Menghimpun yang Terserak, Merekat yang Terikat

Menghimpun yang Terserak, Merekat yang Terikat
Photo by Markus Spiske / Unsplash

Tahun 1596  sepuluh ribu orang lebih armada VOC dibawah pimpinan Cornelis de Houtman mendarat di di Banten. Rombongan pertama kafilah dagang Belanda yang menjejakkan kaki di Nusantara itu jumlahnya tinggal separuh dari jumlah yang berangkat dari negeri asal mereka. Hampir separuhnya lagi tewas ditimpa penyakit dan aneka peristiwa lain dalam perjalanan mereka berbulan lamanya.

Siapa sangka rombongan dagang itu kemudian berubah jadi pasukan penjajah yang menduduki nusantara yang begitu luas selama tiga setengah abad lamanya. Satu satu persatu negeri-negeri di Nusantara jatuh ke tangan mereka. Kesultanan Siak, Minangkabau dan Palembang di Sumatera, Banten dan Mataram di Jawa, Kerajaan Gowa di Sulawesi sampai Ternate dan Tidore di Maluku, semuanya berhasil dikangkangi.

Begitu hebat dan kuatkah serdadu penjajah itu sehingga mampu menaklukan berbagai kerajaan dan kesultanan besar di Nusantara?  Jawabnya sudah pasti tidak. Belanda adalah kerajaan kecil di Eropa yang rata-rata penduduknya kelas pekerja dan dipandang sebelah mata oleh sesama penghuni Benua Biru. Berbeda dengan Spanyol yang menguasai bekas wilayah kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia. Terlebih lagi  dengan Perancis dan Inggris yang dikenal sebagai kerajaan besar di Eropa. Di akhir abad 11 M, Raja Inggris , King  Arthur pernah memimpin pasukan Salib Eropa melawan pasukan muslimin di bawah Salahuddin Al Ayyubi dan menelan kekalahan besar. Maka tak heran jika wilayah jajahan Spanyol, Perancis dan Inggris tersebar di berbagai penjuru bumi. Berbeda dengan Belanda yang hanya punya secuil wilayah jajahan. Salah satunya yang paling berharga adalah Hindia Belanda.

Maka menarik di telaah, bagaimana bisa kafilah dagang sebuah negeri kecil bisa menguasai Nusantara yang sedemikian luas dan kaya. Ternyata VOC tidak mengandalkan serdadu yang banyak  untuk menguasai Nusantara. Ada dua strategi utama yang digunakan Belanda. Pertama, Devide et impera, politik pecah belah atau belah bambu. Satu diangkat  dan yang lain di injak. Kedua, menyuap para raja dan pangeran dengan guyuran Gulden dan berbagai hadiah.

Salah satunya saat menaklukan Kesultanan Banten dan menangkap Sultan Ageng Tirtayasa yang tak pernah mau memberi konsesi luas kepada VOC untuk menguasai perdagangan di Banten. Di sisi lain, ada putra mahkota Sultan Haji yang tak sabar ingin segera menjadi Raja. Dengan bujuk rayu dan tipu daya, akhirnya Sang Putra Mahkota berkolaborasi dengan Belanda melawan ayahnya sendiri. Sultan Ageng Tirtayasa  tertangkap dan Sultan Haji naik jadi raja dengan restu Belanda. Sejak saat itu pula Kejayaan Banten mulai meredup.

Simak pula bagaimana Belanda memecah belah Mataram. Kerajaan Islam Jawa yang besar dan kuat itu pecah jadi empat. Berawal dari perebutan kekuasaan antara Paku Buwana IV dengan Pangeran Mangkubumi, Belanda masuk. Daripada ribut-ribut sesama saudara/keluarga lebih baik saling berbagi. Atas Prakarsa Belanda tahun 1755 ditandatanganilah Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram jadi dua. Kasunanan Surakarta dipimpin Paku Buwana IV dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta dipimpin Mangkubumi dengan gelar Hamengku Buwana I. Namun virus perpecahan tak berhenti sampai disini. Raden Mas Said, kerabat Paku Buwana IV lain yang semula bergabung   dengan Mangkubumi kecewa tak kebagian jatah. Ia lantas memberontak kepada Paku Buwana IV. Lagi lagi Belanda turun tangan dengan memberinya kekuasaan dan konsesi di wilayah yang disebut Mangkunegaran. Konflik belum usai. Pangeren Puger di Yogyakarta juga menuntut hak yang sama. Akhirnya paman Mangkubumi alias Hamengku Buwana I itu dapat jatah kekuasaan dan konsesi dengan gelar Paku Alam.

Hal yang sama juga terjadi di Kawasan timur Nusantara. Di Makassar Raja Gowa Sultan Hasanuddin, terus menentang penjajahan Belanda. Kewalahan melawan  Ayam Jantan dari Timur, Belanda menggandeng Arung Palaka. Arung Palaka adalah putra Raja Bone yang sebelumnya ditaklukan oleh Sultan Hasanuddin. Hasilnya adalah perjanjian Bongaya yang mempreteli kekuasaan Sultan Hasanuddin sekaligus memberi konsesi dan kekuasaan luas kepada Belanda.

Dari hasil politik pecah belah itu Belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara yang di Eropa harganya selangit. Maka jadilah Belanda mengeruk kekayaan dari negeri jajahannya. Sebagian kecil kekayaan yang dikeruk itu digunakan untuk menyuap dan memberi hadiah para raja dan pangeran dengan imbalan konsesi dagang yang monopolistic. Hasilnya, negeri kecil itu  berhasil menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya.

Agaknya strategi Belanda itulah yang kini ditiru asing dan aseng dalam menjarah Indonesia. Pecah belah dan suap. Mereka memecah belah internal umat islam, antar umat islam dengan umat lainnya dan antara sesama anak bangsa. Di internal umat islam terjadi jurang yang jauh antara Nahdiyin dan FPI. Padahal Nahdhiyyin dan FPI pimpinan Habib Riziek Shihab(HRS) satu guru, satu ilmu. Sama-sama berfaham Aswaja, beraqidah asy’ariah dan bermazhab Syafi’iyah. Ubudiyah, fiqhiyah dan tampilan keduanya sama, taka da beda. Bedanya Cuma yang satu akrab dengan rezim penguasa, yang satu lagi kritis.

Begitu pula antara kalangan Aswaja dengan kelompok Wahabi/Salafi. Persoalan Qunut, Maulid, Tahlilan dan sejenisnya, yang sejatinya sudah basi dan selesai, terus diangkat ke permukaan. Akibatnya, umat lagi lagi dibuat centang perenang. Padahal, keduanya sama-sama manut sama rezim penguasa. Masih banyak lagi friksi lain yang sengaja ditiup-tiupkan di internal umat islam.

Hal yang sama juga dimunculkan antara sesama anak bangsa. Apalagi di tahun-tahun politik seperti saat ini. Antar anak bangsa dibenturkan satu dengan yang lain secara keras, seakan musuh bebuyutan. Energi dan potensi kita yang demikian besar akhirnya habis sia-sia. Melihat semua realitas diatas, saya teringat ucapan Sayyaf, Rabbani, Hikmatyar, Yunus Kholis, Jalaludin Haqqani saat penulis wawancarai 32 tahun lalu. Saat itu sebagai wartawan Majalah Sabili penulis berkenan mewawancarai para pemimpin mujahidin Afghan dari berbagai faksi tersebut, ditempat yang berbeda pada waktu yang berbeda. Tapi pertanyaannya sama “Ya Syeikh, antum sedang berjuang melawan rezim komunis Kabul dukungan Uni Sovyet untuk meraih kemerdekaan hakiki. Tapi kenapa kalian saling  bertikai dengan sesama?" Anehnya jawaban mereka mirip “ Ya watandar (wartawan dalam Bahasa Pusthu), upaya kami mempersatukan umat tidak sepadan dengan upaya mereka (musuh) mencerai-beraikan”.

Akhirnya, penting kita renungkan Bersama peringatan Allah ﷻ dalam Al Qur’an:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا
”Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara...” – QS. Ali Imran:103
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
“Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” – QS. Al Anfal:46

Maka mari kita sudahi semua carut marut  yang membuat kita centang perenang. Begitu  banyak persamaan kita dibandingkan secuil perbedaan. Masa kini dan ke depan adalah era interrelasi dan kerjasama. Kekayaan khazanah kita beraneka dan berserakan dimana-mana mari kita himpun bak taman yang indah dan persamaan yang selama ini mengikat kita mari kita rekatkan.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.