogyakarta, Bukittingi dan Jakarta.

Salah satu sumbangsih Gaffar Ismail adalah kegigihannya mendorong persatuan umat Islam. Tercapai, pada tahun 1947  lahir partai politik Masyumi. Saat itu seluruh organisasi, partai Islam dan Pesantren menggabungkan diri membentuk partai Masyumi.

Saat Masyumi membubarkan diri. sebahagian para tokoh Ulama dan Intelektual Masyumi mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Ada juga yang kembali dan mendirikan Pesantren.

KH. Sholeh Iskandar bersama tokoh-tokoh Masyumi Bogor dan Sukabumi mendirikan Pesantren Pertanian Darul Falah Bogor. Lalu menghubungi sahabat seperjuanganya yakni Buya Gaffar Ismail untuk mengajar. Belakangan pesantren tersebut menjadi percontohan bagi pesantren di seluruh Indonesia.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.