Mereka yang Berkejaran dengan Kesibukan dan Waktu

Mereka yang Berkejaran dengan Kesibukan dan Waktu
Kereta Commuter Line / sabili.id

Sugianto bangkit dari duduk. Baru saja ia memakai sepatu dan bersiap melanjutkan perjalanan pulang. Di mushalla kecil di stasiun kereta api Tanjung Barat itu, baru saja ia selesai menunaikan ibadah shalat magrib. Dari kantornya di bilangan Jalan TB Simatupang, Ragunan, Jakarta Selatan, stasiun inilah akses yang paling dekat buat dia menunggu kedatangan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line yang akan membawa ia pulang ke rumah di Bogor.

Jam kerja di kantor memang usai di pukul lima sore. Tetapi kemacetan lalu lintas membuat ia kerap tiba di stasiun Tanjung Barat lebih dari setengah jam kemudian. Rasanya agak tanggung jika langsung menaiki moda transportasi, karena tak lama lagi waktu shalat magrib tiba. Maka, sering ia memilih untuk menunggu di stasiun Tanjung Barat itu sejenak guna melaksanakan shalat magrib tepat waktu.

“Kondisi setiap musholla di masing-masing stasiun berbeda-beda. (Mushalla) Di (stasiun) Pasar Minggu bagus, karena besar dan antara perempuan dengan laki-laki dipisah. Cuman agak panas, ya. Pendinginnya kurang,” ujarnya.

Sugianto adalah satu dari banyak orang yang setiap hari menggunakan KRL sebagai moda transportasi. KRL Commuter Line memang merupakan salah satu moda transportasi populer di Jabodetabek. Lebih dari 90 buah stasiun tempat pemberhentian KRL yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah penyangganya. KRL Commuter Line terdiri atas 6 jalur, yaitu Bogor, Cikarang, Rangkasbitung, Tangerang, Tanjung Priok, dan Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta). Hal itulah yang menjadikan KRL Commuter Line dapat menjadi moda transportasi alternatif utama untuk sampai di tujuan.

Baca Juga : Bergesernya Pilar Ibadah Kita

Dahulu, layanan ini dioperasikan dengan nama KRL Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Sejak 1970-an, ratusan ribu orang telah memanfaatkan KRL Jabotabek setiap hari. Ketika tahun 1999 Depok resmi menjadi kota, namanya berubah sedikit menjadi KRL Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Hingga kini, ia masih menjadi moda transportasi pilihan utama Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut. Biaya terjangkau dan akses yang luas menjadikan KRL Commuter Line Jabodetabek selalu ramai oleh konsumen penggunanya.

Dilansir dari akun instagram @commuterline, rata-rata pengguna KRL Commuter Line dari bulan Januari-Juni 2023 pada weekday (Senin-Jumat) adalah 818.943 pengguna. KRL Commuter Line Bogor menempati urutan pertama dengan total 473 perjalanan. Menurut  Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA), total perjalanan Commuter Line Bogor per harinya mencapai 420 perjalanan. Di jam-jam sibuk, yaitu pukul 04:00 hingga 08:00, jadwalnya mencapai 50 perjalanan. Sedangkan pukul 15:00 hingga 20:00 mencapai 52 perjalanan.

Puluhan perjalanan dalam jadwal kereta api itu membawa ribuan bahkan ratusan ribu penumpang setiap hari. Bak lautan manusia yang memadati setiap stasiun di sepanjang jalur sejak Jakarta Kota hingga Bogor, fenomena padatnya penumpang ketika sore hari sudah menjadi hal yang lumrah. Para pekerja yang baru keluar dari kantor, pasar, dan tempat-tempat kerja lainnya yang memenuhi stasiun bagaikan berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat tiba di rumahnya. Kendati demikian, musholla stasiun di waktu magrib dan isya senyatanya tidak sepi. Artinya, banyak di antara pengguna KRL yang peduli akan kewajiban shalat dan berusaha tak melewatkannya.

Yang menarik, posisi mushalla di setiap stasiun kereta ada di tempat strategis, mudah terlihat, dan dikelilingi dengan warung kuliner atau marketplace. Hal itu juga memberi rasa nyaman bagi pengguna KRL untuk melepas penat sembari menunggu waktu shalat dan usai menunaikan shalat. Maka, ketika adzan maghrib berkumandang, mushalla stasiun kereta pun selalu dipenuhi penumpang KRL yang ingin melaksanakan shalat. Dan shalat berjamaah pun selalu harus dilakukan dalam beberapa kali pergantian karena terbatasnya luas tempat shalat.

Bahkan, Mushalla Stasiun Pasar Minggu butuh 3-4 kali bergantian jamaah untuk shalat magrib. Mayoritas jamaah shalat itu adalah mereka yang rumah atau kantornya berada di kawasan Pasar Minggu, Ragunan, Pejaten, dan sekitarnya. Pun dengan dua stasiun di sebelahnya, yaitu Mushola Stasiun Tanjung Barat dan Lenteng Agung. Di dua stasiun itu pun silih berganti pengguna KRL yang jadi jamaah shalat magrib. Salah satunya adalah Sugianto.

Baca Juga : Tidak Ingin Ketinggalan Bus, Bolehkah Menjama’ Sholat?

Senada dengan Sugianto, seorang pengguna KRL lain mengatakan sekarang lebih banyak kemudahan untuk shalat. Pria yang berprofesi sebagai sales itu mengatakan, mushalla kini sudah menjadi bagian dari fasilitas yang harus tersedia di stasiun. Dan hal itu memberikan kemudahan serta kenyamanan buat mereka.

“Sekarang sudah lebih baik. Fasilitasnya sudah cakep-lah, ya. Ke mana-mana sudah gampang cari tempat shalat karena selalu tersedia musholla,” ujarnya.

Bukan hanya penumpang. Petugas Satuan Pengamanan (Satpam) KRL pun selalu menunaikan shalat di mushalla stasiun. Mereka yang bekerja bergantian secara 2 shift, yaitu shift pagi (06:00-14.00) dan shift siang (14:00-22:00), mereka tetap melaksanakan shalat.

“Shalat kan paling lama 15 menit. Makanya kami ganti-gantian. Yang penting, bisa melaksanakan shalat pada waktunya. Shalat kan ibadah dan itu kewajiban,” kata Yadi, salah satu satpam Stasiun Tanjung Barat.

KRL Commuter Line sendiri beroperasi setiap hari mulai pukul 03:00 hingga 23:59 WIB. Namun, tentu saja keberangkatannya tidak merata ke setiap stasiun mulai jam 3 atau kereta terakhir berangkat dari setiap stasiun pada jam 12.

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
Apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu (shalat khauf), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” – QS An Nisa: 103

Ayat itu menunjukkan kewajiban untuk menegakkan shalat sesuai waktunya. Pun dengan dua ayat sebelumnya (QS An Nisa: 101-102) yang menjelaskan bahwa kewajiban shalat tidak hilang, walau pun dalam keadaan safar (perjalanan) atau dalam keadaan bahaya, tetapi diberikan rukhsah (keringanan).

"Shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu juga maka berbaring pada anggota tubuh sebelah.” – HR Bukhari no 1117

Hal itulah yang membuat para penumpang KRL Commuter Line selalu memanfaatkan mushalla stasiun untuk melaksanakan shalat di tengah perjalanan mereka. Sebab, jika telah banyak diberikan keringanan oleh Allah dalam berbagai kondisi, mengapa kita sebagai seorang muslim masih enggan melaksanakan shalat?

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.